Tuhan Selalu Bikin Penasaran Orang, Al-Quran yang Berjalan dan Puisi-Puisi yang tidak Pernah Di Tulis Oleh Tuhan


Puisi adalah barang abstraksi, puisi begitu mahal harganya karena orang tidak mudah menafsirkan apa yang dimaksud dari dalam puisi itu sendiri. Puisi begitu langka, banyak orang yang bisa menulis buku, karya ilmiah, esai, tapi tidak dengan puisi. Kita bisa melihat banyak penulis yang hilir mudik setiap tahun, bermunculan dari hari ke hari, mereka menghipnotis publik. Tapi penyair? sungguhlah absurd dan jarang sekali seseorang bisa mencapai tingkat kemasyhuran dengan label penyair.

Para penyair yang gentleman, hanya satu dua yang muncul di permukaan bumi, Di Indonesia ada Khairil Anwar, dia begitu digdaya dan mempesona hingga sekarang, bahkan mungkin sampai kiamat nanti, syair dan puisi nya akan menjadi pustaka melegenda yang tidak akan sepi dibicarakan orang di Indonesia. Begitu mahalnya sebuah puisi, sehingga hanya segelintir orang yang bisa menikmati keindahan puisi itu sendiri.

Al-Quran-pun sebenarnya merupakan kumpulan syair dan puisi, hanya saja, kita sebagai manusia yang otaknya dangkal penuh dengan harapan-harapan dunia tidak pernah ‘nyampe’ untuk mendapati makna dari narasi-narasi Tuhan itu. Sedangkan puisi yang tidak pernah di tulis oleh Tuhan salah satunya puisi tentang pengenalan diri manusia terhadap Tuhan.

Dalam Sirrul Asrar, mahakarya Syekh Abdul Qodir Jailani, di sana dikatakan, Allah berkata, bahwa Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, maka temukanlah aku. Dalam beberapa paragraf yang lain Tuan Syekh Abdul Qodir juga memperkuat dengan pernyataan bahwa asal muasal mengapa Manusia di ciptakan oleh Allah tiada lain agar mereka mengenal siapa Tuhan yang sebenarnya.

Inilah yang saya maksud dengan puisi-puisi yang tidak pernah ditulis oleh Tuhan, lebih tepatnya tidak diajarkan dalam beberapa lieteratur budaya dan kitab pesantren, Tuhan maha jamil, maha indah, dimana letak keindahannya? sedangkan manusia hanya mendapti keindahan dari pandangan matanya saja, bukan dari ruhani yang timbul dari dalam jiwanya. Manusia hanya mengukur kebahagiaan dari kebendaan dan materi saja. Bila punya uang banyak mereka bahagia, belanja berpesta pora sampai-sampai bingung mau beli apalagi saking bahagianya, sedangkan kebahagiaan sejati berada dalam jiwanya, timbul dari dasar hatinya, itu lah yang disebut dengan Kebahagiaan Ruhani.

Ruhani adalah penggemblengan hati, tidak banyak orang tahu mengenai pergulatan hati, sedangkan di setiap solat kita diajarkan oleh Nabi, “Ya muqollibal qulub” wahai dzat yang suka membolak-balikan hati. jadi, Jadi, hati manusia itu suka berubah-rubah, selalu di bolak-balikan oleh Tuhan, maka kita di ajarkan untuk “tsabit qolbi” mantapkan hatiku duh Gusti, mantapkan kepada agamaMu ya Allah, agar kita tidak berpaling dariNya, dari Tuhan yang menciptakan alam semesta ini.

Mengapa Tuhan tidak menuliskan puisinya? itu karena Tuhan ingin “di Cari”, Dia ingin “ditemui”. Kejarlah Aku kata Tuhan, Carilah Aku. Apabila engkau melangkah satu langkah kepadaKu, Aku akan berlari kepadamu. Itulah Puisi yang tidak pernah ditulis Tuhan. Sebab apabila Tuhan menulis puisi-puisiNya yang maha gaib itu, niscaya semua manusia akan menemukan Tuhan yang sejati. Nilai puisi nya akan hilang dan tidak lagi berharga. Tidak akan ada warna lagi di dunia ini, tidak ada Budha kristen Konghucu atau Hindu yang ada hanya penyembahan muthlak kepada Allah yang maha Esa.

Sebelum Tuhan menciptakan Puisi, jauh-jauh hari Tuhan bertanya kepada manusia, “Siapa Aku?” semua manusia yang masih berupa ruh suci itu menjawab “Engkau adalah Tuhan kami yang patut kami sembah” Maka diberilah ruh-ruh itu sebuah ‘wadah’, berupa jisim, yang dipakai oleh manusia, jisim ini kemudian terlahir ke bumi.

Akan tetapi tidak semua manusia mengetahui puisi-puisi Tuhan yang dulu pernah ditahbiskan. Kalam-kalam ilahi yang maha gaib itu tersembunyi dalam deretan literlak bahasa dan tersusun hanya dalam “bingkai” gramatika kitab-kitab para ulama, tidak ada puisi di sana yang akan kita temukan. Puisi Tuhan tidak akan kita temukan dalam kitab manapun termasuk mushaf al-Quran, ia sungguh tersembunyi, bahkan terhadap Quran saja, kita mengatakan bahwa yang selama ini kita baca adalah al-Quran, padahal itu cuma mushaf, al-Quran yang sesungguhnya berada dalam jiwa-jiwa yang bercahaya. Tidaklah mengherankan ketika ‘Aisyah ditanya oleh seorang badui arab. “Wahai ’Aisyah, bagaimana sesungguhnya prilaku Nabi itu??” ‘Aisyah menangis lalu berkata, sesungguhnya Nabi adalah al-Quran yang berjalan.

What?? al-Quran yang berjalan?? jadi apakah Quran itu bisa jalan-jalan?? jadi yang selama ini kita baca itu bukan al-Quran?? Ya, itu bukan Al Quran, yang kita baca selama ini adalah “mushaf”, sedangkan al Quran yang sesungguhnya berada di dalam jiwa-jiwa suci, menyatu dengan prilaku yang mengikuti kanjeng Nabi. menyatu dengan jiwa-jiwa yang sudah menemukan puisi-puisi yang tidak pernah ditulis oleh Tuhan.

Tuhan sesungguhnya telah berpuisi, tapi saya sendiri tidak bisa menggambarkan bagaimana bentuk puisi itu sendiri, karena setiap orang mempunyai pengalaman yang berbeda-beda tentang puisi ini, semua punya tafsirnya masing-masing. sebab puisi Tuhan begitu global dan melebihi kapasitas alam Internasional. Puisi Tuhan begitu indah, bahkan kata “indah” dan sangat indah sekalipun belum bisa menggambarkan keindahan yang sesungguhnya.

Ibrohim suatu hari mencari makna dari puisi Tuhan, ia mengira Tuhan adalah matahari, ketika matahari terbenam, ia kecewa karena tidak mungkin Tuhan bisa meghilang, lalu ia memproklamasikan bahwa rembulanlah yang sebenarnya Tuhan, tapi di pagi hari ketika bulan tidak muncul, Ibrohim juga kecewa terhadap rembulan, karena ia menghilang, lalu dalam pengembaraan ruhaninya, Ibrohim menemukan cahaya yang terangnya melebihi matahari dan bulan, dan cahaya ini tidak hilang dan tidak pernah padam. Ibrohim, adalah contoh kecil dari betapa susahnya kita menemukan puisi-puisi Tuhan yang tersembunyi dalam tabir ghaib.

Sesungguhnya Tuhan berpuisi, jauh sebelum dunia ini diciptakan, dan semua manusia pernah mendengarnya, tentang pertanyaan Tuhan “Siapa Aku??”. Hanya saja kita tertutupi oleh hijab yang sangat besar, akal dan otak tidak mampu menjangkau narasi dan makna dari puisi Tuhan itu sendiri. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa membaca puisiNya. Jika semua manusia mudah menemukan puisi Tuhan, itu namanya bukan lagi puisi, Sebab sifat Tuhan yang tidak pernah tertulis, salah satunya selalu bikin penasaran orang. (*)  


Comments
0 Comments

0 comentários:

Post a Comment