Mengapa kita tidak kaya? Ini adalah pertanyaan yang banyak orang ingin tahu jawabannya. jika anda belum berhasil menemukan argumen yang baik untuk mengubah diri menjadi "kaya" atau mungkin 5 prinsip orang kaya ini bisa membantu anda.

1. Kita bisa menjadi "kaya" dan "baik" secara bersamaan.
Beberapa orang mungkin memiliki sikap buruk terhadap kekayaan. Kita bukanlah satu-satunya makhluk yang memiliki kekuatan untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Pemikiran selalu ingin kaya, oleh sebagian orang dianggap hanya "bagian", karena dunia masih kaya. Menjadi orang baik itu bagus, untuk membantu orang lain, agar kita menyadari kekayaan tidak pernah diukur oleh harta tapi kebaikan yang dilakukan terhadap dunia ini.

2. Ciptakan "jalan" menuju kekayaan, bukannya "berpikir" ingin kekayaan.
Orang kaya adalah orang yang menciptakan dirinya sendiri. Jika kita berpaling untuk melihat orang-orang sukses dalam hidup. Kita tidak akan pernah melihat siapa pun yang kaya, sesungguhnya kekayaan itu mudah didapat, karena semuanya harus diciptakan dengan "tindakan" bukan hanya pikiran. Jika kita hanya berpikir, tapi tidak bertindak. Anda tidak akan pernah menjadi orang kaya.

3. Orang kaya tidak mengelola uang sendiri. 
Saya memperhatikan itu. Dalam kehidupan sehari-hari. Ada hari-hari di mana kita tidak perlu mengeluarkan banyak uang. Jadi manajemen uang sangatlah penting, orang kaya selalu mempunyai penasihat keuangan, konsultan dan orang-orang yang mengatur belanja mereka. Untuk pengelolaan uang didasarkan pada prinsip-prinsip sederhana seperti wajib menabung sebelum digunakan. Lalu, investasikan secara bertahap apa yang sesuai dengan bisnis kita.

4. Perhatikan "properti" bukan "penghasilan"
Orang kaya akan selalu memikirkan berbagai cara membuat aset keuangan dalam menghasilkan pendapatan dari investasi. Ini bukan hanya tentang menghasilkan uang karena bekerja sendiri.  Jika Anda berhenti bekerja Itu berarti Anda tidak punya cara untuk menghasilkan uang. Jadi jangan sampai salah sasaran. Orang kaya selalu menambah ‘aset’ mereka tidak pernah memikirkan hasil dan keuntungannya berapa.

5. Menyimpan Uang adalah awal dari Kebebasan Finansial
Banyak orang mengatakan lebih sulit menabung. Tetapi awal dari apa yang lebih sulit sebenarnya adalah sikap terhadap kesuksesan semua orang kaya. Jika anda ingin memiliki kebebasan finansial. Temukan lebih banyak pengembalian dan banyak-banyaklah menabung, bukan untuk belanja, tapi membangun aset, berinvestasi dan memperlebar jaringan bisnis, itu akan membuat kita tumbuh dua kali lipat.

Akhirnya, meskipun pikiran kita berubah, sebenarnya hal ini tidak mudah. Tetapi saya yakin 5 prinsip ini tidak akan terlalu sulit jika kita mempunyai tekad untuk merubahnya. Saya berharap ide-ide bagus ini akan membantu semua orang.


Menurut sebuah artikel yang diterbitkan pada 30-Days Muslim Prayer Focus , “Muslim di seluruh dunia sering hidup dalam awan fatalisme dan ketidakpastian tentang masa depan mereka…. Sementara Al-Qur'an juga memberi penekanan besar pada pilihan bebas dan perilaku moral individu dan komunitas, pemikiran dan praktik Islam populer sering sangat fatalistik. ”

Observasi objektifitas di atas adalah tipikal dari jenis informasi yang salah yang disebarkan oleh kalangan tertentu tentang Islam dan Muslim.

Sebelum ada upaya untuk menjelaskan posisi Islam tentang masalah ini, kita perlu memahami apa itu "fatalisme".

Apa itu Fatalisme

The American Heritage Dictionary mendefinisikan fatalisme sebagai "Doktrin bahwa semua peristiwa telah ditentukan oleh takdir dan karenanya tidak dapat diubah." Dan sebuah Filosofi menawarkan definisi lain yang cukup sederhana: Fatalisme adalah "keyakinan bahwa setiap peristiwa pasti akan terjadi dan walau apapun yang terjadi tidak penting apa yang kita lakukan. ”

Fatalisme berbeda dengan determinisme. 

Determinisme mengatakan bahwa setiap peristiwa memiliki sebab yang harus memicu peristiwa tersebut. Dalam konsep determinisme, tidak ada kehendak bebas manusia. Jadi setiap keputusan yang diambil dipandang sebagai hasil alami dan tak terelakkan dari pengaruh seperti kondisi bio-kimia, keinginan, nafsu, dan keadaan eksternal di luar kendali individu.

Tetapi bagi para fatalis, kejadian-kejadian sebelumnya tidak menyebabkan peristiwa-peristiwa yang mengikutinya, juga tidak terjadi peristiwa yang ditakdirkan menurut hukum alam. Peristiwa terjadi karena keputusan Tuhan atau kekuatan supranatural. Dari kedua sudut pandang tersebut, tidak ada pertanyaan tentang seseorang yang bebas memilih tindakan (Paregian).

Tetapi kita tahu bahwa tanggung jawab orang tergantung pada kebebasan memilih dan penilaian moral. Jika manusia tidak memiliki kebebasan kehendak atau pilihan, tidak ada yang pantas mendapat pujian atau disalahkan atas tindakan apa pun; karenanya, semua kode pidana akan menjadi instrumen ketidakadilan!

Dari perspektif logis, gagasan kehendak bebas terkait erat dengan tanggung jawab manusia untuk tindakan moral. Seseorang yang memutuskan untuk melakukan sesuatu seperti latihan pikiran, dan pikiran bukanlah objek fisik atau bagian dari anatomi manusia. Ini adalah fenomena metafisik yang entah bagaimana ada di alam jiwa. Materialis tidak percaya pada keberadaan jiwa atau bahkan pikiran (non-materi), dan karena itu mereka terikat untuk menolak kehendak bebas (Carroll).

Bagi kebanyakan fatalis, peristiwa ditentukan oleh kekuatan buta yang sebelumnya manusia sama sekali tidak berdaya dan tidak memiliki kekuatan memilih. Karena itu, hal-hal buruk terjadi pada orang baik, dan hal-hal baik terjadi pada orang jahat, atau hanya hal-hal yang tidak dapat dijelaskan terjadi. Dalam konteks seperti itu, banyak orang cenderung menjadi fatalistik. Jadi mereka menyalahkan semua kekuatan yang ada di luar kendali dan menolak semua tanggung jawab dan inisiatif. Ini dapat berfungsi sebagai cara untuk menghindari kesalahan atas perilaku tidak bermoral atau sebagai alasan untuk kegagalan, tidak bertindak, atau putus asa.

Dengan cara ini, fatalisme dapat digunakan sebagai alasan oleh banyak orang karena ketidakpedulian mereka terhadap dunia sekitar - perasaan bahwa "hal-hal akan terjadi sebagaimana yang akan terjadi, tidak peduli apa yang saya lakukan." Ini dapat berfungsi sebagai pembenaran untuk penerimaan pasif ketidakadilan dan kejahatan, seperti kekerasan rasis, genosida, tirani, penindasan, dan perang.

Demikian juga, fatalisme dapat menjadi bentuk putus asa: keyakinan bahwa tidak ada yang memiliki makna, tidak ada yang patut diperjuangkan, dan tidak ada yang layak untuk hidup.

Predestinasi dalam Teologi Modern

Dekat dengan fatalisme, ada juga pandangan yang disebut predestinasi. Secara umum, predestinasi berarti keyakinan bahwa Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa telah menentukan semua peristiwa. Menurut The Cults and Religion Website dari University of Calgary, istilah "predestinasi" digunakan dalam teologi Kristen, di mana ia "sering diidentifikasikan dengan pengetahuan awal bahwa Allah yang mengandung arti sebelum penciptaan alam semesta, Tuhan menentukan dan ditakdirkan sebelumnya. semua itu akan terjadi. Dalam arti yang lebih sempit itu menunjuk pada dekrit kekal Allah yang menghormati keselamatan atau kutukan individu. ”

Sepanjang sejarah, para teolog Kristen telah berjuang untuk mendamaikan predestinasi dan kehendak bebas. Salah satu argumennya adalah: Semua ciptaan oleh Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa sempurna seperti yang Dia kehendaki. Tuhan menghendaki konsep bahwa masing-masing dari kita akan memiliki kehendak bebas, kehidupan setelah kematian, dll. Sikap dan konsep Anda akan berubah sesuai kehendak-Nya. Dalam rencana Tuhan, ada tujuan untuk setiap individu dan alasan untuk setiap kejadian, apa pun yang Anda mau, kita akan melihat perubahan di dunia sesuai dengan tujuan dan kesenangan Allah. Perdamaian dan harmoni akan terjadi sesuai dengan jadwal waktu Tuhan, bukan milik kita (Paregian).

The Islamic View

Meskipun pertanyaan tentang nasib dan kehendak bebas telah membingungkan banyak orang selama berabad-abad, Sebenarnya Islam telah memberikan jawaban yang cukup jelas. Hal pertama yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah bahwa konsep-konsep Islam tentang qadaa 'dan qadar  sangat berbeda dari fatalisme, determinisme, dan predestinasi; Namun, ini tidak dipahami oleh kebanyakan orang. Dalam bahasa Arab, kata qadaa ' dan qadar sering digunakan untuk penentuan dan takdir. Kata qada (seperti dari qadaa ' ) sebagai kata kerja berarti memutuskan, menetapkan, atau menilai. Kata qadi sebagai kata benda adalah hakim yang memutuskan masalah antara pihak yang berselisih. Sedangkan kata qadar sebagai kata kerja berarti mengukur, menilai, dan menentukan. Kata ini sering digunakan dalam Al Qur'an.

Dari pandangan Islam, peristiwa dunia terjadi dalam pengetahuan dan kehendak Allah. Karena, kapan, di mana, dan bagaimana peristiwa-peristiwa itu ditetapkan oleh rencana Allah.

Baca ayat-ayat berikut:

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Yunus 10:61)

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (Al-Hadid 57: 22-23)

Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. (Fatir 35:11)

Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Ash-Shura 42:12)

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,
kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini".(Al-Kahf 18: 23-24)

Ayat-ayat di atas berbicara tentang kuasa dan kontrol Allah SWT atas ciptaan-Nya, serta kehendak dan rencana-Nya. Ini adalah salah satu aspek dari qadar -Nya. Ada juga aspek lain dari qadar, yang berkaitan dengan kehendak bebas manusia:

Tentang kebebasan dan tanggung jawab manusia, bacalah ayat-ayat berikut:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar-Rum 30:41)

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (As-Syura 42:30)

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.(An-Nisaa '4: 124)

Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (Al-Kahf 18:29)

Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. (Al-Ahqaf 46:31)

Ayat-ayat di atas berbicara tentang status khusus manusia sebagai makhluk dengan peran dan misi. Kekuatan Allah atas ciptaan-Nya dan pengenalan-Nya atas semua tindakan manusia dan hasil apapun yang manusia perbuat tidak menghalangi status itu. Karena Allah telah memberi kita kebebasan - bukan kebebasan penuh, tetapi kebebasan dalam batas-batas yang Dia tetapkan. Qadaa'  dan  qadar - yang bisa secara longgar diterjemahkan sebagai “keputusan ilahi dan takdir manusia” - termasuk kebebasan dalam jumlah tertentu untuk manusia. Ini adalah bagian dari skema Allah. Kita dapat mengatakan bahwa Allah Yang Maha Kuasa menghendaki bahwa kita harus memiliki kebebasan untuk memilih antara yang baik dan yang buruk, dan untuk mengambil tindakan yang kita putuskan, yaitu sejauh yang diizinkan.

Dari sudut pandang Islam sendiri, kebebasan adalah bagian dari amanah (bahasa Arab untuk "kepercayaan") yang telah diberikan Allah kepada kita. Dan dengan penggunaan yang tepat dari kebebasan itu kita memenuhi syarat untuk menjadi Khulafaa (khalifah) di bumi. Merupakan suatu kehormatan tentunya bahwa Allah telah memberi kita, dengan mana Ia menjadikan kita yang terbaik dari ciptaan-Nya. Dan untuk kehormatan inilah para malaikat diminta untuk membungkuk menghormati manusia pertama, Adam.

Allah yang Maha Kuasa dalam Al-Qur'an juga berkata,

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.(Al-Ra`d 13:11)

Ayat ini dengan jelas mengatakan kepada kita bahwa: Pertama, Allahlah yang mengubah kondisi orang-orang; kedua, orang-orang yang pertama-tama harus melakukan perubahan dalam jiwa mereka sendiri jika mereka ingin kondisi mereka berubah menjadi lebih baik. Artinya, manusia tidak sepenuhnya tak berdaya di dunia ini; sebaliknya, mereka memiliki peran yang jelas dalam membentuk kehidupan mereka. Jadi, keselamatan manusia tidak tergantung pada penyebab di luar kendali mereka, tetapi pada pilihan dan usaha keras mereka sendiri. Itu adalah kehendak-Nya juga.

Dan Allah tahu yang terbaik untuk manusia.
Salah satu konsep yang paling banyak dimanipulasi dalam Islam saat ini adalah konsep Jihad. Al-Quran telah banyak mendefinisikan arti Jihad tetapi sepertinya kata Jihad telah diganti dengan definisi haus darah yang palsu.

Versi Jihad palsu tentunya sangat melanggar banyak ayat Quran dan sedang digunakan oleh berbagai organisasi teroris dalam menyebarkan berbagai aksi teror di seluruh dunia atas nama Islam.

Aksi-aksi teroris ini, yang terjadi di seluruh dunia, adalah pembunuhan tanpa pandang bulu terhadap orang-orang yang tidak bersalah. Mereka melakukan Jihad yang salah kaprah. Pada akhirnya, tindakan kriminal yang dilakukan mereka ini sepenuhnya membuat orang-orang non-muslim di seluruh dunia malah mencitrakan islam dengan pencitraan yang sangat buruk.

Seperti halnya konsep agama apa pun, definisi yang benar hanya dapat berasal dari Kitab Suci dan bukan dari interpretasi atau ajaran manusia. Untuk memahami sepenuhnya konsep Alquran tentang jihad, penting untuk memahami masalah-masalah berikut:

1 - Definisi Quran tentang kata Jihad
2- Apa itu 'Tujauannya Allah’?
3 - Apakah otak yang dicuci pemuda yang meledakkan diri mereka dalam 'bom bunuh diri' benar-benar membuat mereka pergi ke Surga?
4- Apakah konsep 'perang suci' memiliki otorisasi Alquran?

Mari kita uraikan satu persatu

PERTAMA: Definisi Al-Qur'an tentang kata Jihad
Definisi harfiah dari kata Jihad adalah: berjuang untuk mencapai suatu tujuan, sementara definisi Al-Quran tentang kata tersebut adalah: berjuang dengan diri sendiri dan harta seseorang dengan tujuan Allah. Ini definisi yang telah dikonfirmasi di sejumlah ayat al-Quran seperti:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. 49:15

orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. 9:20

Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. 9:88

KEDUA: Tujuannya Allah
Setelah menetapkan bahwa Jihad berarti berjuang dengan diri sendiri dan harta seseorang untuk kepentingan di jalan Allah, perlu kiranya kita memahami konsep  Al-Quran yang dimaksud dengan tujuannya adalah Allah?

Berjuang untuk menegakkan agama dengan tujuan Allah berarti berusaha untuk menegakkan semua perintah Allah dan semua laranganNya. Jihad sesungguhnya tak lain adalah berdakwah dan menjunjung tinggi jalan Allah dan HukumNya.

Apakah Jihad dalam Alquran mendukung kekerasan dan membunuh orang yang tidak bersalah atas nama Islam? Mari kita jawab persoalan ini dengan berkonsultasi melalui sejumlah ayat Al-Quran yang relevan.

1- Pertama, penting untuk selalu sadar akan sebuah prinsip pemberitaan Al-Quran yang menyatakan bahwa Tuhan tidak pernah menganjurkan ebrbuat dosa:

Katakanlah: "Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji". Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? 7:28

2- Al-Quran menyatakan secara kategoris bahwa membunuh jiwa yang tidak bersalah adalah dosa besar :

Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). 6: 151 dan 17:33

Pelarangan pembunuhan terhadap jiwa yang tidak bersalah selalu menjadi hukum Tuhan, dalam Al-Qur'an dan di semua Kitab Suci sebelumnya:

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi. 5:32

3 - Tuhan tidak mengijinkan perang kecuali dalam hal pembelaan diri:

Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka. 4:90

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 8:61

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. 5:87

4- Tuhan memerintahkan bahwa tidak ada paksaan dalam agama:

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 2: 256

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku". 109: 6

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? 10:99

Perintah-perintah dalam ayat di atas sangat jelas. Iman dan agama tidak dapat ditegakkan pada siapa pun tetapi merupakan keputusan sukarela dari setiap orang. Kebenaran ini sekali lagi dikonfirmasi dalam ayat-ayat berikut:

Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.18:29

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.. 88: 21-22

Pesan tidak ada paksaan dalam agama jelas dalam semua ayat di atas.

5 - Al-Qur'an mendukung pengampunan, pengampunan dan toleransi terhadap mereka yang tidak memilih untuk mengikuti Islam:

Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut hari-hari Allah karena Dia akan membalas sesuatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan.45:14

Al-Qur'an mengutuk pembunuhan atau bahkan penganiayaan orang hanya karena mereka memeluk agama yang berbeda. Al-Qur'an mengamanatkan kebebasan beragama mutlak di antara semua orang. Rasa saling menghargai dan saling koeksistensi harus dilakukan dengan agama-agama lain. Al-Qur'an mendesak umat Islam untuk memperlakukan orang-orang seperti itu dengan baik dan adil:

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. 60: 8

Ayat-ayat di atas menetapkan kebenaran yang jelas bahwa Quran melarang semua kekerasan, pembunuhan yang melanggar hukum dan memaksa orang lain masuk Islam.
Kesimpulannya: Pembunuhan orang yang tidak bersalah di seluruh dunia oleh tangan-tangan kelompok teroris adalah pelanggaran terhadap semua ayat yang dikutip di atas.

KETIGA: Apakah orang-orang yang meledakkan diri dalam 'bom bunuh diri' benar-benar masuk ke surga Firdaus?
Bunuh diri adalah keadaan tidak percaya dan kehilangan iman yang dikutuk oleh Tuhan di seluruh Al-Quran. Dalam Al-Qur'an, Allah memerintahkan orang-orang untuk tidak pernah putus asa atau kehilangan harapan.

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". 12:87

Ironisnya, banyak pemuda yang direkrut menjadi salah satu kelompok teroris, benar-benar tercuci otak mereka untuk percaya bahwa setelah meledakkan diri mereka akan mati lalu langsung ke Surga! Pemuda-pemuda culun ini menjadi mangsa mudah bagi para pengkotbah yang bermuatan otif politik, otak mereka benar-benar dicuci dengan perawan-perawan cantik yang sedang menantikan mereka di Firdaus!

Mereka yang membunuh orang yang tidak bersalah atas nama Islam atau atas nama Tuhan, dan yang menganggap diri mereka sebagai jihadis harus berpikir dua kali, sebab tindakan mereka secara kategoris dikutuk oleh Tuhan sesuai ayat-ayat Alquran di bawah ini.

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. 2: 195

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. 4: 29-30

Sesuai dengan semua ayat Alquran yang disajikan, kita dapat menyimpulkan sebagai berikut:

1 - Membunuh jiwa yang tidak bersalah adalah dosa besar di hadapan Allah (6: 151, 17:33).
2 - Bunuh diri dalam bentuk apapun dikutuk oleh Tuhan (4:30).
3- Al-Quran tidak menjanjikan Firdaus kepada mereka yang melakukan bunuh diri tetapi memperingatkan akan siksaan yang besar (4:30).

KEEMPAT: Apakah konsep 'Perang Suci' didukung dalam Al-Qur'an?
Berbagai kelompok teroris menggambarkan Jihad sebagai 'perang suci'. Media di barat sayangnya telah terjebak untuk mengakomodasi atau setidaknya melaporkan penafsiran palsu ini.
Dalam terminologi Al-Quran, frase 'perang suci' tidak ada di mana pun di dalam Kitab. Al-Qur'an mempromosikan perdamaian daripada perang. Kata Islam adalah turunan dari kata 'salam' yang berarti damai.

Pilihan perang diperbolehkan hanya dalam kasus pertahanan diri. Ini berasal dari fakta bahwa Al-Quran menginstruksikan oposisi terhadap agresi dan penindasan. Kapanpun ada kemungkinan untuk menghindari perang, maka itu harus dilakukan.

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).
Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 8: 60-61

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu,
(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, 22: 39-40

Kasus yang dibuat dalam Al Qur'an untuk perang seperti yang terlihat adalah dalam konteks pembelaan diri, melawan seorang penindas atau agresor yang berjuang melawan penindasan atau agresi.

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.2: 190
Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!".4:75

Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!".4: 74-75

Kesimpulannya, cukup jelas bahwa kata Jihad telah dimanipulasi dengan buruk oleh mereka yang memiliki agenda tersembunyi dengan tujuan politik. Mereka bertindak melanggar hukum Al-Quran. Kata 'suci' tidak pernah digunakan dalam Al-Qur'an sehubungan dengan perang. Tidak ada referensi di manapun di dalam Al Qur'an yang menyatakan untuk melakukan 'perang suci'.
Ada saat-saat ketika perang diizinkan, tetapi seperti yang telah kita lihat di semua kata Al-Qur'an, itu hanya diizinkan sebagai praktik pertahanan diri, dan bahkan dalam keadaan seperti itu, itu tidak disebut 'perang suci'. Islam hanya berputar-putar di sekitar konsep perdamaian:

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 8:61

KH. Mahrus Aly sudah 47 tahun membina rumah tangga, disamping membina pesantren dan masyarakat. Semua itu tentu ada motivator yang mendampinginya, selain keuletan pribadinya yang tak kunjung putus asa, yang tak boleh di pandang sebelah mata adalah peran istrinya, Nyai Zaenab. Meski KH. Mahrus Ali bertamperamen keras dan statusnya sebagai suami, namun bila di hadapan sang istri KH. Mahrus selalu menghormatinya. Disamping nyai Zainab merupakan putri dari gurunya, sehingga dalam keadaan apapun keluarga ini selalu terlihat akrab penuh kedamaian.

Tidak heran saat sang istri jatuh sakit, KH. Mahrus Ali merasa prihatin. Lebih-Iebih penyakit yang diderita Ibu Nyai itu adalah tumor kandungan yang berkepanjangan. Selama enam tahun: penyakit itu diendapnya,  kemudian kurang lebih satu tahun sakitnya makin menjadi-jadi hingga sampai di operasi di Rumah Sakit Islam Surabaya.

Senin tepat 11 jumadil Akhir 1405 H/4 Maret 1985 M. Nyai Zainab di panggil sang maha kuasa, dari situlah KH. Mahrus sering sakit-sakitan hingga saat bertemu muka dengan ribuan santrinya dalam acara memberikan ijazah khizib Khirzul-Jausan di serambi masjid tanggal 3 Sya’ban 1405 H./22 April 1985. Di sela-sela fatwanya beliau selalu menyebut-nyebut nama istrinya “Kalau saya diberi umur panjang oleh Allah, semoga saya selalu diberi kesehatan. Kalau tidak, hari Seninlah yang saya harapkan. Sebab, Rasulullah dipanggil Allah pada hari Senin, begitu juga KH. Abdul Karim dan istri saya”. Permintaan Kyai Mahrus itu terkabul, tepat hari Ahad Sore malam Senin, 26 Mei 1985. Seakan-akan dalam pertemuan itu, KH. Mahrus pamit yang terakhir kalinya dengan para santri.

Penyakit yang diderita KH. Mahrus adalah kencing manis, paru-paru dan ginjal. gejala itu dirasakannya sejak minggu malam 12 Mei. Pagi harinya, putra-putranya membawa KH.Mahrus ke dokter dan tidak mengira jika harus di opname selama 3 hari di RS Bayangkara Kediri. karena kesehatannya semakin membaik, beliau minta pulang. Tak disangka pada hari Sabtu 18 Mei sekitar jam 02.00 dini hari, beliau dalam keadaan kritis sehingga Pangdam V Brawijaya mengharap agar Kyai Mahrus bisa dirawat di Surabaya. Keluarga segera mengadakan rapat, kemudian mengabulkan harapan Pangdam itu. Sebab pihak keluarga sadar bahwa Kyai Mahrus bukan lagi milik keluarga melainkan juga milik masyarakat. Apa lagi dalam rapat itu ada keterangan dari dokter bahwa Kyai Mahrus kemungkinan besar masih bisa di sembuhkan. Sabtu sore 18 Mei, Kyai Mahrus (Masih dalam keadaan koma) diterbangkan dari Kediri ke Surabaya dengan helikopter milik TNI AL diantar oleh para putra-putri beliau menuju RS. Dr Sutomo Surabaya. Helikopter ambulan terbesar di Indonesia itu dikirimkan atas restu Pangab Jenderal TNI LB Murdani, yang belum lama (waktu itu) berkunjung ke pesantren Lirboyo.

Meski masih tetap dalam keadaan kritis, Kyai Mahrus yang sudah 6 hari di RS Dr Sutomo sudah mulai sadar, jam 23,00 Kamis sudah bisa ménarik selimut yang melongsor ke bawah. Keadaan ini tentu saja amat menggembirakan dibanding saat Kyai Mahrus pertama kali tiba di RSUD Dr Sutomo. Sebab saat dibawa helikopter, Kyai mahrus sebenarnya masih tak sadar dengan nafas yang tersendat-sendat. Selain tak sadar, tekanan darahnya juga sangat rendah, sekitar 70. Padahal orang normal biasanya mencapai 120. Yang lebib mengkhawatirkan lagi Dr. Chaeruddin (dari juanda), Dr. Askandar Tjokropawiro, Dr. Sutomo dan Dr. Suhanjono Sudjono, yang saat itu merawat beliau dalam perjalanan, ternyata detak jantungnya mencapai 15 per menit. Padahal detak jantung seorang yang normal biasanya 80 per menit.

Sebagai pertolongan pertama, dokter memberi oksigen guna membantu beliau agar mudah bernafas dan memasang infus yang dijalankan dengan cepat. Berkat kerja tim dokter yang terdiri dari Dr. Karijadi Wirjoatmodjo (direktur RSUD Dr. Sutomo), Dr. Askandar Tjokropawiro, Dr. Tomy Suhattono, Dr. Eddy Rahardjo, Dr. Hanindhika dan Dr. Hardiono. Maka, keesokan harinya, masa kritis tersebut berhasil diatasi. Tekanan darahnya bisa dinormalkan kembali. Meski kesadaran beliau belum bisa dipulihkan. Ketidaksadaran Kyai Mahrus menurut Dr. Askandar disebabkan karena komplikasi kencing manisnya ditambah dengan kondsi otak pada usia tua. Sedang nafasnya yang tersengal itu tak lain karena elastisitas paru-paru yang berkurang akibat penyakit paru-paru kronis yang sudah lama diderita Kyai Mahrus. Selain keadaan koma yang disebabkan kencing manisi. Kondisi otak pada usia tua itulah yang sebenarnya menyebabkan pemulihan kesadaran beliau agak terhambat.


Salah satu peralatan yang digunakan untuk membantu Kyai Mahrus adalah kasur air. Kasur tersebut sangat berguna untuk membantu mempertahankan suhu badan sang Kyai. Bila suhu badannya turun, air yang mengaliri kasur itu dipanaskan. Sedang kalau suhu tubuhnya menurun maka air yang ada di dalam kasur itu didinginkan. Air dalam kasur itu mengalir dari satu sisi ke sisi lain, sehingga menimbulkan rasa denyut seperti kesemutan di seluruh tubuh pasien, Pengukuran suhu air dari kasur itu dilakukan melalui alat yang berbentuk kotak, digantungkan di sebuah papan di atas ranjang dimana kasur itu dipasang. Setiap saat, yang diawasi oleh dokter bukan hanya suhu badan Kyai saja. Tetapi juga. kadar gula darahnya, serta beberapa faktor metabolik lainnya. Dengan alat monitor khusus, kadar gula Kyai Mahrus setiap jam diukur. Selain dari darahnya, pengukuran juga dilakukan melalui reduksi air kencingnya yang selama dirawat di tampung dalam tabung plastik khusus.

Agar gula darahnya tetap terkontrol, maka dokter senantiasa menyuntikkan insulin (hormon yang berguna untuk mengatur kadar gula dalam darah). Bukan hanya itu, yang diperhatikan dokter, tekanan darah dan detak jantung sang Kyai tak luput dari pengawasan. Tak sampai di situ, dipasang pula alat pengukur tekanan darah paling modern yang dimiliki RSUD Dr. Sutomo. Dengan alat yang memakai petunjuk sistem digital ini tekanan darah sang Kyai bisa diketahui setiap lima menit sekali, atau bisa juga lebih cepat dan lebih lama dari itu. Sesuai dengan kebutuhan. Karena kerja keras tim dan para perawat yang setia pada tugasnya, maka pada hari rabu sore, 22 Mei. KH. Mahrus sudah mulai bisa membuka matanya. Kesadarannya mulai pulih kembali.

KH. Mahrus Ali pulang ke rahmatullah
Innalillahi wainnailaihi roji’un, tak di sangka jika pada hari Ahad jam l6.35 tanggal 26 Mel 1985 M. atau 16 Ramadlan 1405 H. KH. Mahrus Aly yang terkenang sebagai pahlawan bangsa dan agama itu dipanggil menghadap Allah dalam usia ke 78 di Rumah Sakit Dr. Sutomo Surabaya, setelah delapan hari di rawat di sana. Sebenarnya ada 6 kitab yang akan dibacakan beliau di bulan romadlon 1405 Hijriah itu. Pengumuman 6 kitab itu sudah lama di pampang di papan tulis serambi masjid Pondok Pesantren Lirboyo, yakni kitab Syarah Jauhar Maknun (kitab balaghah yang cukup tinggi di kalangan pesantren), Sulamul Munawaroq (mantek/logika), Lathaiful Isyarah, Nashaikhuddiniyyah, dalailul Khairat, dan Khizbul Jausan Tetapi rencana tinggallah rencana. Sebab, Tuhan jualah yang menentukan. Insha Allah niat /rencana balk itu ditulis dan akan dibalas oleh Allah dengan kebaikan pula, menjelang bulan Ramadlan tiba, kyai Mahrus jatuh sakit, dan setelah sembilan hari dalam keadaan koma (tak sadarkan diri terus menerus), beliau meninggalkan kita, meninggalkan dunia fana, menuju alam abadi di sisi Tuhan nya.