Karomah Abuya Muhtadi Cidahu, Putra Abuya Dimyati

Tags



Beberapa tahun yang lalu, sering saya silaturrahmi ke Cidahu, mengunjungi beberapa teman yang memang sedang mondok di sana. Kemudian berlanjut dengan mengikuti pengajian beliau (Abuya Muhtadi) di Cidahu, bersama bapak-bapak lain yang datang dari berbagai daerah. Dan tentu saja banyak para kiai dan ustadz yang mengikuti pengajian beliau. Sempat saya beberapa kali sowan ke beliau, meminta izin untuk mengikuti pengajian dan ingin diakui sebagai santri beliau.

Kapasitas keilmuan Abuya Muhtadi memang sudah tidak diragukan lagi, ada beberapa santri yang menurut beberapa kiai, konon kabarnya, Abuya Muhtadi ini pernah ditawari oleh raja Salman untuk menjadi Mufti di Arab Saudi, dengan iming-iming gaji perbulannya yang kalau dirupiahkan bisa sekian miliar. Tapi beliau (Abuya Muhtadi) menolaknya dengan halus, alasannya simpel, beliau ingin meneruskan pondok yang ditinggalkan abahnya (Abuya Dim).

Beberapa kiai di Pandeglang juga mengakui apabila tidak ada beliau, maka di Tanah Banten ini akan sepi sekali, “Keueung” Maksudnya Sepi seperti di dalam hutan belantara. Itu Karena Beliau Abuya Muhtadi adalah tokoh Pemimpin yang selalu siap berjuang untuk kepentingan membela negara dan masyarakat sehingga perannya sangat dibutuhkan.

Baik, marilah kita mulai artikel ini dengan beberapa kisah yang saya alami. Entah ini disebut karomah atau tidak, saya tidak tahu. toh saya sendiri tidak bisa menilai ini karomah atau tidak, yang jelas saya pernah mendengar beberapa kisah tentang beberapa karakter dan ragam karomah seperti ini, kisah seperti Mbah Yai Kholil Bangkalan yang tahu sebelum dikasih tahu, tentang beberapa kondisi murid-muridnya sendiri yang jauh dari beliau. Beberapa keanehan atau karomah itu juga pernah saya alami sendiri terutama terhadap Abuya Muhtadi ini. (Sebelumnya saya berharap semoga beliau dan keluarganya ridlo terhadap kisah yang akan saya ceritakan ini, tidak ada niat macem-macem dalam pikiran saya hanya sekedar untuk berbagi saja ke halayak publik).

Cerita ini dimulai ketika pada tahun 2015 tiga tahun yang lalu, saya mulai merehab gedung walet, tadinya gedung itu kosong tak terurus, kebetulan saya mempunyai sedikit rezeki, lalu saya rehab apa adanya. Setelah beres, beberapa bulan kemudian saya ditakdirkan oleh Allah untuk pergi ke Cidahu dan sekalian saja lah saya mau sowan ke beliau. Tidak ada dalam pikiran saya niat macem-macem, toh biasanya hanya sekedar silaturrahmi saja, meminta nasehat beliau lalu minta doa terus pulang.

Anehnya, ketika diawal obrolan itu Abuya nyeletuk begini “Heh dia ja loba waletna..hahaha” Saya terperanjat kaget, betul-betul kaget. Lah kok beliau bisa tahu kalau saya habis merehab gedung walet??. Setelah beres sowan, sekalian saya mampir juga ke asrama santri, ada beberapa kawan yang memang mondok disana, saking penasarannya, saya bertanya ke mereka apakah Abuya Muhtadi pernah singgah ke kampung saya?? Ternyata jawabannya tidak pernah sama sekali, lah kok beliau bisa tahu kalau saya merehab gedung walet?? tahu darimana?? dari situlah saya menyimpulkan bahwa ini merupakan karomah, atau kelebihan yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang sholeh yang sudah ‘dekat’ kepadaNya.

Beberapa teman saya juga ternyata mengalami hal demikian, sebutlah ada salah satu santri di Cidahu, dia begitu menggemari Kiai Qurtubi, salah satu kiai pentolan dari Ormas FPI di wilayah Lebak, setiap hari dia mendengarkan MP3 nya abah H.Qurtubi itu. Tahu sendirilah, bahwa Abuya itu kurang ‘sreg’ terhadap ormas yang satu ini. Nah si santri yang mengidolakan Kiai Qurtubi itu kemudian ingin 'boyong’ keluar dari pesantren Cidahu untuk pindah ke pesantren lain. Ketika dia meminta izin untuk 'boyong’ ke Abuya Muhtadi, tanpa di duga, baru saja salaman, Abuya bilang begini “Ges balik dia kaditu, diamah resepna kana Ki Qurtubi iyeuh (udah kamu pulang sana, kamu mah ngefans nya sama kiai Qurtubi kok)” dan si santri terperanjat kaget. dalam hatinya bertanya-tanya darimana Abuya ini tahu kalau dia nge-fans sama Ki Qurtubi??

Begitulah sekilas cerita pendek yang ingin saya ceritakan, sebenarnya ada banyak kisah menarik dan tidak masuk akal terhadap kelebihan Abuya Muhtadi ini. Tapi sepertinya saya kurang etis kalau diceritakan semuanya disini, toh semua orang punya cerita masing-masing dan pengalaman yang berbeda-beda. Kesimpulannya, beliau bagi saya adalah orang soleh yang hatinya sudah sangat dekat kepada Tuhan, sehingga bagi saya, beliau tidak lagi menjadi sosok guru tapi sekaligus 'orang tua’ karena kegemarannya yang suka 'bercanda’ kepada semua orang dan mengayomi membela kepada siapa saja dlaam kebenaran. Apabila dekat dengan beliau, kita merasakan kenyamanan dan apabila jauh dari abuya, saya merasa rindu. Smeoga beliau diberi kesehatan oleh Allah dan dipanjangkan usianya. Bagi yang belum pernah berkunjung ke Cidahu, sowanlah ke beliau. semoga mendapat limpahan barokahnya.