Jangan Jadi Penulis, Kalau tidak Hobi Membaca, Mukjizat al-Quran, Syair yang Indah dan rahasia Menjadi Penulis

"Jangan menjadi penulis, kalau tidak hobi membaca"

Begitulah pameo yang saya temukan di kliping koran antah berantah beberapa tahun yang lalu. Pada dasarnya semua penulis itu sama, mencontoh tulisan dari para penulis yang hebat-hebat. Manusia sebenarnya hanya ‘Copy Paste’ dari manusia lainnya. Seorang anak yang lahir ke alam dunia tidak akan menjadi seorang dokter atau profesor kalau dia belum melihat potensi dari seorang dokter dan kualitas seorang profesor, sehingga timbul dalam hati anak itu keinginan untuk menjadi-mencontoh orang itu.

Begitu pun menjadi seorang penulis, kita tidak akan bisa menulis dengan baik kalau tidak punya tokoh yang di idolakan dalam dunia literasi. Dalam beberapa hari, bahkan berbulan-bulan, saya merasakan kekosongan dalam diri saya, mengapa dan mengapa saya tidak bisa menulis lagi?? bahkan beberapa ide sepertinya tidak muncul dalam kepala saya, ada hasrat untuk menulis tapi tidak bisa, akhirnya pada suatu kesempatan, saya terngat pameo di atas, “Jangan jadi penulis kalau tidak hobi membaca”.

Penyakit yang saya derita selama ini, karena kurangnya membaca buku, saya lebih suka bermain-main di ‘luar’, hampir setiap hari menghabiskan waktu, tapi tidak dengan membaca buku. Padahal buku-lah yang sebenarnya patut dijadikan teman dan guru sejati dalam hidup. Dalam al-Quran perintah pertama yang turun kepada baginda Nabi adalah “Iqro” “bacalah” bacalah alam semesta ini, agar engkau mampu melihat siapa yang menciptakannya, bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan makhluk. bacalah al-Quran agar engkau mampu melihat keindahan di dalamnya.

Akhir-akhir ini, banyak orang suka melontarkan kata-kata “ekstrim” mengkopar-kapirkan sesama muslim, kata mereka itu bahasa dari al Quran. Padahal mereka jarang membaca al Quran. Sedangkan al Quran banyak berbicara tentang sejarah para Nabi dan syair-syair yang indah. kalau kita membaca surat yasin pada umpamanya, itu semua ayat kata terakhirnya kalau ‘in’ itu semuanya ‘in’. yasi(in) wal Quran nil hak(im). Innaka laminal mursal(in), ’ala shirotil mustaq(im). Bukankah indah gramatika Al Quran itu?? makanya disebut Mukjizat, syairnya yang indah juga berkhasiat bagi pembacanya.

Kalau anda orang arab pasti faham bahasa arab yang indah itu seperti apa. Muslim Indonesia tentu saja pemahaman syairnya tentang arab amat berbeda dengan muslim arab, tapi dari sana kita bisa mengetahui betapa indah sebenarnya bahasa al Quran, maka para penyair arab kala itu begitu geram, marah kepada Nabi Muhammad karena al Quran yang keluar dari mulut nabi begitu indah sehingga tidak ada dari mereka satupun yang menandinginnya.

Al-Quran mengatakan bacalah, sehingga dari membaca kita akan rajin menulis, maka ketika saya sudah tidak mampu lagi menelurkan ide-ide segar dalam menulis buku atau menulis artikel, dari sana saya bertanya-tanya “mengapa aku begini?” maka jawabannya karena aku tidak lagi banyak membaca. Maka aku harus banyak membaca mulai dari sekarang.
Buku yang saya beli akhir-akhir ini
Beberapa hari yang lalu, di sebuah aplikasi online, kebetulan sekali saya mendapat promosi voucher belanja (maklum menjelang lebaran), sehingga saya akhir-akhir ini banyak membeli buku-buku cukup murah yang paling bagus. Ada banyak sekali. Memang tidak semuanya bisa saya baca, kuwalitas membaca saya sangat jelek, kawan-kawan saya (para penulis) membaca buku bisa hatam 3 hari sekali, itu karena “membaca” sudah menjadi semacam hobi bagi mereka, tapi saya sendiri hanya mampu menghatamkan beberapa buku saja dalam setahun, itu pun (buku-buku yang saya beli) lebih banyak terbengkalai di lemari, sebagian hanya saya baca daftar isi nya saja, sebagian saya baca hanya halaman awal saja dan beberapa lembaran-lembaran yang saya butuhkan saja, jadi tidak sepenuhnya benar-benar menghatamkan buku.

Meskipun tidak semuanya saya hatamkan, setidaknya kehadiran buku-buku yang saya beli itu bisa sedikit melecut semangat saya untuk kembali menulis artkel, dan inilah artikel yang lahir (kembali) sesudah sekian lamanya saya ‘bertapa’ dari keriuhan artikel-atikel yang berlalu lalang di Internet. Wel.. jangan jadi penulis, kalau tidak hobi membaca, menulislah lalu membaca lagi, membaca lagi dan lagi, lalu menulis lagi. Inilah rahasia yang saya maksudkan, menulis itu gampang asalkan kita rajin dan mau membaca. (*)
Share: