January 16, 2018

Kitab Risalah Annawawiyyah, Catatan KH.Otong Nawawi Ciandur

Tags

Baca Juga

Abah Otong Bersama Gusdur

Kitab Risalah Annawawiyyah, Catatan KH.Otong Nawawi Ciandur

Penerjemah: Asep Bahtiar

Sekapur sirih Dari Penerjemah
Sewaktu masih kecil, saya bermimpi untuk membuat buku profil KH.Otong Nawawi. Akan tetapi karena terlalu banyak kesibukan akhirnya mimpi tersebut hanya menjadi impian semata. Kebetulan suatu hari saya melihat sebuah buku catatan penting yang ditulis langsung oleh Abah Otong, buku tersebut berbahasa arab yang menjelaskan catatan bersejarah dari tahun lahir Abah Otong dan tahun lahir putra-putri beliau.

Sebenarnya, ada banyak cerita yang saya dapatkan dari para alumni. kabarnya, apabila Abah Otong meminta hajat kepada Allah, esoknya akan datang sebuah mobil sedan putih lalu beberapa orang keluar membawa koper, si tamu tersebut mengatakan kepada Abah otong, apabila masih kurang, abah tinggal minta lagi dan hal tersebut disaksikan oleh para santri yang sedang mengaji di dalam mesjid.

Pernah suatu ketika, Abah otong akan memulai pengajian dzuhur, ketika membuka kitab ternyata di dalam kitab sudah ada sepucuk surat dari Abuya Dimyati Cidahu yang mengundang Abah Otong untuk mensholatkan jenazah istrinya. Abah Otong bertanya kepada para santri siapa yang mengirim surat ini hingga terselip di dalam kitabnya? para santri hanya menggelengkan kepala. Kemudian Abah Otong mengerti bahwa Abuya Dimyati sendiri lah yang mengirim surat tersebut dengan karomahnya yang luar biasa.

Abah Otong mengingatkan para santri “Urang mah ulah hayang doang kiyeu (Mengirim surat langsung tanpa perantara, sebuah karomah wali -red) urang mah mentana ka Allah hayang bisa ngaji bae” Setelah itu berangkatlah Abah Otong bersama para santri ke Cidahu.

Banyak sebenarnya kisah menarik dan suri tauladan yang perlu dicatat dan dibukukan. Sebab kata al-Habib Luthfi Bin Yahya, Bangsa kita sudah kehilangan karakternya karena banyak melupakan sejarah, cerita dan perjuangan nenek moyang tidak pernah diceritakan kepada anak cucu lalu menghilang begitu saja. Kita juga perlu meneladani para kakek dan datuk kita agar kelak generasi setelah kita dapat mengetahui sejarah dan mengambil pelajaran dari mereka.

Dikatakan bahwa termasuk tanda anak soleh adalah berbakti kepada orang tua dan meneruskan perjuangan orang tuanya. Tentunya saya mengharapkan para pembaca agar bisa mengkoreksi isi tulisan ini apabila menemukan kesalahan dan kekeliruan. Semoga terjemah Kitab Risalah An-Nawawiyyah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin

Asep Bahtiar
Ciandur 16 Januari 2018


Tulisan Abah otong Kitab Risalah An-Nawawiyyah

(Isi Kitab Risalah Annawawiyyah)


Bismillahirohmanirrohim
Segala puji bagi Allah yang tidak akan merubah prilaku hambanya akan tetapi hanya membolak-balikan hati hambanya. Dikatakan sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu perkara dalam suatu kaum sampai kaum tersebut mau merubah dirinya sendiri.

Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah yang maha tinggi dan maha agung. Saya bersaksi bahwa Muhammad Saw merupakan manusia yang memiliki prilaku yang bagus dan indah.

Sholawat serta salam semoga terus tercurah kepada baginda sayyidina Muhammad Saw yang terpilih dan terbaik, dan kepada keluarga dan sohabatnya yang memiliki amal sholeh yang bagus dan kepada para tabi’in sampai yaumil mahsyar.

***
Ini adalah risalah mengenai sejarah dan riwayat Annawawiyyah yang menjelaskan tentang profil Muhammad Nawawi Bin Ashlah. Seorang hamba yang dloif yang selalu merasa hina. Seorang Khodim Pondok Pesantren Thoriqotul Huda Ciandur, ayah dari Muhammad Fayumi.

Ini adalah kitab yang dikarang oleh Muhammad Otong Nawawi al-Ashlahiyyah, yang di dalamnya menjelaskan riwayat dari waktu lahir sampai dewasa, dari waktu mulai belajar dan mengajar sampai meninggal dunia.

Kitab ini dikarang dalam waktu dan tempat yang berbeda-beda. Di mulai pada malam selasa tanggal 5 dzul hijjah 1371 Hijriah. Bertepatan dengan tanggal 26 Agustus 1952 Masehi. Dengan mengharap pertolongan Allah, saya berharap kepada yang membaca kitab risalah ini agar bisa mengambil manfaat, diampuni semua dosa dan kesalahannya. Karena sesungguhnya manusia adalah tempat salah dan lupa.

Semoga Allah menutupi Aib dan cela seseorang, sebab tidak ada manusia yang makshum (bebas dari dosa) dan kesalahan.

Demi Allah saya meminta pertolongan dalam tingkahlaku saya, dan hanya kepada Allah saja saya berharap, karena Allah adalah dzat Hasby wa ni’mal wakil.

Amma ba’du


***
Saya bernama Muhammad Nawawi (dikenal dengan sebutan H.Otong Nawawi)
Saya  lahir hari Jumat pada tanggal 7 bulan Muharrom tahun 1344 Hijriah atau Tahun 1925 Masehi.

Nasab saya adalah Muhammad Nawawi Bin Aslah bin Wasijan dari desa Sodong bin Asob bin Baedlowi bin Alingan dari Menes bin Syekh 'Ajib Sangkan Kananga Menes bin Syekh Dawud Cigondang Labuan bin Syekh Sohib Jasinga. Itu dari jalur ayah saya.

Sedangkan dari jalur ibu. H.Muhammad Nawawi binti Hj.Khodijah binti H.Sanaka Kampung Manunjang Saketi.

Sedangkan dari jalur nenek saya adalah Muhammad Nawawi Bin H.Aslah binti Nyai Waqi’ binti Jamil bin Mas Lurah Durma bin Mas Lurah Tinggal bin Mas Lurah Birrul Walidain bin Mas Pangeran Syaja bin Pangeran Eneng bin Pangeran Yuda bin Pangeran Jamil Mangkubumi bin Maulana Hasanudin bin Syarif Hidayatullah Cirebon.

***
Ketika ayah saya meninggal dunia pada hari jumat jam satu waktu dzuhur tanggal 10 jumadil awal 1344 Hijriah. Waktu itu umur saya berusia 5 bulan. Ayah saya meninggalkan 6 anak. empat perempuan dan dua laki-laki. Pertama Nyai 'Aisyah biasa dipanggil Nyai Enong, Ke dua Nyai Eneng, Ke tiga Nyai Hafsah biasa dipanggil Nyai Enjen, Ke Empat adalah saya Muhammad Otong Nawawi. Itu semua dari satu ibu bernama Nyai Hj. Khodijah dari kampung Manunjang.

Sedangkan yang kelima adalah H.Emed yang ke enam Nyai Enjan. Keduanya (Anak nomer lima dan enam) berasal dari satu ibu bernama Nyai Zainab dari kampung Cimerak. Jadi ayah saya mempunyai dua istri. 

***

Saya masuk Sekolah Belanda tahun 1 Agustus 1935 M. Kemudian berhenti tanggal 17 Juli 1927 M. Kemudian masuk kembali ke sekolah tanggal 11 agustus 1937 dan tamat tanggal 20 juli tahun 1939 M

Pada tahun yang sama untuk pertama kalinya saya mondok ke pesantren Rocek Cimanuk berguru kepada kiai Hasan Mushtofa. Di sana saya mondok selama kurang lebih 3 tahun.

Pada tahun 1941 M. Saya berguru kepada Ajengan Kiai Sobari dari Kaducekek, beliau merupakan putra dari Syekh al 'alim al 'alamah Ajengan Syekh Juanidi As-Syajahi dari Cianjur Jawabarat. Guru saya Kiai Sobari itu bermukim di Kaducekek dan saya mondok disana selama kurang lebih 3 tahun

Ketika mondok di Kaducekek (di pesantren kiai Sobari). Saya menikah dengan Siti Solhah binti Kiai Muhammad Sirodj Kadugadung Tanggal 19 Bulan Rajab hari jumat tahun 1364/29 juli 1945 M. Saat itu pernikahan kami berlangsung jam 10 pagi sebelum solat jumat

Dengan doa orang tua, mertua dan guru. Saya berangkat lagi untuk mondok ke Kadulisung berguru kepada Syekh Ahmad Cikawung. Tak selang berapa lama saya pulang dan mukim
di kampung istri saya di Kadugadung. Pada Hari Minggu tanggal 3 Dzul Qo’dah 1365 H. Saya mengajar di madrasah Kadugadung.

***
3 Tahun berselang, Tanggal 28 Sofar 1368/1948 M Saat saya berada di Kadugadung, pada waktu itu tentara Belanda tiba-tiba masuk ke rumah istri saya Siti Solhah binti Muhammad Sirodj untuk membuat keributan dan melakukan kerusakan kepada keluarga istri saya. Sehingga kami pindah ke Saketi meminta perlindungan kepada beberapa kerabat. Tahun itu adalah tahun penuh fitnah dan mushibah. Kaum muslimin banyak yang ditindas dan terjadi saling bunuh membunuh setiap hari. Saudara saya H.Zakariya juga terbunuh oleh seorang muslim yang fasik (antek Belanda)

***
Saat saya menikah dengan Siti Solhah binti H.Muhammad Sirodj. kami dikaruniai seorang putra bernama Muhammad Fayumi, semoga Allah merahmatinya. Fayumi lahir malam Jumat di Desa Kadugadung tanggal 7 syawal jam 3 waktu sahur. Tahun 1368 Hijriah bertepatan dengan tanggal 29 Juli 1949 M. (3 Bulan setelah lahir, Fayumi meningal dunia tanggal 7 Muharram 1369H/ 30 oktober 1949 M)

Beberapa hari setelah melahirkan Muhammad Fayumi, Istri saya Siti Solhah meninggal dunia pada hari Kamis (perkiraan meninggal) tanggal 15/16 Dzul Qo'dah tahun 1368 H/9 September 1949 M. Jam 4 waktu Ashar

Setelah siti solhah meninggal dunia, saya menikah lagi dengan nyai Siti Mansuroh binti H.Abdul Qodir, cucu dari Haji Muhammad Sirodj tanggal 12 Dzul qodah / 5 januari 1950 M di Desa Kadugadung

***
Setelah menikah dengan Siti mansuroh, saya mondok lagi ke Gentur Cianjur tanggal 7 Robiul awal hari kamis 1369 H/ 12 Januari 1950 M. Dua bulan kemudian, dengan ridlo dan doa para guru, saya keluar dari Gentur Cianjur tanggal 23 Sya’ban 1369H/1950M

Karena urusan ekonomi, Tanggal 14 syawal hari sabtu 1369 H/29 juli Tahun 1950 M. Saya berdagang ke Pulau Sumatera. Ketika akan berangkat ke sumatera saya melakukan talak ta'liq kepada istri saya Siti Mansuroh binti H.Abdul Qodir Kadugadung tanggal 14 syawal hari sabtu tahun 1369H/29 juli 1950 M.

Di dalam ta'liq tersebut saya mengatakan “Kalau saya tidak datang kepada Siti Mansuroh tanggal 10 dzul qodah tahun 1369 dari Sumatera, maka jatuhlah talak saya kepada istri saya yang bernama Siti Mansuroh binti H Abdul Qodir dengan satu kali talak”

Pada waktu itu saya datang dari Sumatera tanggal  15 dzul Qo'dah (lewat 5 hari dari jatuh tempo talak) maka jatuhlah talak tersebut dan saya kemudian menetap di Ciandur.

***
Pada tanggal 21 dzul qo’dah tahun 1369 M. atau Hari Ahad tanggal 2 September 1950 M. Dengan hanya mengandalkan pertolongan Allah saya mulai mengajar anak-anak kecil di Ciandur

Pada tahun 1950 M. Saya menikah dengan Nyai Encuk Binti Hasan tepatnya tanggal 12 robiul awwal hari jumat jam 10 sebelum solat jumat / tanggal 22 desember 1950 M di Desa Bulakan Sodong. Dari Pernikahan saya dengan Nyai Encuk lahir 9 Putra-putri.

1. Siti Roudloh Ashlah
Lahir malam Sabtu (waktu sahur) tanggal 10 Rajab tahun 1371 H/ 5 April 1952 M

2. Humaedi Bin Muhammad Nawawi
Lahir tangal 7 Muharrom malam Rabu (jam sebelas malam) tahun 1373 H/16 september 1953

3. Ahmad Haitami
Lahir malam sabtu jam 4 waktu subuh tanggal 22 Muharrom 1375 /10 September 1955 M

4. Siti Fauzah
Lahir hari minggu tanggal 18 Dzul Qokdah tahun 1376 (jam 8 Waktu Dluha) tanggal 16 juni 1957M Ketika itu saya sedang ke Mekkah untuk menunaikan Ibadah Haji. Pada waktu saya ke Mekkah berangkat tanggal 15 dzul qo’dah 1376 H atau 13 Juni 1957 M

5. Muhammad Ahcdlori
Lahir hari kamis jam 6 pagi tanggal 3 Muharram 1379H / 9Juli 1959 M

6. Siti Muslihah
 Lahir Malam selasa  jam 5 subuh tanggal 17 Dzulqo’dah 1380 H/ 2 mei 1961 M

7. Ahmad Ambari Ashlah
Lahir malam rabu jam 11 Tanggal 23 Sofar tahun 1382 H atau 25 juli 1962

8. Siti Buraidah
Lahir hari jumat jam 11 sebelum solat jumat tangal 27 robiul akhir 1384 / 4 September 1964 M

9. Abdul Fakih Fuadi
Lahir hari jumat jam 8 waktu dluha Tanggal 8 Muharom 1386 H atau tanggal 29 april 1966 M.


Wallahu A'lam Bis Showab*


*Hanya sampai di sini catatan Abah Otong 



Bagan Nasab Putra-Putri Abah Otong
Teruntuk Ruh Abah Otong, Al-fatihah....... 

Baca Juga Abah Otong Ciandur, Biografi, Sejarah, Riwayat dan Kisah Tauladan (Bag 1)

Comments
0 Comments