November 8, 2017

Kisah Pedagang Tahu Bulat, Jangan Biasakan Berdagang di Waktu Magrib!

Baca Juga


Hari Menjelang Petang, kumandang Maghrib menggema di seantero kota Pandeglang, orang-orang tua dan para pemuda beranjak ke mesjid melaksanakan solat magrib, keadaan desa begitu sepi dan sunyi, dengan ompreng-omprengan dan tak kenal waktu, mobil losbak colt buntung itu merayap di sisi jalan Kampung Cicadas, di belakangnya terdapat gerobak yang di jaga oleh seorang pemuda dengan wajah lelah muka dekil, penuh daki dan keringat belum mandi, sambil sesekali pemuda tersebut merapihkan tahu-tahu bulat yang baru saja digorengnya, ia tumpukan di dalam lemari dagangannya

“Tahu bulat, tahu bulat.. wak waw.. Tahuuuu bulat, digoreng dadakan… lima ratusan… haraneut keneh…wak waw”

Suara itu berbunyi nyaring membelah kesunyian kampung Cicadas, walau tak ada satupun warga melirik mereka, tapi suara itu terus saja berbunyi berkali-kali melantunkan lagu-lagu indah tahu bulat wakwaw tanpa bosan.

Nah, cerita ini saya dapat dari seorang teman yang kebetulan menjadi tetangga dari si pedagang tahu bulat wakwaw tersebut, di suatu malam, ia mendengar jeritan si pedagang tahu bulat, yang menerit berkali-kali terdengar sampai kerumahnya, dengan perasaan kaget, teman saya langsung menghampiri rumah si pedagang tahu tersebut, di kira ada apa ternyata si pedagang tahu itu sedang duduk lesu sambil menangis sejadi-jadinya, di tangannya tergenggam daun-daun kering yang begitu banyak, teman saya menanyakan apa yang sedang terjadi?

Dengan wajah sedih si pedagang tahu bercerita bahwa ia baru saja pulang dari hasil mencari nafkah, kira-kira pada waktu magrib, ketika orang-orang pergi ke mesjid dia terus saja meneriakan suara tahu bulat wakwaw tersebut tanpa henti-henti, ketika ia melewati sebuah rumah besar, keluarlah dari rumah tersebut puluhan anak-anak kecil yang menghampiri dagangannya, termasuk ada juga ibu-ibu dan bapak-bapak, ramai sekali orang membeli dagangannya, bahkan dia diberi uang merah ratusan ribu, bahkan ada diantara mereka yang tidak mau dikembalikan, katanya uangnya ambil saja buat jajan istri.

Tentu saja si pedagang tahu wakwaw itu menjadi sangat gembira. Ia pulang ke rumah dengan wajah ceria, dengan banyak hayalan bahwa uangnya akan ia belanjakan kebutuhan rumah, beli kasur beli sofa gelang kalung emas dan barang-barang mewah untuk istrinya.

Setelah ia sampai rumah, ia mengambil sebuah tas yang berisi uang hasil jerih payahnya tersebut, dan ketika ia mengambil semua kertas yang ia anggap uang, apa yang terjadi? Ternyata kertas itu bukanlah uang melainkan DAUN-DAUN kering yang begitu banyak. Kontan saja ia menjerit sejadi-jadinya.

Teman saya yang menceritakan kejadian tersebut menjadi penasaran, benarkah apa yang di dengarnya? Apakah ini sebuah penipuan? Karna di bebani rasa kasihan, apalagi mereka bertetangga dan sudah sangat dekat sekali, teman saya langsung mengajak si pedagang tahu bulat tersebut mencari dimana rumah besar yang kata dia banyak orang-orang membeli dagangannya.

Dengan berlari cepat mengendarai sepeda motor mereka segera pergi ke kampung yang dituju, dan apa yang terjadi? Ketika mereka tiba di lokasi, ternyata bukan rumah mewah dan besar yang dilihat, melainkan… KUBURAN?!

Melihat gelagat aneh tersebut, teman saya langsung ngacir terbirit birit. Si pedagang tahu bulat juga langsung mabur tidak mau lagi mengungkit-ngungkit semua cerita yang dialaminya.

Benarlah kata sesepuh di kampung saya, orang-orang tua bilang kalau magrib jangan suka keluyuran, hentikan semua kegiatan, termasuk perniagaan, sangat berbahaya kata mereka, salah satu bahayanya seperti kejadian yang dialami si pedagang tahu bulat wakwaw tersebut yang rugi habis-habisan gara-gara di tipu setan, gara-gara tidak ke mesjid melaksanakan solat magrib malah berdagang teriak-teriak Tahu bulat wakwaw tahu bulat wakwaw di goreng dadakan liamaratusan. Bukannya mendapat uang malah dapat dedaunan. apes nian nasibmu pak.

Semoga kisah ini memberi arti dan pelajaran.

Comments
0 Comments