October 18, 2017

Kisah Jokowi dan Si Koboi Penunggang Kuda, Peluru Panas Itu Bernama Anies Baswedan

Tags

Baca Juga


Tidak dipungkiri, sepakterjang Anies Baswedan merupakan langkah 'kuda’ yang menggembosi perpolitikan besar Nasional. mengangkat Jokowi Ahok menjadi Gubernur, Mengangkat Jokowi Menjadi Presiden, lalu diangkat Oleh Jokowi menjadi mentri Pendidikan. dan .... dicopot dari jabatannya hanya dalam waktu seumur jagung.

Pencopotan dari ‘kabinet kerja’ tentu saja tidak hanya mengecewakan Anies, mempermalukan bahkan membuatnya terpinggirkan, apalagi pencopotan dirinya dari mentri pendidikan tanpa alasan yang jelas membuatnya tidak akan bisa tidur nyenyak lebih lama.

Anies tidak mati, ia tidak terbunuh dengan cara terkapar, ia tahu bahwa selain Jokowi ada poros besar yang selalu menjadi arus lawan politiknya, lawan tanding Jokowi adalah Prabowo, seteru abadi dalam pergolakan politik nasional.

Anies merapat ke Prabowo, ia tahu disana bisa merengkuh mimpi-mimpinya yang kemarin barusaja terkubur. Anies bukan seorang penakut, bahkan melawan Jokowi sekalipun, yang pada dasarnya adalah seorang kawan lama yang pernah satu gerombolan politik untuk membangun Indonesia.

Anies tidak tinggal diam. bahkan dengan adanya Prabowo disampingnya, melawan Ahok, seorang incumbent, gubernur Jakarta paling tangguh saat itu, ia lawan. Siapa Ahok? Ahok pernah ditantang Yusril Ihza Mahendra, seorang mantan mentri sekaligus mantan ketua umum partai Bulan Bintang (PBB), nyatanya Yusril mundur sebelum bertanding.

Anies bukanlah Yusril yang faham situasi politik dijaman Ordebaru. Anies tahu semua rahasia Ahok dan Jokowi, kekuatan mereka, dan berapa persen kelemahan dari keduanya. Anies paham bahwa Ahok tidak perlu dilawan dengan politik yang sama, tapi merubah arus politik dengan mengangkat isu rasialisme dan propaganda feodalisme.

Ternyata memang sangat ampuh, Ahok tidak hanya kalah dalam Pilgub Putaran kedua, juga membuatnya terjungkal dengan mendarat di dalam penjara. Anies berjaya. otomatis kekuatan Jokowi 50% habis sudah ketika Ahok lengser dari jabatan.

Anies dibantu Fadli Zon, seorang politikus cerdas yang terbiasa memainkan isu, anak kesayangan Prabowo yang seringkali menjadi peluru panas dalam menggoyang kepemerintahan Jokowi, meskipun sampai saat ini belum berhasil menjungkalkannya. ditambah beberapa figure kontroversial seperti Fahri Hamzah yang suka memamerkan retorika politik sektarian.

Ketika Anies dilantik menjadi Gubernur, beberapa jam setelahnya ia sudah menjadi peluru panas yang mengguncang politik nasional. Anies kembali mengangkat isu rasialisme dengan menjelaskan perbedaan kasta antara sikaya dan si miskin, antara pribumi dan non pribumi. sebagian masyarakat menjadi geram dan melaporkannya ke pihak berwajib. Justru kemarahan warga itulah yang sepertinya menjadi tujuan dari pidato Anies sendiri. Anies sepertinya memang tidak berniat membangun Jakarta untuk kepentingan bersama, tapi untuk golongan sepihak, sekaligus memecahbelah warga Jakarta. membedakan antara yang kaya dan miskin, dan terus melakukan propaganda sebagai peluru panas untuk ditembakan kepada Jokowi.

Prabowo sekarang bisa bernafas lega. dua peluru sudah ada ditangannya, Anies dan Fadli Zon adalah peluru yang siap menjadi bom waktu untuk menjegal kepemimpinan Jokowi, kalau Jokowi terus berdiam diri, bukan tidak mungkin 2019 akan menjadi waktu emas bagi Prabowo. Dan sepertinya untuk masa yang akan datang, Jakarta tidak hanya menjadi arena bertanding politik antar pejabat pemerintahan, sekaligus menjadi ajang perpecahan di akar rumput, antar pribumi dan non pribumi. Si kaya dan si miskin, Jakarta akan terus diselimuti fitnah, adu domba, propaganda dan menjadi ajang saling lempar tuduhan.

Jakarta adalah Indonesia. Dan Indonesia adalah Jakarta. selama Jakarta tetap ricuh, ribut dan terus membuat kegaduhan, bukan tidak mungkin, konsentrasi dan kinerja Jokowi akan terpecah. sebab di Jakarta ada Anies, ada fadli Zon, juga Jokowi. dan diluar arena, jauh dari Jakarta, ada seorang koboi penunggang kuda yang sedang memegang pistol, siap membidik bila waktunya sudah tiba. Bisa terbunuh keduanya, atau mati terkapar salahsatunya.

Inilah kisah Jokowi dan si koboi penunggang kuda. Patut kita tunggu episode berikutnya, sebab filmnya baru saja dimulai.

***Asep Bahtiar***

Comments
0 Comments