September 3, 2017

Tommy Soeharto Prihatin Jokowi Banyak Hutang. Ini Sejarah Hutang Yang Sebenarnya

Tags

Baca Juga



Di beberapa media online, seperti Jawa Pos Grup, telah memuat statemen bahwa Putra mantan Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra, mengkritisi banyaknya hutang di kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Pria yang akrab disapa Tommy itu, mengaku begitu prihatin atas besarnya hutang negara saat ini. Menurutnya, harus dicarikan solusi bersama agar Indonesia tidak terus menerus bergantung pada peminjam uang dari luar negri.

Pria yang saat ini menjadi Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya itu berpendapat, Hutang negara akan terus diwariskan kepada anak cucu bangsa. Sehingga pemerintah diharapkan, mulai sekarang harus bisa berhemat. Dia juga berpesan agar pemerintahan Jokowi mampu memanfaatkan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia. Jangan biarkan bangsa asing menikmati dan mengelola kekayaan di tanah Pertiwi ini.

Sejarah Hutang indonesia

Berdasarkan Informasi yang dihimpun, selama kurang lebih tiga tahun, dalam masa kepemimpinan Presiden Jokowi, hutang pemerintah Indonesia bertambah Rp 1.062,4 triliun. Dari data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat bahwa jumlah utang negara di akhir 2014 adalah Rp 2.700 triliun, dan naik hingga posisi akhir pada April 2017 menjadi Rp 3.667,33 triliun.

Namun, perlu diketahui bahwa kenaikan hutang yang dialami oleh Indonesia terjadi secara turun temurun selama kurun waktu 17 tahun. Dalam masa kepemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saja, Indonesia telah berhutang sebanyak Rp 1.300 triliun. Yakni, pada 2004 Presiden SBY berhutang sebesar Rp 1.311 triliun. Diakhir masa jabatanya, SBY berhutang lagi sampai Rp 2.700 triliun.

Pada kepemerintahan Megawati, hutang Indonesia tidak terlalu besar. Pada tahun 2002, di masa awal  jabatannya, hutang Indonesia mencapai Rp 1.223,7 triliun. Diakhir masa jabatannya, pada 2004 hutang Indonesia telah mencapai Rp 1.298 triliun. Artinya, di jaman Presiden Megawati, Indonesia hanya berhutang tidak kurang dari Rp 70 triliun.

Sedangkan pada zaman Gus Dus. Karena Gusdur tidak terlalu lama memimpin, hanya dua tahun. Pada tahun 2000 hutang Indonesia hanya mencapai 1.232,8 triliun. Sedangkan pada 2001, hutang hanya mencapai Rp 1.271,4 triliun. Hutang Indonesia pada zaman Gus Dus tidak melebihi Rp 40 triliun.

Bagaimana pada jaman presiden BJ. Habibie? Hutang pada jaman BJ. Habibir cukup tinggi, yakni sampai menembus angka Rp 938,8 triliun. Sedangkan pada pemerintahan Soeharto, Indonesia memiliki hutang sebesar Rp 551,4 triliun.


Rasio Hutang Indonesia

Jadi, dari uraian hutang-hutang diatas, ada baiknya, Tommy tidak usah melontarkan statemen kontroversial. Sebab, Hutang Indonesia yang saat ini semakin tinggi tiada lain karena warisan kebobrokan ekonomi yang ditinggalkan oleh bapaknya sendiri, yakni Presiden Soeharto.

Jika dirinci, sebenarnya jumlah warisan hutang paling banyak bukan karena kepemimpinan Jokowi, tapi karena beban yang ditinggalkan oleh Presiden Soeharto, BJ Habibie juga SBY, apalagi hobi berhutang Presiden-Presiden sebelumnya tidak diimbangi dengan 'pembangunan insfratuktur' yang memadai. Untuk menghitung jumlah total hutang Jokowi secara keseluruhan, tentunya belum bisa, sebab masa kepemimpinan Jokowi masih belum selesai. Namun, perlu diingat, Indonesia memulai hutang ke luar negri akibat krisis ekonomi warisan Soeharto karena terjadinya tragedi 1998.
Hutang Indonesia dalam triliun

Ekonomi Indonesia Tahun 1998

Tahun 1998, saat itu Indonesia tengah mengalami krisis keuangan, sistem keuangan Indonesia hancur lebur dan Indonesia harus melakukan 'bailout' yang memakan hampir 70% Gross Domestic Product (GDP) demi menyelamatkan sistem keuangan. Pada saat yang bersamaan, lengsernya Soeharto juga meninggalkan berbagai permasalahan di berbagai bidang ekonomi. Hal ini tentu saja berdampak buruk pada rasio hutang Indonesia di masa depan.

Selama bertahun-tahun, Indonesia fokus dalam menstabilkan ekonomi dan meminimalisir anggaran belanja. Sehingga, bangsa ini tidak pernah memikirkan pembangunan infrastruktur. Di tengah krisis ekonomi yang terus menerus menghantam negara ini, seiring berjalannya waktu, rasio hutang Indonesia pun mencapai 100% dari total GDP. Sehingga, hanya APBN yang menjadi satu-satunya penyelamat dalam mengurangi beban rasio hutang.

Wacana tersebut sudah dilakukan sejak Presiden Gus Dur hingga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sehingga jumlah GDP yang tadinya 100%, turun menjadi 80%, lalu turun lagi menjadi 70%. Indonesia harus berterimakasih pada Sri Mulyani karena 10 tahun yang lalu, saat ia menjabat sebagai Mentri Keuangan, GDP Indonesia turun hampir diangka 60%. Artinya 60% GDP itu adalah beban utang yang hingga sekarang masih harus ditanggung indonesia.

Jika dilihat dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Indonesia sebenarnya sangat berat membayar cicilan dan bunga utang. Rasio ekonomi Negara saat ini sebenarnya berkembang cepat, walaupun hutang semakin naik tapi rasionya semakin lama semakin turun karena GDP sudah mendekati angka 50%.

Barulah, pada 2015. Indonesia bisa memulai pembangunan Infrastruktur. Di sisi lain, infrastruktur juga menjadi salah satu modal negara, agar percepatan ekonomi negara ini semakin maju dan memberikan keadilan bagi seluruh masyarakatnya. Sebenarnya angka pembangunan infrastruktur di Indonesia, sekarang ini, masih jauh di angka standar negara-negara Asia. Insfratuktur Indonesia masih kalah bila dibandingkan dengan Malaysia, India, hingga China. Dengan penggunaan dana dari APBN dalam menurunkan rasio hutang, maka pembangunan infrastruktur tidak hanya menjadi prioritas utama, nantinya juga bisa mengimbangi pertumbuhan ekonomi yang semakin cepat. Oleh karena itu, mau tidak mau, Indonesia sudah saatnya mengejar ketertinggalan pembangunan infrastruktur, demi menggenjot pertumbuhan ekonomi di seluruh daerah di Indonesia (*)

Sumber-sumber tulisan:
https://seword.com/ekonomi/tommy-soeharto-prihatin-hutang-indonesia-begini-penjelasannya/

http://www.suratkabar.id/51033/politik/kritik-pedas-tommy-soeharto-soal-meroketnya-utang-indonesia

https://www.jawapos.com/read/2017/09/03/154810/sindiran-putra-soeharto-ke-presiden-jokowi-soal-utang-negara

Comments
0 Comments