Terjemah Kitab Al Um, Berwudlu' Menggunakan Bejana Kulit, Emas Perak

‏Terjemah Kitab Al Um
‏Mahakarya Imam Syafi’i
‏Penerjemah Asep Bahtiar

Apabila ada kesalahan makna dan maksud, mohon diingatkan. Terjemahan ini hanya untuk membantu sedikit saja. Untuk lebih detailnya silahkan bertanya langsung kepada ahli agama yang lebih berkompeten. Berikut saya lampirkan teks aslinya (berbahasa arab). Jika terjemahan ini tidak bisa dimengerti, pembaca bisa melihat kembali teks arabnya. Semoga bermanfaat.



‏BAB 
Bejana Yang Bisa Dipakai Berwudhu dan Yang Tidak Bisa Digunakan Berwudhu 

بَابُ الْآنِيَةِ الَّتِي يُتَوَضَّأُ فِيهَا وَلَا يُتَوَضَّأُ]
ُ (قَالَ الشَّافِعِيُّ) أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ «مَرَّ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِشَاةٍ مَيِّتَةٍ قَدْ كَانَ أَعْطَاهَا مَوْلَاةً لِمَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ فَهَلَّا انْتَفَعْتُمْ بِجِلْدِهَا؟ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إنَّهَا مَيِّتَةٌ فَقَالَ إنَّمَا حَرُمَ أَكْلُهَا» أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مِثْلَهُ، أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ سَمِعَ ابْنَ وَعْلَةَ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ سَمِعَ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَقُولُ «أَيُّمَا إهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ» أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ ابْنِ وَعْلَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ «إذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ»

أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قُسَيْطٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ ثَوْبَانَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَمَرَ أَنْ يُسْتَمْتَعَ بِجُلُودِ الْمَيْتَةِ إذَا دُبِغَتْ» (قَالَ الشَّافِعِيُّ) : فَيُتَوَضَّأُ فِي جُلُودِ الْمَيْتَةِ كُلِّهَا إذَا دُبِغَتْ وَجُلُودِ مَا لَا يُؤْكَلُ لَحْمُهُ مِنْ السِّبَاعِ قِيَاسًا عَلَيْهَا إلَّا جِلْدَ الْكَلْبِ، وَالْخِنْزِيرِ فَإِنَّهُ لَا يَطْهُرُ بِالدِّبَاغِ؛ لِأَنَّ النَّجَاسَةَ فِيهِمَا وَهُمَا حَيَّانِ قَائِمَةٌ، وَإِنَّمَا يَطْهُرُ بِالدَّبَّاغِ مَا لَمْ يَكُنْ نَجِسًا حَيًّا. وَالدِّبَاغُ بِكُلِّ مَا دَبَغَتْ بِهِ الْعَرَبُ مِنْ قَرْظٍ، وَشَبٍّ وَمَا عَمِلَ عَمَلَهُ مِمَّا يَمْكُثُ فِيهِ الْإِهَابُ حَتَّى يُنَشِّفَ فُضُولَهُ وَيُطَيِّبَهُ وَيَمْنَعَهُ الْفَسَادَ

إذَا أَصَابَهُ الْمَاءُ، وَلَا يَطْهُرُ إهَابُ الْمَيْتَةِ مِنْ الدِّبَاغِ إلَّا بِمَا وَصَفْت، وَإِنْ تَمَعَّطَ شَعْرُهُ فَإِنَّ شَعْرَهُ نَجِسٌ، فَإِذَا دُبِغَ وَتُرِكَ عَلَيْهِ شَعْرُهُ فَمَاسَّ الْمَاءُ شَعْرَهُ نَجُسَ الْمَاءُ، وَإِنْ كَانَ الْمَاءُ فِي بَاطِنِهِ وَكَانَ شَعْرُهُ ظَاهِرًا لَمْ يَنْجُسْ الْمَاءُ إذَا لَمْ يُمَاسَّ شَعْرَهُ، فَأَمَّا جِلْدُ كُلِّ ذَكِيٍّ يُؤْكَلُ لَحْمُهُ فَلَا بَأْسَ أَنْ يَشْرَبَ وَيَتَوَضَّأَ فِيهِ إنْ لَمْ يُدْبَغْ؛ لِأَنَّ طَهَارَةَ الذَّكَاةِ وَقَعَتْ عَلَيْهِ فَإِذَا طَهُرَ الْإِهَابُ صُلِّيَ فِيهِ وَصُلِّيَ عَلَيْهِ، وَجُلُودُ ذَوَاتِ الْأَرْوَاحِ السِّبَاعِ وَغَيْرِهَا مِمَّا لَا يُؤْكَلُ لَحْمُهُ سَوَاءٌ ذَكِيُّهُ وَمَيِّتُهُ؛ لِأَنَّ الذَّكَاةَ لَا تُحِلُّهَا فَإِذَا دُبِغَتْ كُلُّهَا طَهُرَتْ؛ لِأَنَّهَا فِي مَعَانِي جُلُودِ الْمَيْتَةِ إلَّا جِلْدَ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيرِ فَإِنَّهُمَا لَا يَطْهُرَانِ بِحَالٍ أَبَدًا (قَالَ) : وَلَا يَتَوَضَّأُ وَلَا يَشْرَبُ فِي عَظْمِ مَيْتَةٍ وَلَا عَظْمِ ذَكِيٍّ لَا يُؤْكَلُ لَحْمُهُ مِثْلِ عَظْمِ الْفِيلِ وَالْأَسَدِ وَمَا أَشْبَهَهُ؛ لِأَنَّ الدِّبَاغَ وَالْغُسْلَ لَا يُطَهِّرَانِ الْعَظْمَ رَوَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَكْرَهُ أَنْ يُدَهَّنَ فِي مُدْهُنٍ مِنْ عِظَامِ الْفِيلِ؛ لِأَنَّهُ مَيْتَةٌ.  (قَالَ الشَّافِعِيُّ) : فَمَنْ تَوَضَّأَ فِي شَيْءٍ مِنْهُ أَعَادَ الْوُضُوءَ وَغَسَلَ مَا مَسَّهُ مِنْ الْمَاءِ الَّذِي كَانَ فِيهِ.

Dikabarkan kepada kami dari Malik dari Ibnu Syibah dari ‘Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas bahwa Beliau berkata “Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam melewati bangkai seekor kambing, lalu diberikan-nya kepada bekas budak Maimunah (istri Nabi), Maka beliau SAW bersabda “Mengapakah tidak kamu mengambil manfaat saja dengan kulitnya?” Para sahabat berkata “Ya Rasulullah ini bangkai”
Lalu Nabi SAW menjawab bahwa diharamkan (hanya) memakan dagingnya saja (tidak haram kulitnya bila di samak).

Dikabarkan kepada kami dari Ibnu ‘Uyainah dari Az-Zuhri dari ‘Ubaidullah dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW (sebagaimana kisah diatas).

Dikabarkan kepada kami dari Ibnu ‘Uyainah dari Zaid bin Aslam yang mendengar dari Ibnu Wa’lah yang mendengar dari Ibnu Abbas yang mendengar dari Nabi SAW yang bersabda “Kulit manapun yang disamak maka hukumnya suci”

Dikabarkan kepada kami dari Malik dari Zaid bin Aslam dari Ibnu Wa’lah dari Ibnu Abbas bahwa Nabi SAW bersabda “Apabila kulit itu disamak maka dia dihukumi suci”

Dikabarkan kepada kami dari Malik dari Yazid bin Abdullah bin Qusaid dari Muhammad Bin Abdurrahman Bin Tsauban dari ayahnya dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah SAW menyuruh untuk diambil manfaat (kulit bangkai) dengan cara disamak.

Maka seseorang boleh berwudhu dalam kulit bangkai seluruhnya yang telah disamak dan kulit binatang-binatang buas yang tidak bisa dimakan dagingnya, karena masalah ini diqiyaskan (analogi) kepada kulit-kulit bangkai selain kulit anjing dan babi karena kedua hewan ini tidak suci walaupun kulitnya disamak dengan alasan keduanya mempunyai najis yang menetap.

Bahwa kulit hayawan (selain anjing dan babi) bisa suci dengan cara disamaka. Sedangkan menyamak itu menggunakan setiap benda yang biasanya digunakan oleh orang Arab yaitu daun salam, tawas dan benda lainnya yang dapat berbuat pada kulit, sehingga benda-benda tersebut bisa memisahkan / mengeringkan lendir lendirnya, membaguskan dan mencegahnya dari kebusukan apabila terkena air.

Jika kulit itu berbulu maka bulunya itu dianggap najis. Apabila kulit yang berbulu itu disamak dan dibiarkan bulunya lalu bulunya menyentuh pada air niscaya najislah airnya. Hal ini berbeda apabila ada air di dalam kulit dan bulunya timbul di sebelah luar, maka kulit dalam kasus ini tidak dianggap menajiskan air dengan syarat tidak menyentuh bulunya.

Kulit setiap binatang yang disembelih, yang bisa dimakan dagingnya, maka tiada mengapa meminum dan berwudhu padanya walaupun tidak disamak karena kesucian penyembelihan itu berlaku atasnya. Apabila kulit itu telah suci maka boleh bersembahyang dengan kulit tersebut diatasnya.

Kulit binatang-binatang buas (baik yang masih bernyawa ataupun yang sudah tidak lagi bernyawa) yang tidak boleh dimakan dagingnya, hukumnya sama saja yang disembelih maupun yang mati sendiri karena penyembelihan itu tidak menghalalkannya.

Apabila kulit-kulit itu disamak seluruhnya niscaya tetap suci. Karena kulit (hewan buas) yang telah disamak termasuk kategori suci kecuali anjing dan babi karena kedua hewan ini tidak akan pernah suci dengan keadaan apapun selama-lamanya.

Tidak boleh berwudhu dan meminum pada tulang bangkai dan tulang-tulang binatang yang disembelih yang tidak bisa dimakan dagingnya seperti tulang gajah, singa dan yang menyerupainya, karena penyamakan dan pembasuhan (pada tulang) tidak bisa mensucikan tulangnya.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Dinar, ia mendengar bahwa Ibnu Umar tidak menyukai (menghukumi makruh) memakai minyak pada tempat minyak yang terbuat dari tulang gajah.  Karena Gajah itu bangkai. Maka siapa saja yang berwudhu pada sesuatu daripadanya niscaya ia harus mengulang lagi wudlu’nya dan membasuh apa-apa yang disentuh oleh air yang ada dalam tulang itu.



‏Bejana Selain Kulit 

[الْآنِيَةُ غَيْرُ الْجُلُودِ]
ِ (قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَلَا أَكْرَهُ إنَاءً تُوُضِّئَ فِيهِ مِنْ حِجَارَةٍ وَلَا حَدِيدٍ وَلَا نُحَاسٍ وَلَا شَيْءٍ غَيْرِ ذَوَاتِ الْأَرْوَاحِ إلَّا آنِيَةَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ فَإِنِّي أَكْرَهُ الْوُضُوءَ فِيهِمَا (قَالَ الشَّافِعِيُّ) أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - " أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ «الَّذِي يَشْرَبُ فِي إنَاءِ الْفِضَّةِ إنَّمَا يُجَرْجِرُ فِي بَطْنِهِ نَارَ جَهَنَّمَ» (قَالَ الشَّافِعِيُّ) : فَإِنْ تَوَضَّأَ أَحَدٌ فِيهَا أَوْ شَرِبَ كَرِهْتُ ذَلِكَ لَهُ وَلَمْ آمُرْهُ يُعِيدُ الْوُضُوءَ وَلَمْ أَزْعُمْ أَنَّ الْمَاءَ الَّذِي شَرِبَ وَلَا الطَّعَامَ الَّذِي أَكَلَ فِيهَا مُحَرَّمٌ عَلَيْهِ وَكَانَ الْفِعْلُ مِنْ الشُّرْبِ فِيهَا مَعْصِيَةً، فَإِنْ قِيلَ فَكَيْفَ يُنْهَى عَنْهَا وَلَا يَحْرُمُ الْمَاءُ فِيهَا؟ قِيلَ لَهُ - إنْ شَاءَ اللَّهُ - إنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إنَّمَا نَهَى عَنْ الْفِعْلِ فِيهَا لَا عَنْ تِبْرِهَا وَقَدْ فُرِضَتْ فِيهَا الزَّكَاةُ وَتَمَوَّلَهَا الْمُسْلِمُونَ وَلَوْ كَانَتْ نَجِسًا لَمْ يَتَمَوَّلْهَا أَحَدٌ وَلَمْ يَحِلَّ بَيْعُهَا وَلَا شِرَاؤُهَا.


Saya (Imam Syafi’i) tidak menghukumi makruh suatu bejana jika seseorang berwudhu padanya, yakni bejana yang terbuat dari batu, besi, tembaga dan sesuatu yang tidak bernyawa. (Saya hanya menghukumi) makruh berwudhu pada bejana yang terbuat dari emas dan perak. Saya menghukumi makruh berwudlu’ pada keduanya ini.

Dikabarkan kepada kami dari Malik dari Nafi’ dari Zaid bin Abdullah bin Umar dari Abdullah Bin Abdurrahman Bin Abu Bakar dari Ummi Salamah (istri Nabi SAW) bahwa Nabi SAW bersabda “Orang yang minum dari bejana perak sesungguhnya ia sedang menuangkan kedalam perutnya api neraka jahanam”.

Kalau seseorang berwudhu dalam bejana perak atau minum daripadanya maka saya (Imam Syafi’i) memandang makruh yang demikian itu, tapi saya tidak menyuruh untuk mengulangi kembali wudhunya. Dan saya tidak memvonis bahwa air yang ia minum dan makanan yang ia makan daripadanya itu dihukumi haram, hanya saja perbuatan semacam itu saya hukumi “maksiat”.

Kalau ditanyakan, bagaimana dilarang yang demikian itu (maksiat makan minum dari bejana emas perak) tapi tidak diharamkan air padanya? Maka saya jawab kepada si penanya itu, Insya Allah Rasulullah SAW hanya melarang dari berbuat pada bejana perak dan emas saja, tapi tidak mengharamkan dzatiahnya (unsur perak dan emasnya). Sehingga telah diwajibkan zakat (oleh Nabi) pada bejana perak, dan telah dimiliki oleh kaum muslimin menjadi hartanya, kalau bejana perak itu dihukumi najis maka tiada seorangpun yang boleh mengambilnya untuk dimiliki menjadi harta, dan tidak halal memperjualbelikannya.
Wallahu A’lam