August 15, 2017

Terjemah Kitab Al-Um Bagian Thoharoh

Baca Juga


Terjemah Kitab Al-Um
Karya Legendaris Imam Syafi’i
Penerjemah Asep Bahtiar

Apabila ada kesalahan makna dan maksud, mohon diingatkan. Terjemahan ini hanya untuk membantu sedikit saja. Untuk lebih detailnya silahkan bertanya langsung kepada ahli agama yang lebih berkompeten. Berikut saya lampirkan teks aslinya (berbahasa arab). Jika terjemahan ini tidak bisa dimengerti, pembaca bisa melihat kembali teks arabnya. Semoga bermanfaat.


Kitab Thoharoh
[كِتَاب الطَّهَارَة]
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
كِتَابُ الطَّهَارَةِ أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ " أَخْبَرَنَا الشَّافِعِيُّ - رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى - " قَالَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ {إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ} [المائدة: 6] الْآيَةَ (قَالَ الشَّافِعِيُّ) : فَكَانَ بَيِّنًا عِنْدَ مَنْ خُوطِبَ بِالْآيَةِ أَنَّ غَسْلَهُمْ إنَّمَا كَانَ بِالْمَاءِ ثُمَّ أَبَانَ فِي هَذِهِ الْآيَةِ أَنَّ الْغُسْلَ بِالْمَاءِ وَكَانَ مَعْقُولًا عِنْدَ مَنْ خُوطِبَ بِالْآيَةِ أَنَّ الْمَاءَ مَا خَلَقَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مِمَّا لَا صَنْعَةَ فِيهِ لِلْآدَمِيِّينَ وَذِكْرُ الْمَاءِ عَامًّا فَكَانَ مَاءُ السَّمَاءِ وَمَاءُ الْأَنْهَارِ وَالْآبَارِ وَالْقُلَّاتِ وَالْبِحَارِ الْعَذْبُ مِنْ جَمِيعِهِ وَالْأُجَاجُ سَوَاءً فِي أَنَّهُ يُطَهِّرُ مَنْ تَوَضَّأَ وَاغْتَسَلَ مِنْهُ، وَظَاهِرُ الْقُرْآنِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ كُلَّ مَاءٍ طَاهِرٌ مَاءُ بَحْرٍ وَغَيْرِهِ وَقَدْ رُوِيَ فِيهِ عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - حَدِيثٌ يُوَافِقُ ظَاهِرَ الْقُرْآنِ فِي إسْنَادِهِ مَنْ لَا أَعْرِفُهُ (قَالَ الشَّافِعِيُّ) أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ سَلَمَةَ رَجُلٌ مِنْ آلِ ابْنِ الْأَزْرَقِ أَنَّ الْمُغِيرَةَ بْنَ أَبِي بُرْدَةَ وَهُوَ مِنْ بَنِي عَبْدِ الدَّارِ خَبَّرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - يَقُولُ «سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَمَعَنَا الْقَلِيلُ مِنْ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ»
(قَالَ الشَّافِعِيُّ) أَخْبَرَنَا إبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ عُمَرَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ ثَوْبَانَ عَنْ أَبِي هِنْدٍ الْفِرَاسِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ «مَنْ لَمْ يُطَهِّرْهُ الْبَحْرُ فَلَا طَهَّرَهُ اللَّهُ» (قَالَ الشَّافِعِيُّ) : فَكُلُّ الْمَاءِ طَهُورٌ مَا لَمْ تُخَالِطْهُ نَجَاسَةٌ وَلَا طَهُورَ إلَّا فِيهِ أَوْ فِي الصَّعِيدِ، وَسَوَاءٌ كُلُّ مَاءٍ مِنْ بَرَدٍ أَوْ ثَلْجٍ أُذِيبَ وَمَاءٍ مُسَخَّنٍ وَغَيْرِ مُسَخَّنٍ؛ لِأَنَّ الْمَاءَ لَهُ طَهَارَةُ النَّارِ وَالنَّارُ لَا تُنَجِّسُ الْمَاءَ.

(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : أَخْبَرَنَا إبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - كَانَ يُسَخَّنُ لَهُ الْمَاءُ فَيَغْتَسِلُ بِهِ وَيَتَوَضَّأُ بِهِ.

(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَلَا أَكْرَهُ الْمَاءَ الْمُشَمَّسَ إلَّا مِنْ جِهَةِ الطِّبِّ (قَالَ الشَّافِعِيُّ) أَخْبَرَنَا إبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ صَدَقَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عُمَرَ كَانَ يَكْرَهُ الِاغْتِسَالَ بِالْمَاءِ الْمُشَمَّسِ وَقَالَ: إنَّهُ يُورِثُ الْبَرَصَ.

Dikabarkan kepada kami dari Ar-Rabi bin Sulaiman, dikabarkan kepada kami dari Imam Syafi'i R. A. Beliau berkata Allah Berfirman “Apabila kamu berdiri hendak mengerjakan sembahyang salat maka basuhlah wajahmu tanganmu sampai ke siku dan sapulah kepalamu dan basuhlah kakimu sampai ke mata kaki” Surat Al-Maidah ayat 6

Maka jelaslah bahwa ayat diatas menunjukan untuk membasuh (berwudlu) menggunakan air, kemudian dijelaskan pada ayat di atas bahwa berwudlu’ haruslah menggunakan air. Sungguh luarbiasa masuk logika, ayat diatas menjelaskan tentang air yang diciptakan Allah yang maha Suci dan maha Tinggi. Air bukanlah termasuk dalam ciptaan manusia.

Nama 'air' masih dikategorikan umum, sebab bisa saja seseorang berwudlu menggunakan air hujan, air sungai, air sumur, air yang keluar dari celah-celah bukit dan air laut. Baik air tawar ataupun air yang rasanya asin. Semua hukumnya sama saja mengenai air, bahwa air itu mensucikan, baik digunakan untuk berwudhu atau mandi.

Melihat dari kontekstualnya, Al-Quran menjelaskan bahwa setiap air itu suci, baik air laut dan yang lainnya. Penjelasan ini diperkuat dengan adanya hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Suatu hadis yang penjelasannya sesuai dengan keterangan didalam Al-Quran, hanya saja saya (Imam Syafi’i) tidak kenal dengan isnadnya.

Dikabarkan kepada kami dari Malik dari Sofwan bin Salim dari Saad bin Salma, seorang lelaki dari keluarga Ibnul Azrok, bahwa Al Mughiroh Bin Abi Burdah dan dia ini termasuk keluarga bani Abdul Dar, yang mengabarkan kepadanya bahwa ia mendengar langsung dari Abu Hurairah Ra. Suatu hari ada seorang lelaki yang berkata “Wahai Rasulullah, kami menyeberangi laut, dan bersama kami sedikit sekali air. Kalau kami berwudhu menggunakan air yang sedikit itu niscaya kami kehausan, lalu kami berwudlu menggunakan air laut”

Nabi menjawab. “Laut itu airnya suci mensucikan dan bangkainya halal”

Dikabarkan kepada kami dari Ibrahim bin Muhammad dari Abdul Aziz bin Umar dari Sa’id bin tsauban dari Abi-hind Al Furrasi dari Abu Hurairoh dari Nabi Shallallahu Wassalam yang bersabda: “Barangsiapa yang tidak disucikan oleh laut maka ia tidak disucikan oleh Allah”

Setiap air itu suci mensucikan, selama tidak berbauran dengan najis, dan tidak ada yang suci mensucikan kecuali air dan tanah. Setiap air sama saja hukumnya, baik air dingin atau air salju yang dihancurkan, air yang dipanaskan dan yang tidak dipanaskan, karena air mempunyai kesucian dan api tidak menajiskan pada air.

Dikabarkan kepada kami dari Ibrahim bin Muhammad dari Zaid bin Aslam dari ayahnya bahwa suatu hari, air dipanaskan untuk Umar bin Khotob lalu ia mandi dan berwudhu menggunakan air tersebut. Saya (Imam Syafi’i) tidak memandang makruh terhadap air yang dipanaskan dengan matahari, kecuali dari segi ketabiban.

Dikabarkan kepada kami dari Ibrahim bin Muhammad dari Shodaqah bin Abdullah dari Abu Zubair dari Jabir bin Abdullah bahwa Umar memandang makruh mandi menggunakan air yang dipanaskan dengan matahari. mar mengatakan bahwa air (yang dipanaskan dengan matahari) bisa mendatangkan penyakit lepra atau belang pada kulit.

Wallahu A'lam


Comments
0 Comments