3 Rahasia Kebesaran Pondok Lirboyo


Tiap bersilaturrohmi dengan kiai-kiai di Lirboyo atau para Alumni, Saya sering bertanya, Kenapa Lirboyo menjadi Pesantren yang begitu besar? Padahal di Kediri banyak sekali pesantren-pesantren salaf, tapi lagi-lagi hanya Lirboyo yang memliki santri sampai puluhan ribu. Dari beberapa pertanyaan itu saya akhirnya mendapatkan beberapa jawaban

1. Keberkahan Mbah Yai Hasyim Asy'ari

Jawaban ini saya dapatkan dari mbah yai Maimun Zubair, Pengasuh pesantren Al-Anwar Sarang Rembang. Beliau mengatakan bahwa di setiap zaman terdapat kiai yang 'khowasul khowas' atau abna uz zaman yang lahir setiap 100 tahun sekali. Seperti Imam Syafii dan lain sebagainya. Kebetulan pada jaman penjajahan yang menjadi kiai 'khowasul khowas' adalah Yai Hasyim Asy'ari Tebu Ireng, Kakek nya Gus Dur. Sehingga, kata mbah yai Maimun, Barang siapa yang 'dekat' dengan Yai Hasyim Asy'ari maka dia mendapat keberkahan 'santrinya banyak'. Kenapa Pesantren Buntet di Cirebon ramai oleh santri? karena Kiai Abbas Buntet sangat dekat dengan Yai Hasyim Asy'ari. Kenapa pesantren saya ramai oleh santri? (maksudnya pesantren Mbah Yai Maimun) Itu karena Abah saya dulu nya pernah mondok ke Yai Hasyim Asyari. 

Sedangkan Mbah Manab, Pendiri Pondok Lirboyo, kedekatan dengan Yai Hasyim Asy'ari nya sudah tidak diragukan lagi. Mereka sudah bersahabat semenjak sama-sama mondok di Kiai Kholil bangkalan Madura. Setelah keluar dari Kiai Kholil. Mbah Manab malah mondok lagi di Pondoknya Yai Hasyim Asy'ari yang saat itu masih awal-awal mendirikan pesantren, sampai-sampai, saking dekatnya, Mbah Manab sampai dinikahkan oleh Mbah Yai Hasyim dengan kerabatnya sendiri, yakni anaknya Kiai Sholeh Banjarmelati. Nah faktor kedekatan itulah yang membuat Lirboyo bukan hanya berkah bertahan hingga sekarang, sekaligus mendapat berkah, santri nya paling banyak diantara pondok-pondok salaf lainnya.

2. Hasil Tirakatnya Mbah Manab  

Jawaban yang kedua ini saya dapatkan dari Mbah Yai Idris Marzuqi.Menurut beliau Lirboyo bisa besar karena faktor tirakat. Bayangkan, pada saat pertamakali Mbah manab tinggal di Desa Lirboyo, beliau selalu diganggu oleh masyarakat sekitar, bukan hanya manusia tapi juga dari kalangan jin. Beliau bertirakat setiap hari, berpuasa bertahun-tahun dan solat malam tidak pernah ketinggalan. Mbah Manab itu karakternya pendiam, bicara hanya seadanya saja, kalau ada tamu hanya berkata 'monggo' silahkan diminum air nya. Setelah itu beliau diam lagi sambil terus muthola'ah kitab. Dan Mbah Manab selalu akur dengan para kiai di Kediri, artinya karakter Mbah Manab itu tidak neko-neko dan disukai oleh orang banyak. Ilmunya diakui bahkan oleh Mbah Yai Hasyim. sehingga konon kabarnya, setiap kali ada santri datang ke Mbah Kholil atau ke Mbah Hasyim. beliau berdua selalu menyuruh untuk pergi ke Lirboyo. Maka tidak heran semenjak dahulu Lirboyo itu sudah ramai, disamping anak cucunya juga selalu akur dan menjaga kerukunan keluarga.

3. Faktor Menantu

Jawaban ini saya dapatkan dari Mbah Yai Kafabihi Mahrus. Beliau mengatakan bahwa Lirboyo banyak santri ketika dua orang menantu Mbah Manab (Yai Mahrus dan Yai Marzuqi) sudah mukim di Lirboyo. Dua kiai ini selalu akur tanpa pernah iri atau saling mencacimaki di depan atau pun dibelakang. Dua kiai ini saling menghormati dan saling membantu dalam membina kebesaran Pesantren Lirboyo. Mbah Yai Mahrus itu tipe ulama pejuang, beliau dekat dengan Pemerintah, membantu bangsa ini sampai merdeka, sering ceramah ke berbagai daerah sehingga namanya sangat harum sekali kemana-mana. Banyak santri yang ingin mondok ke beliau, tapi karena kesibukannya, santri-santri itu disuruh mengaji saja ke Mbah Yai Marzuqi. Jadi Mbah yai Mahrus itu tugasnya di luar, sedangkan Mbah Marzuqi bertugas di dalam pondok. Dua menantu Mbah Manab itu kemudian menjadi contoh suri tauladan bagi anak cucunya, bahwa menjaga kerukunan keluarga itu penting. Disamping faktor doa dan tirakat-nya mbah Manab untuk kebesaran pesantren Lirboyo.