August 28, 2017

Ilmu Makrifat Ala Cak Nun

Baca Juga Asep Bahtiar



Hidup anda di dunia ini, bernasib seperti apapun pasti ujung-ujungnya akan lari ke Allah. Entah kapan waktunya, dalam kondisi dan situasi bagaimanapun anda akan kembali juga kepada Allah.

Kalau dalam saat yang sama, Allah menyebut dirinya sebagai ‘cahaya’

۞  اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ  فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا  كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا  شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ  تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ  يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ  شَيْءٍ عَلِيمٌ

Allah (Pemberi) cahaya (kepada)  langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang  yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam  kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti  mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya,  (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan  tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir  menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya  (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia  kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia,  dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Maka perjalanan manusia diartikan dari cahaya menuju cahaya, dari Allah menuju Allah dengan bimbingan dari Muhammad menuju Muhammad. Maka pertama yang harus kita pelajari adalah fisika dan ideologi, kedua yang harus kita pelajari adalah kosmologi yang merupakan makro dari ilmu fisika matematika dan ideologi, disana ada fisika kebudayaan tata kelola perilaku manusia, di sana ada akhlak, kemuliaan dan macam-macam. Tahap ketiga adalah saatnya kita menemukan cahaya yang sebenarnya.

Ilmu makrifat itu mempunyai banyak ragam, bukan hanya 3, sedangkan disini Saya hanya menerangkan tiga saja agar bisa lebih dipahami. Sebagaimana dalam Kuliah ada semester 1 semester 2 semester 3, dalam makrifat pun ada tingkatannya dari satu sampai 7 bahkan ada yang sampai 9. Setiap tingkatan memiliki cabang ilmu masing-masing tapi untuk lebih jelasnya saya persingkat saja dengan tiga tingkatan.

Tidak mudah menjelaskan semuanya tapi kira-kira begini, lampu yang ada dihadapan anda saat ini, bukanlah cahaya. Lampu yang menyinari kita di dunia ini, bukanlah cahaya. Matahari yang ada di dunia ini hanyalah benda yang memantulkan sesuatu yang secara fisik kita sebut cahaya, maka saya sebut bahwa matahari di dunia ini samasekali tidak memancarkan cahaya, hanya memancarkan energi inti yang ketika menimpa benda-benda tertentu dia membuat mata kita menjadi silau, sedangkan cahaya yang sejati (Allah) adalah sesuatu yang misterius yang merupakan awal dari kehidupan kita dan sesuatu yang amat gaib yang merupakan ujung dari kehidupan kita.

Cahaya itu terbagi menjadi tiga, Pertama cahaya abadi yang tetap seperti cahaya esensial adanya. Kedua adalah cahaya yang berupa gelombang-gelombang frekuensi-frekuensi dan energi-energi yang tidak kasat mata, seperti aura, kharisma dan lain sebagainya, Itu semua adalah cahaya yang tidak tampak. Sedangkan cahaya yang paling rendah adalah cahaya yang memancarkan materialisme.

Bumi ini adalah kerak nya cahaya, kalau saya istilahkan, bumi dalam segelas kopi itu adalah ampasnya. Sedangkan manusia jika meninggal dunia, maka mereka tidak bisa membawa uang harta benda dan pengaruh-pengaruh yang mempengaruhi kecintaan mereka terhadap dunia. Jadi jika seseorang sudah ‘mematikan’ dirinya, menghilangkan ‘cinta’ kepada materialisme, menghilangkan ‘cinta’ dan ketergantungan kepada negara, parpol dan melepaskan baju embel-embel keduniawian sebagaimana mereka hidup tetapi seolah-olah mereka ‘mati’ di alam dunia ini, maka mereka akan melihat cahaya yang sejati (Allah). Mereka akan menjadi manusia manusia yang “Muthmainnah” yakni yang tenang hatinya, tentrem nyaman adem ayem. Sebab hati mereka sudah lepas dari benda-benda kecintaan kepada materialisme.

Saya hidup sudah melewati beberapa zaman, dari zaman Iwan Fals, Ebiet G Ade sampai sekarang adalah jaman Noah, dan saya tidak mengalami “peningkatan” secara pribadi, jika Anda melihat saya dari materialisme. Sebab dari umur 19 tahun saya sudah belajar untuk ‘melepaskan’ diri dari kecintaan pada duniawi-duniawi. Saya tidak taat kepada peraturan, Saya juga tidak taat kepada perintah-perintah materialisme.

Dalam istilah negara pun, Indonesia kalah jauh dengan Barat. Karena di Indonesia, kita diajarkan mencintai materialisme dan kapitalisme. Setiap hari kita dididik dari kecil sampai besar untuk mencari uang bukan diajarkan mempertahankan dan membelanjakan uang dengan cara yang baik. Kita diajarkan menyupir kendaraan, tapi tidak dididik untuk merakit kendaraan. Maka dalam materialisme sendiripun kita kalah oleh barat karena barat mendidik warganya dengan pendidikan, prestasi dan kebudayaan, sedangkan kita disini diajarkan  mencari materialisme, uang dan jabatan.

Saya datang kesini (Maiyyahan) bukan karena saya Ustad, dan saya tidak pernah sekalipun menganggap diri saya ini Ustad. Ustad itu benda apa? Bahkan bila anda mencarinya di dalam Al-Quran sekalipun, Anda tidak akan menemukan kata ustad. Lalu jika Anda melihat seseorang di televisi mengatakan dirinya Ustadz, coba anda tanya, Apakah ia benar-benar sedang mengajak anda kepada Allah? ataukah dia sedang berada dalam lingkaran peraturan kapitalisme dan materialisme?

Jadi jika anda sudah tenang nyaman, tidak sedih, tidak galau, gak urusan naik jabatan atau tidak, tidak terlalu senang atau tidak terlalu sedih atas apa-apa yang menimpa diri anda, maka anda sudah hampir mendekati level ‘makrifat’ yakni melihat cahaya.

Hidup ini, tolong diikmatilah, di syukuri, meskipun anda tidak bisa melihat cahaya Allah, bahkan terkadang, ketidakmelihatnya Anda terhadap cahaya, itu pun masih suatu kenikmatan sebenarnya. Sebagaimana kita tidak mengetahui isi hati istri kita, jika kita tahu semua isi didalam hati istri kita, maka jangankan setahun 2 tahun, bahkan seminggu saja kita akan bercerai karena mengetahui semua yang ada di dalam isi hati seseorang.

Saya sendiri tahu, hati siapapun. Tapi saya menutup telinga, tidak mendengarkan isi hati mereka, menutup mata tidak melihat apa yang akan diucapkannya, sebab ‘ketidaktahuan’ itu penting dalam situasi-situasi tertentu. (*)


Sumber Tulisan Video Youtube Doa Ibu Channel 


EmoticonEmoticon