August 16, 2017

Abah Otong Ciandur, Biografi, Sejarah, Riwayat dan Kisah Tauladan (Bag 1)

Tags

Baca Juga

KH.Otong Nawawi Bersama putra-putri nya

Sekilas Kampung Bulakan
Bulakan adalah sebuah desa yang berada di sekitar perut gunung Pulosari, berjarak sekitar 10 KM dari jalan raya Provinsi, Bulakan pada jaman baheula merupakan desa yang terkenal dan sangat masyhur di Kecamatan Saketi. Disamping kampungnya memang indah juga menjadi tempat berkumpulnya para kiai dan para jawara.

Dari jaman dulu, Bulakan memang terkenal sebagai tempat berkumpulnya para pemuda yang terus melakukan perjuangan melawan penjajah Belanda. Sehingga para pejabat manapun tidak ada yang berani memasuki kawasan Bulakan jika tidak menggunakan adat sopan santun. Maka tidak heran jika sampai sekarang, orang-orang Bulakan terkenal mewarisi keberanian dan kejawaraan walaupun mereka tidak dididik ilmu kanuragan oleh para leluhurnya.

Pada jaman penjajahan belanda, tidak ada desa yang ramai seperti sekarang, semua desa menjadi kosong karena semua kampung menjadi pos-pos penjagaan para tentara Indonesia, Kampung hanya diisi oleh para pejuang yang siap mati di medan perang. sedangkan para penghuni desa melarikan diri menjauhi medan perang, diantara mereka ada yang pergi ke puncak gunung dekat kawah atau bersembunyi di dalam guha.

Pada saat itu Desa yang menjadi pusat perkumpulan para jawara, Kiai dan Tabib di kawasan Saketi adalah Bulakan. Jika ada tentara atau pemuda yang tertembek oleh Belanda, mereka tidak dilarikan ke Rumah Sakit tapi dibawa langsung ke Desa Bulakan. Sebab hanya dengan tiupan semburan air dan dedaunan, luka-luka tersebut langsung hilang dengan seketika. Pos-pos Penjagaan tentara untuk wilayah Saketi pada saat itu di pimpin oleh Ki Sajong yang mempunyai pos penjagaan besar di Desa Majeug, sedangkan di Bulakan di pimpin oleh Kiai Marzuq.

Sekilas Lurah Hasan
Lurah Hasan mempunyai anak 7 yang pertama adalah Haji Rohana Sodong ke 2 haji emeng Sodong ke 3 haji Encuk Hasanah Ciandur ke 4 Abah Enjen ke 5 Bu Ucun ke 6 tidak diketahui namanya  ke 7 Kiai Mamad.

Hasan, selain menjabat sebagai Lurah juga seorang mentor yang mendirikan sekolah agama ketika awal-awal berdirinya Nahdlotul Ulama di Kecamatan Saketi. Bahkan bisa disebut sesepuh kampung sekaligus donator yang mendirikan mesjid Bulakan. Hasan juga terkenal sebagai pelindung masyarakat, termasuk yang mengurus urusan rakyat dan segala kebutuhannya, dia termasuk tokoh besar terutama di kecamatan Saketi, disegani dan ditakuti ilmu kanuragannya

Asal Muasal Kejawaraan Lurah Hasan
Suatu hari, Hasan muda mendapat ancaman dari seseorang bahwa ia akan di bunuh. Kakaknya kemudian menyuruhnya untuk melarikan diri dengan bekal Rp 6 perak. Hasan muda kemudian berguru ilmu kanuragan kepada para jawara-jawara kidul. Selain bisa membelah kelapa dengan satu jari, juga pernah di tes dengan menjatuhkan diri dari atas jurang, sedangkan di bawah jurang sudah dipasangi banyak bambu-bambu runcing. Tidak ada jawara Banten yang mampu di Tes ilmu seperti ini, hanya Hasan muda yang berani dan tidak terjadi apa-apa pada tubuhnya, berawal dari sanalah, nama Hasan muda terkenal menjadi jawara ke seantero Banten.

Mengenal Jawara Banten
Dulu dengan Sekarang, peran dan profesi para jawara Banten sangat jauh berbeda, jika dulu seorang jawara adalah pembela ulama, pembela agama dan negara, tetapi di jaman sekarang jawara lebih identik dengan profesi maling pencuri begal dan bisa ‘disogok’ menjadi bodyguard untuk melindungi pejabat.

Sepakterjang Hasan muda sebagai seorang jawara di jaman baheula sangat di takuti dan disegani masyarakat, akan tetapi pada akhirnya dia takluk dan bertaubat di tangan Kiai Abdurrohman (Pendiri UNMA Cikaliung).

Hasan muda kemudian sering mengaji ke Kiai Abdurrohman, lalu dinasehati agar cukuplah sampai di sini saja dirinya menjadi seorang Jawara. Dari sana, Hasan muda menjadi insyaf dan tidak pernah berbuat keonaran lagi sampai dia meninggal dunia.

Semasa hidupnya, Lurah Hasan berpesan kepada anak cucunya untuk tidak menjadi pejabat apalagi Lurah, sebab menurut keyakinannya, Lurah itu tidak sah menjadi imam solat, karena sering meminta pajak negara kepada masyarakat. Lurah Hasan sendiri mengakui bahwa ia sangat menyesal pernah menjadi Lurah, tapi menurutnya, ia menjadi Lurah karena terpaksa, dirinya didorong oleh masyarakat kampung Bulakan untuk menjadi pemimpin di kampung mereka.

Selain terkenal kayaraya, punya ilmu kanuragan, Lurah Hasan juga dihormati oleh masyarakat sekitar karena keturunannya menjadi Kiai semua. Dimasa tuanya, Lurah Hasan selalu mengikuti Pengajian dan selalu berharap agar keturunannya menjadi ulama.

Suatu hari ketika dalam masa pertaubatannya, Lurah Hasan mendengar cerita, jika kepingin punya anak yang baik dan bisa menjadi kiai maka harus memberi satu ekor kerbau kepada seorang ulama. Mendengar cerita tersebut, Lurah Hasan kemudian mematuhi nasehat tersebut dan mengurbankan 7 ekor kerbau dengan tujuan agar anak-anaknya menjadi Kiai semua. Niat tersebut ternyata berhasil, hingga sekarang para kiai-kiai di Pandeglang terutama kawasan Saketi adalah keturunan dari Lurah Hasan

Ketika anaknya, Encuk Hasanah menikah dengan KH.Otong Nawawi, tidak heran menantunya itu sangat disayang oleh Lurah Hasan, bahkan segala keinginan mantunya selalu dituruti. Bahkan saking disayangnya, H.Otong diminta oleh Lurah Hasan akan dijamin kehidupannya bila mau tinggal di Kampung Bulakan.Tapi H.otong menolak dengan halus.

Pada jaman baheula, barang paling mahal adalah lampu merk Patromak, juga Teko air bila dimasak maka teko tersebut bisa berbunyi, juga Sepeda merk BSA, tidak ada yang mampu membeli barang-barang tersebut kecuali Lurah Hasan. Ketika H.Otong mempunyai seorang anak laki laki (H.Humaidi) Lurah Hasan begitu gembira dan menyayangi cucunya tersebut, bahkan tidak hanya tanah dan pakaya (harta) yang diberikan kepada H, Humaidi, beberapa riwayat menyebutkan, Lurah Hasan sempat memandikan cucu kesayangannya tersebut dengan mengisi beberapa ilmu tenaga dalam sehingga membuat H.Huamaidi memiliki ‘keberanian’, disamping juga menjadi ulama yang disegani di sekitar Pandeglang.

Pada tahun 1958 M. Lurah Hasan mempunyai niat untuk menunaikan ibadah Haji, suatu malam, ketika dia berbicara menganai keinginannya tersebut, setelah solat isya, dia tergeletak terkarena penyakit. Esoknya Lurah Hasan berkeliling ke setiap kampung, setiap bertemu dengan orang yang dia kenal, dia meminta maaf kepada mereka, sehingga ada banyak sekali para pedagang dan masyarakat yang terheran-heran dengan tingkahlaku Lurah Hasan. Pada waktu itu anaknya yang bungsu, Kiai Mamad, di suruh oleh Lurah Hasan untuk pergi ke Rangkas membuatkan Jas baru. 3 hari kemudian jas tersebut di pakai nya pergi ke pengajian di Kiai Ebeng, Sodong. Esoknya dia meninggal dunia.


Riwayat Abah Otong
Otong adalah seorang santri yang sudah lama menduda karena ditinggal mati istrinya, sedangkan Encuk, anak Lurah Hasan, adalah seorang wanita janda yang mempunyai anak satu bernama Enjah. Suatu hari. H.Enong Ciandur (Tetehnya Abah Otong) yang berdagang kain di pasar bertemu dengan Te Jawarna, Pada hari itu H.Enong meminta kepada Te Jawarna agar menjadi besan.

H.Enong dan te Jawarna pun siap mempertemukan adik-adik mereka. Setelah Otong dipertemukan dengan Encuk ternyata memang itulah wanita pilihan hatinya, Sifat Encuk yang begitu nurut kepada suami, tidak pernah meminta apapun. Bahkan untuk memberi anak nya saja, Umi Encuk selalu meminta ijin terlebih dahulu kepada suaminya.

Sehingga sifat inilah yang selalu bicarakan Abah H.Otong. Bahkan dalam beberapa riwayat, Abah Otong sering mengatakan bahwa istrinya adalah seorang waliullah, karena bila hati istrinya sedikit saja tidak suka terhadap seseorang, seketika itu pula langsung terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Ketika di awal-awal mereka menikah, Enjah, anak Umi Encuk di suruh oleh Lurah Hasan untuk ditinggal saja di Bulakan, sebab menurut Lurah Hasan, biarlah Enjah, cucunya tersebut menjadi bagian keluarga Bulakan dirawat oleh mereka sampai besar. Pada akhirnya, setelah dewasa, Enjah disuruh pergi ke Ciandur menimba ilmu ke Abah Otong sekaligus tinggal bersama ibu kandungnya, Enjah kemudian dinikahkan oleh Abah Otong dengan H.Jupri, santrinya yang sudah senior. Wallahu A’lam.

Sumber Tulisan: Wawancara dengan Kiai Mamad Kampung Cimerak

Baca juga : Terjemah Kitab Risalah An-Nawawiyyah, Catatan KH.Otong Nawawi


Comments
0 Comments