November 19, 2018

Queen Elizabeth Just Had the Palace Release a Formal Message to Donald Trump

Source scmp.com
Much was said about Queen Elizabeth and Donald Trump's July meeting at Windsor Castle (did he really make her wait?) but it must've ended on at least a neutral note, because she's reaching out to him through Buckingham Palace. The monarch released a statement addressed to Trump early Saturday morning, and she weighed in on the California wildfires that have devastated the area and left 1,000 missing.

"Prince Philip and I offer our deepest sympathies to the people of California, who continue to suffer from the devastating fires across the state," she wrote.

"Our thoughts and prayers are with the family and friends of the victims, and to all those who have lost their homes and livelihoods. I pay tribute to the courage and dedication of the U.S. emergency services and the volunteers that have provided support."

As of Saturday, NBC reports that the fire is the deadliest in the United States in a century, with a confirmed death toll of 71. Queen Elizabeth is the most recent — and arguably most unexpected — person to comment on what's happening, but many celebrities who live in the area have taken to social media to talk about it.





Sebuah kiriman dibagikan oleh Camille Grammer Meyer (@therealcamille) pada

=====================
Source 

Ahmad Dhani Di Penjara, Gusti Ora Sare


Sekarang Ahmad Dhani sangat minim bicara, sepertinya dia telah merasakan tekanan hidup yang semakin ruwet saja. Hari-harinya tidak bisa dipisahkan dari berbagai masalah. Tidak hanya di Jakarta tetapi juga di Jawa Timur. Sementara kasusnya banyak sekali berbenturan. Secara psikologis ini belum ditambahkan masalah dalam kehidupan pribadinya. Meski secara hukum hal itu tidak ada hubungannya dengan pernikahan Maia Estianty dan hanya sebatas mantan istri tapi bagaimanapun, Maia adalah ibu dari anak-anaknya.

Ahmad Dhani mungkin terlihat gugup dalam menanggapi pernikahan mantan istrinya tersebut. Tapi yang jelas saat ini Maia Estianty sudah bahagia dengan pria yang jauh lebih dari sekedar Ahmad Dhani. Tentu saja, bagi Ahmad Dhani ini merupakan pukulan serius pada psikologisnya. Meskipun ia menyembunyikannya dengan sikapnya yang selalu angkuh dan dingin. Tetapi kita bisa melihat gejolak di dalam otaknya melalu berbagai akun media sosialnya, akhir-akhir ini ia sering menampilkan foto masa lalunya dengan Maia dan anak-anaknya. Intinya, Ahmad Dhani ini semakin hari semakin baper tetapi selalu saja ia sembunyikan dengan sikap angkuh.

Sekarang, Ahmad Dhani harus menerima kenyataan pahit dari semua sikap arogan dan angkuhnya. Kita tentu ingat cuitannya yang menjijikan saat itu.

"Siapa saja yang mendukung si Penista Agama adalah Bajingan yg perlu di ludahi muka nya - ADP."

"Sila pertama KETUHANAN YME... PENISTA Agama kok jadi Gubernur ... kalian WARAS ??? - ADP".

Karena tindakan merendahkannya yang luar biasa terhadap orang lain dan sifat arogannya, sekarang si Dhani harus berdukacita akan nasibnya sendiri. Orang yang sombong arogan dan merasa hebat ini sebentar lagi akan segera menghilang dari muka bumi. Dia akan banyak mengalirkan air mata saat sendirian di toilet yang sempit.

Ahmad Dhani dilaporkan oleh Jack Boyd Lapian, dengan tuduhan menebar kebencian terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada 9 Maret 2017. Jack Lapian adalah pendiri Cyber ​​Indonesia yang juga pendukung Ahok dalam pemilihan Gubernur tahun lalu.

Bukti yang termasuk dalam laporan itu mengambil sejumlah bukti catatan di akun Twitter pribadi milik Ahmad Dhani. Untuk argumennya yang menjijikan, Ahmad Dhani dituduh melakukan ujaran kebencian karena melanggar Pasal 45A ayat 2 Pasal 28 Ayat 2 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik bersamaan dengan Pasal 55 Ayat 1 sampai KUHP Pertama.

Dengan dakwaan ini, musisi yang kini menjadi kandidat dari Partai Gerindra itu terancam hukuman maksimal enam tahun penjara.

Ahmad Dhani dipastikan akan hadir di persidangan kasus ujaran kebencian di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan hari ini, Senin 19 November 2018. Agenda sidang hari ini diputuskan oleh panel hakim setelah semua bukti dan saksi diselesaikan dua minggu lalu.

Kepastian kehadiran seorang musisi yang telah mengubah namanya dari Dhani Ahmad Prasetyo menjadi Ahmad Dhani Prasetyo itu disampaikan oleh pengacaranya, Ali Lubis, ketika dihubungi pada hari Minggu, 18 November 2018. "Pertemuan tersebut direncanakan sekitar pukul 14.00 WIB," Kata Ali. -tempo.co-

Sebagai calon dari Partai Gerindra, melihat tindakan Ahmad Dhani ini sejak 2014 lalu sampai detik ini belum terlihat bahwa Prabowo Subianto bersimpati kepadanya. Tentu ini menjadi tanda tanya banyak pihak. Ahmad Dhani sekarang tinggal berjuang sendirian dengan semua kasus yang mengelilinginya. ini juga bisa menjadi salah satu sisi karakteristik seorang Prabowo, disamping  secara politisi hal ini tidak terlalu menguntungkan baginya (Prabowo).

Secara politik, jika Prabowo masuk terlalu jauh dan vulgar membela si Dhani, tentu akan menjadi preseden buruk bagi publik. Dengan kata lain, kasus Ahmad Dhani ini sangat memalukan bagi Gerindra dan Prabowo Subianto sendiri. Jika terlalu membela, Prabowo bisa terkena getahnya.

Sikap partai dan Ketua umum Gerindra ini seharusnya membuat Ahmad Dhani menjadi lebih sadar diri. Sejauh ini mungkin si Dhani telah berpikir bahwa dia telah disia-siakan oleh Prabowo. Ketika ada banyak masalah yang melanda Prabowo dia juga pada saat yang sama digunakan untuk kepentingan kelompoknya, tetapi ketika dia mendapatkan banyak masalah semua orang malah menjauhinya.

Kita bisa membaca di sini bahwa ada hukuman maksimal 6 tahun penjara, artinya dengan pertimbangan hakim dan pembelaannya, bisa jadi hukuman tersebut minimal hanya 3 tahun penjara saja. Tentu saja 3 tahun pun sudah cukup membuat si Dhani menangis di penjara. Pertanyaannya "Bagaimana dengan Mulan Jameela?" Ahh sudahlah, yang penting "Gusti ora sare". Salam

November 18, 2018

Perbedaan Muhammadiah dan Nu, Soal Taraweh, Adzan, Hilal


KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy'ari adalah teman, keduanya sama-sama terkait dengan ilmu agama di Arab Saudi. Apakah keduanya ahli hadis dan keduanya ahli hukum?. Ketika mereka ingin kembali ke tanah air, keduanya membuat kesepakatan untuk menyebarkan Islam sesuai dengan keterampilan dan lingkungan mereka. Kiai Ahmad Dahlan terlibat dalam pendidikan dakwah di kota, karena berasal dari Kuto Ngayogyokarto. Sedangkan Kiai Hasyim memilih pendidikan pesantren karena wong ndeso, Jombang. Keduanya adalah orang-orang hebat, tulus dan mulia.

Keduanya berjuang untuk kemerdekaan negara ini dengan mendasarkan anak bangsa dengan pendidikan dan agama. Kiai Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah sedangkan Kiai Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama (NU).

Ketika beliau berdua masih hidup, sistem ibadah yang dipraktikkan di masyarakat pada umumnya sama meskipun ada perbedaan yang tidak mengganggu sama sekali. Contoh-contoh kesamaan dalam praktik ibadah pada saat itu termasuk:

1. Doa Tarawih sama 20 rakaat. Kiai Ahmad Dahlan sendiri dikatakan sebagai imam shalat Tarawih 20 rakaat di Masjid Yogya Syuhada.
2. Talqin berada di kuburan, bahkan ziarah kuburan dan mengirim doa di Yasinan dan tahlilan.
3. Baca doa Qunut Shubuh.
4. Keduanya suka membaca doa (Diba'an).
5. Dua kali khotbah dalam doa Idul Fitri dan idhl Adha.
6. Tiga kali takbir, "Allah Akbar", di takbiran.
7. Kalimat iqama (qad qamat ash-sola) diulang dua kali.
8. Dan yang paling monumental adalah itsbat hilal, bersama-sama menggunakan rukyah. Yang terakhir ini menarik untuk direnungkan, tidak dinilai mana yang benar dan apa yang salah.

Semua praktik di atas berjalan beberapa dekade dengan damai dan menyenangkan. Semuanya ditulis dalam buku Fiqh Muhammadiyah yang terdiri dari 3 jilid, diterbitkan oleh: Bagian Muhammadiyah Taman Pustaka Jogjakarta, pada tahun 1343 H. Tetapi ketika Muhammadiyah membentuk Majlis Tarjih, di sinilah ada penataan praktik ibadah yang tampaknya "harus berbeda" dari apa yang sudah ditetapkan dan digariskan oleh pendahulunya. Otomatis berbeda pula pola pemujaan orang-orang Nahdhiyyin dengan Muhammadiah.

Diduga, penampilan berbeda ini lebih banyak dipengaruhi oleh politik ketimbang karena hujjah hujjah atau ibadah afdhaliah. Untuk ini, ada tesis yang meneliti hadits yang digunakan sebagai referensi oleh Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam menentukan hukum atau pola ibadah yang dipilih.

Setelah menguji standar mutawassith takhrij, kesimpulannya adalah: bahwa mayoritas hadits yang digunakan oleh Majlis Tarjih adalah dha'if. Itu belum dibesar-besarkan dengan menggunakan versi Ibn Ma'in dari tes takhrij standar mutasyaddid.

Dalam hal ini, menurut mayoritas al-Muhadditsin, tradisi dha'if tidak boleh digunakan sebagai penilaian hukum, tetapi ditoleransi sebagai dasar untuk praktik keagamaan atau fadhail al-a'mal. Pada tahun 1995, ditemukan sebuah tesis di Perpustakaan Pascasarjana di Sunan Kalijaga IAIN Yogyakarta.

Di dalam tesis tersebut menyimpulkan sebuah pertanyaan tentang argumen yang dicari, kemudian tentu saja memiliki efek pada perubahan praktik ibadah di masyarakat, jika tidak disebut sebagai membingungkan. Misalnya, ketika Majlis Tarjih memutuskan jumlah shalat rakaat Tarawih adalah 8 ditambah 3 kali, bagaimana praktiknya?

Di awal instruksi, Muhammadiah menggunakan komposisi: 4, 4, 3. Empat rakaat dari satu ucapan, empat rakaat dari satu ucapan. Ini untuk Tarawih. Dan tiga rak'ah untuk Witir. The Three Writers Model seperti ini adalah pada saat yang sama versi sekolah Hanafi. Sementara Wong NU menggunakan dua atau dua kali dua kali semuanya dan menutup satu Witir. Ini adalah versi Asy-Syafii.

Tetapi pada tahun 1987, praktik doa empat-empat Tarawih diubah menjadi dua. Ini berdasarkan daya tarik KH. Shidiq Abbas Jombang ketika halaqah di Masjid al-Falah di Surabaya. Dia mempresentasikan hadis dari Sahih Muslim yang meriwayatkan tentang masalah ini. Karena, kualitas hadits Muslim lebih valid daripada empat empat hadis, semua peserta tunduk.

Akibatnya, tahun itu ada selebaran keputusan Majlis Tarjih yang diedarkan ke semua masjid dan musholla di lingkungan Muhammadiyah, bahwa praktek shalat Tarawih menggunakan komposisi dua-dua, hingga sekarang, meskipun beberapa masih bertahan dalam empat-empat. Ini adalah fakta sejarah.

Sekarang soal hilalnya menggunakan rukyah. Semua astronom, terutama yang berasal dari Muhammadiyah harus memahami dan bahwa Muhammadiyah terbiasa menggunakan rukyah bahkan dalam tingkat yang tinggi. Ini berlanjut hingga era orde baru yang dipimpin oleh Pak Harto. Karena orang-orang Muhammadiyah mengendalikan Kementerian Agama pada saat itu, mereka tetap bersikukuh pada derajat hilal yang tinggi, tiga derajat ke atas dan sepenuhnya menolak dua derajat. Dan inilah yang selalu digunakan oleh pemerintah. Sementara para astronom Nadhliyyin juga menggunakan rukyah tetapi mereka tetap menerima yang dua ke bawah.

Oleh karena itu, pada tahun 90-an, tiga kali berturut-turut orang-orang NU Berlebaran pertama karena hilal adalah dua derajat, sementara Pemerintah Muhammadiyah tidak menerimanya karena standar yang digunakan adalah bulannya harus sempurna istikmal. Ada lima atau lebih tim rukyah gabungan yang menyatakan bulan baru akan ditutup, tetapi tidak diterima oleh Departemen Agama, meskipun pengadilan setempat telah bersumpah dan melaporkannya ke Jakarta. Itulah perbedaan standar tingkat hilal antara Muhammadiyah dan NU. Masing-masing bertahan dalam pendiriannya.

Setelah Pak Harto mengundurkan diri dan Gus Dur menjadi presiden, orang-orang Muhammadiyah berpikir cerdas dan tidak ingin dipermalukan di depan publik mereka sendiri. Artinya, jika mereka masih menggunakan standar hilal yang tinggi, sementara mereka tidak lagi mengendalikan pemerintah, perbedaan lebaran pasti akan berlanjut. Dan itu artinya mereka merasa mulai kalah cerdas dan kalah pintar. Kemudian mereka mengu pola pikir dan dalil tentang hilal. Mereka tampak radikal dan meninggalkan rukyah berderajat tinggi. Tapi mereka tetap tidak menerima menggunakan metode hilal, karena itu sama dengan NU.

Kemudian mereka Muhammadiah membuat metode "wujud al-hilal". Artinya, prinsip bulan baru menurut perhitungan atau astronomi mereka telah muncul di atas cakrawala, bagaimanapun tingginya derajat, bahkan nol koma, dianggap sebagai bulan purnama atau yang sudah dianggap sempurna. Jadi tidak perlu malu seperti sebelumnya, terutama tim rukyah yang didukung oleh pemerintah. Hadits yang dielu-elukan, ayat-ayat Al Qur'an berisi "taatlah kepada Allah, Rasul-Nya dan Ulil Amri" dibuang dan seperti alergi mendengar hal itu. Kemudian mereka mencari proposisi baru sesuai selera mereka.

Apakah metode ini sudah populer dalam "wujud al-hilal" dalam tradisi keilmuan selestial(Ilmu Falak)? Tentu tidak sama sekali, baik cendekiawan pertama dan sekarang.

Di sinilah, Muhammadiyah kembali membuat perbedaan dengan NU. Di masa lalu, hilal Muhammadiyah harus memiliki tingkat yang tinggi, yang mau tidak mau melahirkan keputusan yang berbeda dengan NU, sekarang membuang derajat sepenuhnya dan tidak perlu hilal berderajat tinggi, yang penting adalah hilal telah muncul tanpa memandang derajat. Sementara NU tetap pada standar rukyah, meskipun itu dalam derajat dua atau kurang. Tentu saja Muhammadiah harus selalu berbeda dari NU. Jadi, selamanya itu NU dan MD tidak akan bisa disatukan, karena mereka sengaja  mengajak berbeda.

Dilihat dari fakta-fakta historisnya, pembaca dapat menilai sendiri siapa yang sengaja membuat perbedaan, dengan sengaja tidak ingin bersatu, siapa pelakunya di antara orang-orang tersebut?

Menanggapi dua versi Idul Fitri, warga Muhammadiyah harus bisa tenang karena mereka telah terbiasa dilemparkan dengan perubahan dalam pemikiran pemimpin mereka. Masalahnya adalah, bisakah sikap, tindakan atau komentar mereka menenangkan orang lain?

Kasus-kasus dalil nash atau logika, Ilmu Astronomi klasik atau neutika, rubu' atau teropong modern, mereka memiliki keduanya. Memang, jika argumen itu dicari kemudian dipaksakan, sangat mudah untuk mematahkannya.

Hebatnya, semua ilmuwan Muhammadiyah yang akademis dan selalu berkata kritis, kali ini diam dan semuanya tunduk pada keputusan Majlis Tarjih. Tidak ada yang mengkritik, meskipun kelemahan akademik harus ada di sana.
(Diedit ulang dari tulisan-tulisan Ustadz Sulaiman Timun Mas).

November 17, 2018

Bagaimana Sistem Ekonomi di Indonesia, Ciri has, Ciri Negatif dan Sejarahnya


Sistem ekonomi yang diadopsi oleh Negara Indonesia adalah sistem ekonomi demokratis, yakni  bahwa ekonomi nasional merupakan manifestasi dari filsafat Pancasila dan UUD 1945 yang didasarkan pada kekeluargaan dan kerja sama dari, oleh dan untuk orang-orang di bawah (Rakyat). Sistem ekonomi ini memiliki basis ideal Pancasila dan UUD 1945 yang bersifat konstitusional

Ciri khas dari sistem ekonomi demokrasi ekonomi mencakup:
- Sistem ekonomi yang terstruktur sebagai usaha bersama atas dasar kekeluargaan.
- Cabang cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang mendominasi kehidupan rakyat yang dikendalikan oleh Negara.
- Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya harus dikendalikan oleh Negara dan digunakan untuk kesejahteraan rakyat
- Hak milik yang diakui pemanfaatan peorangan tidak boleh bertentangan dengan kepentingan publik.
- Anak-anak miskin dan terlantar berhak atas jaminan sosial.

Ciri negatif yang harus dihindari dalam demokrasi ekonomi:
- Sistem persaingan bebas (free fight liberalism) yang akan menyebabkan humini homo lupus.
- Sistem etatisme yang memberikan peluang bagi pemerintah untuk mendominasi ekonomi, sehingga akan mematikan potensi dan kreativitas masyarakat.
- sistem yang memusatkan kekuatan ekonomi monopoli pasa suatu kelompok tertentu yang bisa merugikan masyarakat.

DASAR IDEAL UNTUK SISTEM EKONOMI INDONESIA

Dasar ideal normatif bagi sistem ekonomi di Indonesia adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Dengan demikian, sistem ekonomi di Indonesia berorientasi pada sistem ekonomi kepada Tuhan Yang Maha Esa (etika dan kekuatan moral agama, bukan materialisme);

Manusia yang adil dan beradab (tidak tahu pemerasan atau eksploitasi); Asosiasi Indonesia (terjadinya kebersamaan, keluarga, sosio-nasionalisme dan sosial-demokrasi dalam ekonomi); Kewarganegaraan (kehidupan ekonomi rakyat dan penghidupan masyarakat); dan Keadilan Sosial (persamaan / emansipasi, kemakmuran publik utama - bukan kemakmuran individu).

Dari poin-poin di atas, keadilan menjadi dominan dalam sistem ekonomi di Indonesia. Keadilan adalah titik awal, proses dan tujuan yang sama. Pasal 33 UUD 1945 adalah artikel utama bertumpunya sistem ekonomi Indonesia yang berlandaskan Pancasila, aparaturnya, yaitu Pasal 18, 23, 27 (ayat 2) dan 34.

Berdasarkan TAP MPR XXIII / 1966, butir-butir Ekonomi Demokrasi berikut (kemudian menjadi ketentuan dalam Pedoman pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988), yang meliputi penegasan penerapan Pasal 33, 34, 27 (ayat 2) , 23 dan butir yang berasal dari Anggaran Dasar hak milik sosial yang berfungsi sebagai kebebasan untuk memilih jenis pekerjaan.

Dalam Pedoman 1993 butir Ekonomi Demokrasi ditambah dengan unsur-unsur Pasal 18 UUD 1945 pada tahun 1998 dan Pedoman Pedoman 1999, butir-butir Ekonomi Demokrasi tidak dipanggil lagi dan diharapkan untuk "dikembalikan" ke Pasal asli UUD 1945.

Landasan dari bimbingan moral dan etika moral normatif yang imperatif ini, menempatkan orang pada posisi mulia, rakyat sebagai penguasa, rakyat sebagai orang-orang yang memuliakan Tuhan, yang hidup dalam persaudaraan satu sama lain, saling membantu dan bekerja bersama.

Dalam sistem ekonomi dunia ini dapat dibagi menjadi tiga, sistem kapitalis yang berorientasi pada kebebasan dan penimbunan modal, sistem ekonomi sosialis yang berfokus pada kesetaraan dan kesejahteraan bersama, serta sistem ekonomi campuran yang merupakan kombinasi dari dua sistem ekonomi di atas.

Indonesia adalah negara yang termasuk mengadopsi ekonomi campuran yang menggabungkan antara sistem ekonomi kapitalis dan liberal. Lebih tepatnya Indonesia mengadopsi manifestasi demokrasi ekonomi yang berasal dari filsafat Pancasila dan UUD 1945 yang berasaskan kekerabatan dan gotong royong, oleh dan untuk rakyat di bawah kepemimpinan dan pengawasan pemerintah.

SEJARAH

• 1950-1959: Sistem ekonomi liberal (periode demokrasi)
• 1959-1966: etatisme ekonomu System (Era Demokrasi Terpimpin)
• 1966-1998: Sistem ekonomi Pancasila (demokrasi ekonomi)
• 1998-sekarang: sistem ekonomi dari Pancasila (demokrasi ekonomi) yang dalam prakteknya cenderung liberal

Di beberapa negara, dinamika proses pembangunan ekonomi dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu internal (domestik) dan eksternal (global). Yang termasuk ke dalam faktor internal adalah kondisi fisik (iklim), lokasi geografis, kuantitas dan kualitas sumber daya alam, sumber daya manusia, dan kondisi awal ekonomi. Faktor eksternal termasuk perkembangan teknologi, kondisi politik dan ekonomi dunia, serta keamanan global.

Sudah hampir 66 tahun kemerdekaan Negara Indonesia. Namun, kondisi ekonomi Indonesia tidak membaik. Masih ada ketimpangan ekonomi, kemiskinan dan pengangguran yang sangat tinggi, dan pendapatan per kapita masih rendah. Untuk memperbaiki sistem ekonomi di Indonesia, kita perlu mempelajari sejarah ekonomi Indonesia sejak masa orde lama hingga masa reformasi.

Dengan mempelajari sejarahnya, kita dapat mengetahui kebijakan ekonomi apa yang telah diambil pemerintah dan dampaknya terhadap ekonomi Indonesia dan apa kontribusinya untuk mengatasi masalah ekonomi yang ada. Sistem ekonomi di Indonesia dibagi menjadi 3 Pemerintah selama orde lama, orde baru, dan reformasi.

Sejak berdirinya negara RI, telah banyak pemimpin negara pada saat itu yang memiliki hak untuk merumuskan masalah ekonomi bagi rakyat Indonesia, baik secara individu maupun diskusi kelompok. Seperti Bung Hatta sendiri, selama masa hidupnya ia memiliki gagasan, bahwa ekonomi di Indonesia sesuai cita-cita dasar yakni membantu koperasi tetapi tidak berarti bahwa semua kegiatan ekonomi harus dilakukan di dalam koperasi, memaksa bentuk ini berarti telah melanggar basis ekonomi dari koperasi.

Demikian juga, tokoh ekonomi Indonesia pada saat itu, Sumitro Djojohadikusomo, dalam sebuah pidato di Amerika Serikat pada tahun 1949, menegaskan bahwa yang dicita-citakan adalah semacam ekonomi campuran. Pada tahun 1945, sistem ekonomi Indonesia tercantum dalam Pasal 23, 27, 33 & 34. Demokrasi Ekonomi dipilih karena memiliki karakteristik positif yaitu (Suroso, 1993) Ekonomi terstruktur sebagai usaha bersama berdasarkan prinsip keluarga.

Dalam perekonomian Indonesia tidak memungkinkan untuk:
1.Melawan liberalisme, yaitu adanya upaya kebebasan yang tidak terkendali
2.Etatisme, pemerintah terlalu dominan dalam keikutsertaan
3.Monopoli, suatu bentuk konsentrasi kekuatan ekonomi dalam kelompok tertentu,

Meskipun pada awal perkembangan ekonomi, Indonesia sudah mengadopsi ekonomi Pancasila, dan demokrasi ekonomi, tetapi belum tentu sistem ekonomi liberal dan etatisme pernah terjadi di Indonesia. 1957an 1950an - tahun-tahun awal adalah bukti pola historis mereka yang liberal dalam permasalahan ekonomi Indonesia. Begitupun sistem etatisme, yang mewarnai sistem ekonomi Indonesia pada 1960-an hingga orde baru

Namun, semua program dan rencana diatas tidak memberikan hasil yang berarti bagi perekonomian Indonesia. Beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan ini adalah:
     - Program-program ini disusun oleh tokoh-tokoh yang relatif tidak berada di lapangan, tetapi oleh tokoh-tokoh politik, karena keputusan tersebut dibuat cenderung mentitikberatkan pada isu-isu politik, bukan masalah ekonomi.
     - Kelanjutan dari hasil di atas, negara harus mendanai dialokasikan untuk kepentingan kegiatan ekonomi, itu malah dialokasikan untuk kegiatan politik dan perang
     - Faktor berikutnya adalah terlalu singkatnya kabinet masing-masing yang dibentuk (setiap waktu parlemen). Tidak kurang dari 13x pergantian kabinet pada saat itu. Akibatnya, program dan rencana ekonomi yang telah disiapkan masing-masing kabinet tidak dapat sepenuhnya dijalankan.
     - Selain itu, program dan rencana kurang menarik perhatian pada potensi dan aspirasi dari berbagai pihak. Selain itu, keputusan individu dan pengaruh partai berada di dominankan daripada kepentingan pemerintah dan negara. Mungkin dipengaruhi untuk menggunakan sistem ekonomi yang tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia (liberal, 1950s 1957) dan etatisme (1958-1965)

Orde Baru berlangsung dari 1968 hingga 1998. Selama waktu ini, ekonomi Indonesia berkembang pesat meskipun disertai dengan praktik maraknya korupsi di negara Indonesia. Selain itu, kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin juga melebar cukup jauh.

Pada tahun 1968, Majelis MPR secara resmi memutuskan Suharto untuk menjabat presiden dalam jangka waktu 5 tahun, dan ia kemudian menjabat secara berturut-turut pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan [[1998].

Presiden Soeharto memulai "Orde Baru" di dunia politik Indonesia dan secara dramatis mengubah kebijakan luar negeri dan negara dari jalan Soekarno pada akhir masa jabatannya. Orde Baru memilih perbaikan dan pembangunan ekonomi sebagai tujuan utama dan mencakup kebijakan Administratif melalui struktur yang didominasi militer, tetapi dengan saran dari orang-orang yang terpengaruh oleh antek asing (Barat).

DPR dan MPR tidak berfungsi secara efektif. Para anggota kabinet Soeharto sering dipilih dari militer, terutama yang dekat dengan keluarga Cendana. Hal ini mengakibatkan aspirasi masyarakat sering terdengar hambar oleh pusat. Distribusi PAD juga tidak adil karena 70% PAD per provinsi harus dibayarkan ke Jakarta setiap tahunnya, sehingga memperlebar kesenjangan pembangunan antara pusat dan daerah.

PELAKU EKONOMI

Jika dalam mikroekonomi kita mengenal tiga pelaku ekonomi, yaitu:
• Pemilik faktor produksi
• Konsumen
• Produser

Dan jika dalam makroekonomi kita mengenal empat pelaku ekonomi:
• Sektor rumah tangga
• Sektor swasta
• Sektor pemerintah, dan
• Sektor luar negeri

Wali Banten, Mengenal Syekh Daud Cigondang, Keramat dan Perjalanan Hidupnya


Ziarah ke makam orang suci menjelang bulan suci Ramadan bagi sebagian besar umat Islam adalah tradisi sakral. Ini terbukti di tempat ziarah atau makam suci Syeh Daud bin Syeh Sohib di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, banyak warga mengunjunginya baik warga Banten sendiri maupun di luar daerah Banten.

Makam Syeh Daud bin Syeh Sohib terletak di Desa Cigondang, Kecamatan Labuan Pandeglang, Makam keramat ini sangat terkenal di wilayah Banten dan di luar penduduk Banten. Sehingga tidak aneh ketika mendekati bulan puasa, banyak warga berziarah. Tidak hanya menjelang bulan puasa, di bulan-bulan lain pun para peziarah banyak berdatangan ke makam ini seperti bulan Maulid. "Peziarah dari luar daerah itu seperti dari Bogor, Bekasi, Cirebon, Solo, Indramayu, Jawa Tengah dan Sumatra," kata KH Aip Dudi, pengelola tempat suci atau makam Syekh Daud bin Sohib.

Makam Syeh Daud sendiri merupakan bagian dari makam suci dan sakral di wilayah Pandeglang. Ada dua makam suci lagi di Pandeglang yang ramai dikunjungi orang, yaitu makam Syeh Mansyur di Desa Cikadueun, dan Syeh Asnawi di Desa Caringin.

Ketiga makam ini merupakan wisata religius di Kabupaten Pandeglang yang paling banyak dikunjungi warga. KH Aip menjelaskan bahwa sudah menjadi kebiasaan masyarakat dalam menghadapi bulan puasa peziarah dari Banten dan di luar daerah berkunjung ke sini. "Selain bulan puasa, ada bulan-bulan tersibuk lainnya seperti Rajab, Syawal, Ruwah dan Mulud," katanya, seraya mengatakan bahwa peziarah biasanya datang berkelompok menggunakan bus pariwisata. "Ada juga yang datang sebagai keluarga dan ada juga yang datang sendiri-sendiri."

Para peziarah datang ke makam untuk berdoa bagi Sheh Dawud sebagai seorang sarjana muslim yang sangat hebat pada masanya. "Mereka ingin berdoa untuk orang tua yang telah pergi lebih dulu, intinya seperti itulah. Mungkin datang ke kuburnya secara langsung memberi banyak pelajaran untuk diri sendiri dan mengingatkan kita akan kematian," katanya, seraya menambahkan bahwa Syeh Daud masih terhubung dengan Syeh Asnawi di Caringin, para peziarah dari Banten dan di luar Banten datang berombongan menggunakan kendaraan besar, hal ini tentunya menjadi keuntungan tersendiri bagi penduduk setempat, bagaimanapun banyak penduduk setempat memanfaatkan kerumunan ini untuk menjual makanan dan minuman dan layanan lainnya.

Keramat Syekh Daud, Waliullah Paling Langka

Syekh Daud sendiri ditengarai memiliki banyak keramat, seperti banyak diketahui masyarakat, semasa hidupnya beliau tidak memiliki anak, hal ini karena kesibukannya dalam berdakwah, banyak orang yang tidak mengenal kalau Syekh Daud ini adalah seorang waliullah, walaupun beliau sendiri memang selalu menyembunyikan kewaliannya.

Tetapi Allah tidak ingin hambanya terlantar begitu saja di dunia yang fana ini, Allah ingin menunjukan kepada penduduk dunia siapa sebenarnya syekh Daud ini. pada hari kematiannya, jasad syekh Daud tidak bisa dimandikan, salah seorang waliullah tiba-tiba hadir untuk memberi petunjuk kepada masyarakat agar istri beliau masuk kedalam kamar untuk 'menemani' jasad syekh daud terlebih dahulu.

Kemudian istri syekh Daud ini masuk kedalam kamar, setelah itu jasad syekh Daud bisa dimandikan. Apa sebenarnya yang terjadi pada syekh Daud? mungkin para pembaca banyak yang bertanya demikian, tetapi ini merupakan suatu keramat yang jarang terjadi pada waliullah manapun, ini merupakan keramat yang sangat langka.

Setelah jasad syekh Daud dikebumikan, satu tahun kemudian, istri syekh Daud melahirkan seorang putra, saya sendiri tidak tahu namanya siapa, tetapi putra syekh Daud ini dijuluki oleh orang sekitar dengan sebutan Syekh Ajib dalam bahasa arabnya adalah Manusia Ajaib, mengapa disebut ‘Ajib atau manusia ajaib? itu karena syekh Ajib lahir dari (Maaf) benih orang yang sudah meninggal dunia.

Itulah keramat syekh Daud yang menggemparkan dunia. Tidak ada keramat yang seperti ini, jika seorang wali bisa terbang dari Banten ke Mekkah atau sebaliknya itu sudah lumrah, tetapi keramat yang seperti ini sungguh jarang terjadi. Bayangkan saja semasa hidupnya beliau tidak punya anak, dan ketika beliau meninggal dunia, jasadnya bisa mengeluarkan ‘benih’ yang masuk ke janin istrinya dan membuahkan bayi yang bisa hidup.

Sungguh ini merupakan peristiwa ajaib yang sangat langka di dunia, maka putra beliau ini diberi julukan Syekh Ajib atau bayi ajaib atau manusia ajaib. Semenjak saat itu orang-orang meyakini bahwa Syekh Daud ini merupakan waliullah yang punya banyak keramat.

Begitulah cara Allah memuliakan para hambanya, tidak ada yang bisa menyangkal akan kehendak Allah, jika Allah sudah berkehendak, meskipun orang sudah meninggal dunia, tetapi jasad orang yang sudah meninggal bisa membuat ‘anak’ yang hidup.

Syekh Ajib sendiri semasa hidupnya banyak berdakwah keliling dari satu kampung ke kampung lainnya, Syekh Ajib dikebumikan di kampung Sangkan Desa Kananga Kecamatan Menes.