December 11, 2017

17 Bukti, Ekonomi Cina Melewati Amerika Serikat



"China adalah negara berkembang besar dengan sejarah panjang feodalisme dan praktik kapitalisme, Cina memiliki populasi terbesar di dunia yang terdiri dari 70% petani. Pertumbuhan berkelanjutan yang luar biasa dari ekonomi Cina selama lebih dari dua dekade, tanpa diragukan lagi, Cina menjadi salah satu transformasi terbesar dari ekonomi dan politik internasional. China mencapai prestasi tersebut karena mereka bisa menggabungkan perkembangan dunia menggunakan selektif modal dan teknologi yang berasal dari negara kapitalis maju, mensubordinasi untuk kepentingan sebagian besar sosialisasi negara bagian. Semua dikendalikan oleh Partai Komunis China (CPC) yang merupakan partai terbesar dunia, dengan lebih dari 100 juta anggota dan tujuan utamanya secara bertahap membangun sebuah masyarakat sosialis.

Jacob David Blinder


Era dominasi ekonomi AS di dunia secara dramatis berakhir sudah. China saat ini tengah menjelma menjadi ekonomi raksasa terbesar di dunia. Seorang pakar ekonom, Michael Snyder mengungkapkan 17 aspek lain bahwa Cina benar-benar telah membuktikan dirinya dalam mengungguli Amerika Serikat:

1) Dalam dekade terakhir ekonomi China tumbuh tujuh kali lebih cepat dari AS;

2) Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan bahwa China adalah ekonomi terbesar di dunia: mewakili 16,47% dari GDP global diukur dalam Purchasing Power Parity (PPP), dibandingkan 16,27% dari Amerika Serikat;

3) Sejak tahun 2000 PDB AS menurun; tidak seperti GDP China yang terus tumbuh dalam 14 tahun berturut-turut;

4) Hal ini diprediksikan bahwa perekonomian China membuktikan tiga kali lebih besar dari Amerika Serikat pada tahun 2040;

5) Jika Anda terus mengikuti perkembangan dunia, dalam 30 tahun yang akan datang, bisa jadi salah satu negara Cina, rata-rata akan lebih kaya dari seorang warga negara AS;

6) Sejak tahun 2005 Amerika Serikat menghabiskan $ 1,1 triliun pada produk dan jasa yang berasal dari China, sedangkan China hanya membeli $ 300 miliar barang dan jasa dari Amerika

7) Defisit perdagangan Amerika Serikat dengan China sekarang 27 kali lebih besar, dan itu bermula dari tahun 1990. Sejak itu Cina memasuki Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada tahun 2001, angka ini meningkat sebesar 18% per tahun;

8) Pada tahun 2010 Cina melampaui Amerika Serikat sebagai konsumen energi terbesar di dunia;

9) Sekitar 46 ribu pabrik yang dimiliki orang China, telah pindah ke Amerika Serikat. Ini membuktikan bahwa Cina telah menjelma menjadi raksasa terbesar dunia sejak mereka bergabung dengan WTO

10) China menjadi produsen terkemuka di dunia dari generator aero dan panel surya untuk menghasilkan listrik;

11) Negara China mengontrol 97% dari yang disebut sebagai bahan langka, yakni bahan dan elemen penting untuk menciptakan produk teknologi dan industri;

12) The ekspor teknologi tinggi dari China ternyata dua kali lebih tinggi dari AS;

13) China memiliki pasar terbesar untuk mobil baru di dunia;

14) China memiliki cadangan devisa lebih banyak dari negara lain;

15) China adalah negara ekonomi terbaik dan terbesar di dunia, dan merupakan negara importir emas terbesar yang tidak terkalahkan

16) China adalah negara yang menjadi pemimpin dunia dalam bidang penelitian ilmiah dan pemohon paten terbanyak

17) Cina memproduksi dua kali lebih banyak kapas, tiga kali lebih batubara dan sebelas kali lebih baja dari Amerika Serikat.

November 8, 2017

Kisah Pedagang Tahu Bulat, Jangan Biasakan Berdagang di Waktu Magrib!


Hari Menjelang Petang, kumandang Maghrib menggema di seantero kota Pandeglang, orang-orang tua dan para pemuda beranjak ke mesjid melaksanakan solat magrib, keadaan desa begitu sepi dan sunyi, dengan ompreng-omprengan dan tak kenal waktu, mobil losbak colt buntung itu merayap di sisi jalan Kampung Cicadas, di belakangnya terdapat gerobak yang di jaga oleh seorang pemuda dengan wajah lelah muka dekil, penuh daki dan keringat belum mandi, sambil sesekali pemuda tersebut merapihkan tahu-tahu bulat yang baru saja digorengnya, ia tumpukan di dalam lemari dagangannya

“Tahu bulat, tahu bulat.. wak waw.. Tahuuuu bulat, digoreng dadakan… lima ratusan… haraneut keneh…wak waw”

Suara itu berbunyi nyaring membelah kesunyian kampung Cicadas, walau tak ada satupun warga melirik mereka, tapi suara itu terus saja berbunyi berkali-kali melantunkan lagu-lagu indah tahu bulat wakwaw tanpa bosan.

Nah, cerita ini saya dapat dari seorang teman yang kebetulan menjadi tetangga dari si pedagang tahu bulat wakwaw tersebut, di suatu malam, ia mendengar jeritan si pedagang tahu bulat, yang menerit berkali-kali terdengar sampai kerumahnya, dengan perasaan kaget, teman saya langsung menghampiri rumah si pedagang tahu tersebut, di kira ada apa ternyata si pedagang tahu itu sedang duduk lesu sambil menangis sejadi-jadinya, di tangannya tergenggam daun-daun kering yang begitu banyak, teman saya menanyakan apa yang sedang terjadi?

Dengan wajah sedih si pedagang tahu bercerita bahwa ia baru saja pulang dari hasil mencari nafkah, kira-kira pada waktu magrib, ketika orang-orang pergi ke mesjid dia terus saja meneriakan suara tahu bulat wakwaw tersebut tanpa henti-henti, ketika ia melewati sebuah rumah besar, keluarlah dari rumah tersebut puluhan anak-anak kecil yang menghampiri dagangannya, termasuk ada juga ibu-ibu dan bapak-bapak, ramai sekali orang membeli dagangannya, bahkan dia diberi uang merah ratusan ribu, bahkan ada diantara mereka yang tidak mau dikembalikan, katanya uangnya ambil saja buat jajan istri.

Tentu saja si pedagang tahu wakwaw itu menjadi sangat gembira. Ia pulang ke rumah dengan wajah ceria, dengan banyak hayalan bahwa uangnya akan ia belanjakan kebutuhan rumah, beli kasur beli sofa gelang kalung emas dan barang-barang mewah untuk istrinya.

Setelah ia sampai rumah, ia mengambil sebuah tas yang berisi uang hasil jerih payahnya tersebut, dan ketika ia mengambil semua kertas yang ia anggap uang, apa yang terjadi? Ternyata kertas itu bukanlah uang melainkan DAUN-DAUN kering yang begitu banyak. Kontan saja ia menjerit sejadi-jadinya.

Teman saya yang menceritakan kejadian tersebut menjadi penasaran, benarkah apa yang di dengarnya? Apakah ini sebuah penipuan? Karna di bebani rasa kasihan, apalagi mereka bertetangga dan sudah sangat dekat sekali, teman saya langsung mengajak si pedagang tahu bulat tersebut mencari dimana rumah besar yang kata dia banyak orang-orang membeli dagangannya.

Dengan berlari cepat mengendarai sepeda motor mereka segera pergi ke kampung yang dituju, dan apa yang terjadi? Ketika mereka tiba di lokasi, ternyata bukan rumah mewah dan besar yang dilihat, melainkan… KUBURAN?!

Melihat gelagat aneh tersebut, teman saya langsung ngacir terbirit birit. Si pedagang tahu bulat juga langsung mabur tidak mau lagi mengungkit-ngungkit semua cerita yang dialaminya.

Benarlah kata sesepuh di kampung saya, orang-orang tua bilang kalau magrib jangan suka keluyuran, hentikan semua kegiatan, termasuk perniagaan, sangat berbahaya kata mereka, salah satu bahayanya seperti kejadian yang dialami si pedagang tahu bulat wakwaw tersebut yang rugi habis-habisan gara-gara di tipu setan, gara-gara tidak ke mesjid melaksanakan solat magrib malah berdagang teriak-teriak Tahu bulat wakwaw tahu bulat wakwaw di goreng dadakan liamaratusan. Bukannya mendapat uang malah dapat dedaunan. apes nian nasibmu pak.

Semoga kisah ini memberi arti dan pelajaran.

November 7, 2017

5 tips Meningkatkan Trafik Pengunjung Blog / Website


1. Menulis isi artikel sebanyak mungkin

Konten/artikel adalah hal utama dan paling mendasar, artikel ibarat jantung dalam tubuh manusia. Tentunya lebih banyak artikel akan lebih baik, dengan konten yang lebih banyak, blog Anda akan sehat dan kuat untuk muncul dalam hasil pencarian dan menerima pengunjung organik lebih banyak.

Cobalah untuk menulis isi artikel sebanyak mungkin, untuk meningkatkan frekuensi posting, hal ini bisa sedikit membantu blog Anda agar terindeks lebih cepat oleh robot mesin pencari (Google, Yahoo dll) dan menjaga blog Anda selalu hidup.

Dalam kasus ini, jika Anda tidak dapat mempertahankan frekuensi yang stabil dalam memposting artikel, hendaknya Anda memiliki pilihan untuk mengundang para blogger untuk memposting tulisan di blog Anda atau mempekerjakan seorang penulis.

Berapa rata-rata karakter yang ditulis? minimal 3000 kata, ya, jika satu artikel mengandung 3000 kata biasanya akan lebih cepat terindexs Google ketimbang artikel yang isinya hanya 300 kata saja.

2. Selalu memberikan judul menarik untuk artikel Anda

Setelah Anda menulis artikel yang berkualitas, cobalah untuk membacanya kembali dengan cermat, perhatikan juga dalam membuat judul menarik, maksudnya judul yang paling umum, bukan judul yang dibuat-buat.

coba perhatikan, mana ada di halaman pertama Google judul tulisan isinya begini ‘wow Meikarta lebih dahsyat dari Jakarta’, atau judul tulisan ‘Gila, manusia Indonesia ini dapat duit Triliunan...’ dan judul bla bla bla yang dibuat-buat.

Perhatikan dua hal dalam memberikan judul, pertama menggunakan kata kunci yang paling dicari orang. Kedua membuatnya menarik dengan menggunakan judul yang membuat penasaran orang.

Setidaknya, ketika pembaca datang ke blog anda, mereka tidak hanya membaca satu artikel saja, tapi kalau bisa membaca lebih dari dua atau tiga artikel.

3. Menjaga Keunikan Blog Anda

Utamakan selalu keunikan blog, yakni blog yang berbeda dengan blog pada umumnya, Filosofinya begini, tubuh setiap manusia adalah sama, tetapi satu-satunya hal yang berbeda dari orang lain adalah cara Anda berpakaian, cara berpikir, cara berperilaku, cara menyampaikan pendapat dll.

Cobalah selalu untuk menawarkan konten/ artikel yang unik untuk pembaca setia Anda, dan mencoba untuk berada di daftar pertama dalam memperkenalkan hal-hal baru di dunia online. Jika Anda bisa berbagi hal yang sama seperti ribuan blogger lainnya, kemungkinan besar blog anda akan dibuang Google. pastinya pembaca akan menurun drastis.

4. Menulis Artikel Untuk Blog Orang Lain

Biasanya dalam setiap blog ada semacam “Post Tamu" dimana blog tersebut menerima kiriman tulisan dari orang lain, atau anda bisa nebeng di blog besar seperti Kompasiana atau Indonesiana, anda bisa menulis artikel bagus disana lalu mempromosikan bahwa anda adalah seorang penulis dari we we we blog anda.

Dalam dunia online, anda harus selalu bisa menunjukan kepada dunia, tentang eksistensi anda di dunia bloging. Anda bisa berbagi tips di komunitas atau forum-forum online dengan tetap ‘memperomosikan’ nama blog anda, saya tidak menyarankan untuk menulis komen di artikel orang lain atau menshare tulisan ke media social sebab hal tersebut akan mengurangi kadar ‘SEO’ blog anda. cobalah menulis di blog orang lain. Ini akan membantu anda dalam meningkatkan trafik blog.

Tentunya menjadi penulis tamu tidak boleh asal menulis, blog anda harus kompatibel, jika blog anda tentang bisnis, menulislah di blog orang lain yang temanya sama dengan tema bisnis.

5. Kirim blog Anda ke direktori online

Submit blog Anda ke direktori online, merupakan langkah baik untuk mengoptimasi mesin pencari, hal ini setidaknya bisa memberikan trafik bagus. contoh kasus ini seperti submit artikel di Google Web Master Tool.

Ada ribuan direktori online di luar sana, Anda hanya perlu mendaftar dan mengirimkan blog Anda.

November 3, 2017

Apa itu Taqlid ?


Versi bahasa, taqlid diartikan mengalungkan sesuatu. Sedangkan versi istilahnya taqlid diartikan mengikuti suatu pendapat tanpa mengetahui dasar-dasar pendapat tersebut.

Globalnya istilah taqlid dapat diterapkan dalam segala bidang meski bukan doktrin problematika agama. Seperti orang sakit yang mengikuti pendapat dokter untuk mimum obat. Namun, pada kenyataannya istilah taqlid lebih akrab diartikan mengikuti pendapat seorang ulama (mujtahid) dalam permasalahan agama tanpa harus mengetahui dasar (dalil) dan metodologi penggalian hukumnya (wajhu al-dilalah).

Dalam bertaqlid, seseorang tidak harus mengucapkan atau berniat taqlid kepada seorang imam. Setiap kali melakukan sesuatu dan terbersit dalam hatinya bahwa apa yang ia lakukan sesuai dengan pendapat seorang ulama, maka ia dikategorikan orang yang taqlid kepada ulama tersebut.

Hukum Taqlid

Umumnya, manusia di dunia ini terbagi menjadi dua kelompok, yakni orang pandai dan bodoh. Yang dimaksud orang pandai dalam diskursus pemahaman ijtihad dan taqlid adalah orang yang memiliki kemampuan menggali hukum dari al-Qur'an dan al-hadits (mujtahid). Sedangkan orang-orang bodoh (muqallid, awam) adalah mereka yang tidak memiliki kemampuan tersebut.

Hukum taqlid dalam problematika furu' ad-din (cabang agama) adalah wajib bagi selain para mujtahid, baik mereka yang masih awam atau yang sudah alim tapi belum mencapai derajat ijtihad. Sebab jika tidak taqlid, mereka tidak bisa mengetahui hukum agama sehingga tidak bisa melaksanakannya. Sedangkan dalam diskursus usul ad-din (tauhid; keyakinan), hukum taqlid menjadi obyek perselisihan para ulama.

Dalil kewajiban taqlid dijelaskan dalam firman Allah swt yang berbunyi:

"Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui." (QS. Al-Anbiya’; 7)

Sebagian pendapat berkomentar bahwa ayat di atas bisa dijadikan dalil kewajiban taqlid bagi orang Islam dalam hukum-hukum syari’at. Sebab ayat di atas diturunkan guna menyikapi orang-orang musyrik yang mendusatakan diutusnya Rasulullah saw. Mereka memprediksikan bahwa Allah tidak akan mengutus seorang Rasul dari jenis manusia, mereka mengatakan:  "Seandainya Tuhan kami menghendaki seorang utusan maka niscaya Ia akan menurunkan malaikat."

Memang benar esensi asbab an-nuzul (sebab diturunkannya) ayat di atas guna menyikapi prediksi orang-orang musyrik. Namun dalam kaidah ushul fiqh, dikatakan bahwa yang menjadi pertimbangan hukum dan menjadi titik tekan dalam sebuah ayat adalah keumuman (universal) lafadz ayat, bukan diprioritaskan pada latar belakang turunnya ayat. Kaidah tersebut berbunyi:

الْعِبْرَةُ بـِعُمُومِ اللَّفْظِ لاَ بِخُصُوصِ السَّبَبِ

"Yang menjadi pertimbangan adalah keumuman lafadz bukan sebab diturunkannya ayat."

Dengan demikian ayat di atas sebenarnya mengandung perintah kepada orang-orang muslim yang tidak memiliki pengetahuan terhadap masalah agama agar bertanya dan mengikuti pendapat orang-orang pandai di antara mereka.

Secara tekstual, ayat di atas memang berisi perintah untuk bertanya kepada orang-orang pandai mengenai dalil-dalil yang mendasari terciptanya hukum. Tidak ada informasi yang memerintahkan taqlid, sehingga ayat ini tidak bisa dijadikan tendensi bagi kewajiban taqlid. Namun sekali lagi pemahaman di atas kurang tepat, sebab jika diperhatikan lebih teliti, perintah dalam ayat tersebut termasuk perintah yang mutlak dan umum. Tidak ditemukan kekhususan perintah bertanya tentang dalil atau yang lain. Sehingga ayat tersebut bisa saja menjadi dalil kewajiban taqlid, pemahaman ayat di atas didukung pula oleh redaksi ayat;

"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar, dan mereka meyakini ayat-ayat kami." (QS. As-Sajdah; 24)

Abu As-Su’ud berkomentar, substansi ayat di atas menjelaskan tentang para imam yang memberi petunjuk kepada umat tentang hukum-hukum yang terkandung dalam al-Qur`an. Dengan demikian wajib bagi umat untuk mengikuti petunjuk yang mereka berikan.

Ditambah dengan pemahaman firman Allah swt yang berbunyi;
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa’; 59)

Redaksi kata ulil amri dalam ayat di atas memancing kontradiksi ideologi ulama dalam segi pentafsirannya. Kitab al-Khozin menyebutkan, Ibnu Abbas dan Jabir pernah berkomentar bahwa, arti kata ulil amri adalah para fuqaha’ dan ulama’ yang mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat. Sehingga ayat di atas dipahami bahwa orang islam wajib taat kepada apa yang diajarkan oleh para ulama dan fuqaha. Pendapat ini disokong oleh al-Hasan, ad-Dlahak dan Mujahid.

Ayat lain menyebutkan :

"Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya, (akan dapat) mengetahui dari mereka (Rasul dan ulil Amri)." (QS. An-Nisa’; 83)

Imam ar-Razi dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa ayat tersebut menjelaskan beberapa point. Pertama, dalam Islam terdapat hukum yang tidak bisa diketahui jika mengandalkan nash (al-Quran dan al-Hadits) namun dapat diketahui dengan istinbath (penggalian hukum). Kedua, istinbath termasuk hujjah. Ketiga, orang awam wajib taqlid kepada ulama’ mengenai ketentuan hukum persoalan yang terjadi.

Keberadaan taqlid sebagai kewajiban dapat dipertanggung jawabkan secara logika. Sebagaimana diketahui, setiap muslim mendapat tuntutan untuk menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan agama. Sementera tidak mungkin bagi seseorang melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan yang ia sendiri tidak tahu akan perintah dan larangan tersebut.

Namun jika setiap muslim dituntut untuk menggali hukum secara langsung dari al-Qur`an dan al-hadits, tentu mereka merasa kewalahan lantaran bahasa sastra al-Quran yang begitu tinggi dan kemampuan serta kesibukan mereka yang berbeda-beda. Logikanya, kemampuan presiden dalam mengatur negara tentu jauh berbeda dengan seorang penggembala kambing, kemampuan dokter dalam mengobati penyakit tentunya akan berbeda jauh dengan seorang petani. Begitu juga kemampuan para mujtahid dalam menggali hukum dari al-Qur`an dan hadits yang jauh lebih tinggi ketimbang para muqallid.

Oleh karenanya, orang-orang yang belum atau tidak memiliki kemampuan ijtihad diperbolehkan bahkan wajib taqlid kepada mereka yang lebih pandai. Yakni mereka yang memiliki kemampuan menggali hukum.

Secara   tegas  Al-Quran   mempublikasikan   agar   sebagian   muslim  -bukan semuanya- mau tidak mau harus menekuni ilmu agama agar disampaikan kepada mereka yang belum tahu. Allah swt berfirman:

"Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap komunitas di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. At- Taubah; 122)

Kewajiban taqlid ini ironisnya banyak disangkal oleh komunitas muslim yang seenak udel sendiri mengatasnamakan perkataan para imam mujtahid yang melarang taqlid. Mereka mereduksi komentar imam-imam madzhab sebagaimana berikut:

Imam Malik berkata: "Pendapat setiap orang tidak dapat diterima kecuali Rasulullah saw."

Imam Abu Hanifah berkata: "Haram bagi orang yang tidak mengetahui dalilku untuk menfatwakan pendapatku". Setiap kali memberikan fatwa kepada seseorang  Imam Abu Hanifah selalu mengatakan: "Ini adalah pendapat Abu Hanifah, pendapat yang terbaik menurutku. Maka barang siapa dapat memberikan fatwa yang lebih baik, itulah yang benar baginya."

Imam Syafi’i berkata: "Setiap hadits shahih adalah madzhabku." Beliau juga pernah berkata: "Ketika kalian melihat pendapatku tidak sesuai dengan sabda Rasulullah saw maka gunakanlah sabda Rasulullah dan tinggalkanlah pendapatku." Saat imam al-Muzani bertaqlid kepada Imam Syafi'i dalam suatu permasalahan agama, Imam Syafi'i berkata kepadanya: "Wahai Abi Ibrahim (al-Muzany) janganlah kamu taqlid kepadaku."

Imam Ahmad ibn Hanbal pernah berkata: "Kalian jangan taqlid kepadaku, Imam Malik, Imam al-Auza'i, Imam an-Nakha’i dan lainnya. Namun ambillah hukum-hukum dari mana mereka mengambilnya."

Berbagai komentar para imam madzhab di atas memang benar adanya. Namun tidak serta merta bisa digunakan sebagai hujjah melarang taqlid. Sebab larangan tersebut ditujukan kepada orang-orang yang telah memiliki kemampuan berijtihad seperti imam al-Muzani dan orang-orang yang setingkat dengannya. Bukan orang-orang macam kita yang tidak mampu menelaah dan menggali hukum dari al-Qur`an dan al-Hadits.


Syarat-Syarat Taqlid

Ada beberapa variabel syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi dalam bertaqlid. di antaranya:

Pertama, orang yang taqlid (muqallid) harus mengetahui syarat dan kewajiban yang telah ditentukan oleh muqallad (orang yang diikuti) setidaknya dalam satu paket permasalahan (qadliyah) yang dijadikan obyek taqlid. Seperti masalah wudlu`, shalat, puasa, dll.

Contohnya, seseorang taqlid kepada imam malik dalam hal tidak batalnya wudlu disebabkan bersentuhan kulit dengan lawan jenis harus tahu secara menyeluruh segala hal yang ditetapkan oleh imam malik dalam masalah wudlu`. Seperti wajibnya mengusap seluruh bagian kepala dengan merata, menggosok-gosok anggota tubuh saat dibasuh (dalku), dan wajibnya muwalah (terus-menerus; tidak memisah antara basuhan anggota tubuh dengan waktu yang lama).

Seseorang yang bertaqlid kepada imam syafi’i dalam problematika tidak wajib mengusap kepala secara merata saat berwudlu, harus mengetahui ketetapan madzhab Syafi’i bahwa bersentuhan kulit dengan lawan jenis merupakan gesekan problematika yang bisa membatalkan wudlu.

Kedua, taqlid tidak boleh dilakukan dalam persoalan yang sudah terjadi (taqlid ba’da al-‘amal) kecuali memenuhi beberapa syarat:

1. Tidak meyakini batalnya amal saat ia melakukannya,

2. Imam yang menjadi muqalladnya adalah imam yang menyetujui keabsahan taqlid ba'da al-'amal.

Contoh, seseorang yang memegang alat kelamin lalu melaksanakan shalat karena lupa atau tidak mengetahui hukum konsekwensi memegang alat kelamin, sementara ketidaktahuannya termasuk kebodohan yang dapat ditolerir (jahl ma'dzur). Maka dia diperbolehkan taqlid kepada Imam Abu Hanifah guna menggugurkan kewajiban qadla’.

Ketiga, muqallid tidak boleh seenaknya mengambil hal-hal yang mudah saja, karena akan menyebabkan ia terbebas dari beban hukum. Contoh, saat seseorang tidak menemukan air dan debu untuk bersuci ketika waktu shalat hampir habis. Ia hanya menemukan sebuah batu yang suci. Ia tidak bertayammum dengan batu itu karena satu alasan taqlid kepada Imam Syafi'i yang tidak membolehkan tayammum dengan batu. Namun ia juga tidak mengqadla'i shalat dengan alasan taqlid kepada Imam Malik yang berpendapat tidak wajib qadla bagi orang yang tidak menemukan air, debu, atau batu yang dapat dipergunakan untuk bersuci.

Keempat, muqallad (orang yang diikuti) haruslah seorang mujtahid, meski kapasitasnya sekedar mujtahid fatwa seperti Imam ar-Rafi’i, Imam an-Nawawi, Imam ar-Romli dan Imam Ibnu Hajar. Selama tidak ada asumtif bahwa pendapat imam-imam tersebut diprediksi sangat  lemah. Begitu pula tidak diperbolehkan taqlid kepada seorang imam dalam pendapat yang telah dicabut kembali, selama tidak ada ulama’ pengikut madzhabnya yang mendukung pendapat tersebut berdasarkan dalil yang ia kaji dari kaidah-kaidah dalam madzhab yang ia ikuti.

Kelima, tidak talfiq, dalam arti tidak mencampuradukkan antara dua pendapat atau lebih dalam satu qodliyah (paket permasalahan) yang dapat memunculkan satu bentuk amal yang tidak sah menurut kedua belah pihak yang ia ikuti. Contoh, dalam sub syarat ketiga, seseorang berwudlu dengan mengusap sebagian kepala karena taqlid kepada Imam Syafi’i. Kemudian ia bersentuhan kulit dengan lawan jenis dan melaksanakan shalat tanpa berwudlu lagi dengan alasan taqlid kepada Imam Malik dalam hal tidak batalnya wudlu sebab bersentuhan kulit dengan lawan jenis. yang demikian ini tidak diperbolehkan karena shalat yang ia lakukan menjadi batal menurut Imam Malik maupun menurut Imam Syafi’i. Menurut Imam Malik karena wudlunya tidak sah dengan hanya mengusap sebagian kepala saja. Sedangkan menurut Imam Syafi’i karena wudlunya telah batal sebab bersentuhan kulit dengan lawan jenis.

Tanggapan-Tanggapan


Tanggapan pertama tentang ayat:

”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.”  (QS. al-Isra`; 36)

Sebagian ulama berkomentar bahwa ayat di atas diasumsikan sebagai larangan untuk bertaqlid, sebab taqlid diartikan sebagai mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dalil-dalilnya.

Asumsi tersebut tidak bisa dibenarkan. Sebab, jika ayat di atas menunjukkan larangan taqlid, tentu ayat di atas dipahami pula sebagai petunjuk larangan berijtihad. Karena esensi ijtihad adalah berusaha menghasilkan sebuah praduga (dhann) terhadap konstruksi hukum. Oleh karena itu, maksud dari kata al-'ilm dalam ayat di atas mencakup kualitas pengetahuan secara yakin (al-'ilm) dan pengetahuan yang bersifat praduga (dhann).

Meski dalam sebagian firman Allah swt. Praduga dianggap suatu tindakan yang tercela, namun sebenarnya ada pula konstruksi dhan yang terpuji, salah satunya adalah dhann dalam ijtihad. Allah berfirman;

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan pra-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari pra-sangka itu dosa." (QS. Al-Hujurat; 12)

Membaca ayat di atas, dapat dipahami bahwa sebenarnya terdapat prasangka (dhan) yang bukan perbuatan dosa/tercela. Terbukti Allah menggunakan bahasa ba'dla al-dhann (sebagian pransangka).

Rasulullah bersabda dalam hadits qudsi;

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ

"Aku (Allah) sesuai prasangka hamba-Ku pada-Ku. Karena itu, berprasangkalah apa yang ia kehendaki." (HR. Bukhori)

Andaikan semua prasangka itu tercela, niscaya hukum-hukum agama akan terkesampingkan. Sebab, kebanyakan konsep hukum-hukum syari'at muncul dari kapasitas dhan.

Abi al-Fadhl bin Abdis Syakur, Op.Cit., (Surabaya: al-Hidayah), hlm.72 Sehingga dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat yang mencela dhan sebenarnya diarahkan pada dhan yang tidak memiliki dasar yang jelas dan dalil yang kuat.


Tanggapan kedua tentang ayat:

وَإِذا قيلَ لَهُم تَعالَوا إِلىٰ ما أَنزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسولِ قالوا حَسبُنا ما وَجَدنا عَلَيهِ آباءَنا ۚ أَوَلَو كانَ آباؤُهُم لا يَعلَمونَ شَيئًا وَلا يَهتَدونَ

”Apabila dikatakan kepada mereka,"Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". mereka menjawab, "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?”. (Al-Maidah; 104)

Berbagai komunitas menggunakan hadits ini sebagai dalil untuk melarang taqlid, sebab dalam ayat di atas dikatakan bahwa orang-orang yang mengikuti pendapat nenek moyang mereka dicela dan dicacimaki oleh Allah swt.

Enyahkan ideologi ambivalensi tersebut sebab substansi ayat yang dimaksud nenek moyang adalah orang-orang kafir yang tidak mengetahui agama dan petunjuk dari Allah swt, bukan para mujtahid islam yang notabane-nya manusia berpengetahuan agama.

Dalam bidang hadits, riwayat Imam Ahmad dari Imam Syafi'i dari Imam Malik dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Rasulullah saw disebut dengan silsilah adz-dzahab yang merupakan rentetan mata rantai hadits yang terkuat.



Apa Itu Ahlussunnah Wal Jamaah


Ahlussunnah Wal Jamaah versi bahasa, yang terangkai dari tiga kata; ahlu, as-sunnah, dan al-jamaah. Kata ahlu diartikan sebagai keluarga, komunitas, atau pengikut. Kata as-sunnah diartikan sebagai jalan, atau karakter. Sedang kata al-jamaah diartikan sebagai perkumpulan.

Versi istilah dari terma as-Sunnah bermakna segala sesuatu yang diajarkan Rasulullah saw baik berupa ucapan, tindakan, atau ketetapan (taqrir) beliau. Sedang kata al-Jamaah bermakna sesuatu yang telah disepakati komunitas sahabat nabi pada era Rasulullah saw dan pada era pemerintahan Khulafa` ar-Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali).

Dengan demikian, pengertian Ahlussunnah Wal Jamaah dapat diartikan sebagai komunitas orang-orang yang selalu berpedoman pada sunnah nabi Muhammad saw dan jalan para sahabat beliau baik diiteropong lewat dinamika akidah, agama, amal-amal lahiriah, atau akhlak hati.

Sejarah Lahirnya Ahlussunnah Wal jamaah 

Sejarah lahirnya Ahlussunnah Wal Jamaah sebagai ideologi agama sebenarnya telah muncul saat lahirnya Rasulullah saw. Sebab, jika menengok devinisinya, Aswaja diartikan sebagai ajaran agama islam yang masih orisinil.

Ironisnya, sejak era Rasulullah saw dan para sahabat, tatanan ajaran Aswaja belum terbukukan secara sempurna. Meski moralitas akidah para pemeluk islam saat itu sangat erat memegang teguh ajaran agama sehingga tidak khawatir akan adanya penyimpangan dan penyelewengan dari tuntunan Rasulullah.

Seiring berjalannya waktu, kemurnian agama islam acapkali mengalami perubahan. Muncul berbagai sengketa dan diskursus pemahaman baru dalam menafsirkan dalil-dalil al-Qur`an dan hadits Rasulullah saw.

Rasulullah jauh-jauh hari telah mempublikasikan bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan melebihi perpecahan umat Yahudi dan Nashrani yang berjumlah 71 dan 72.  Dari ketujuh puluh tiga pecahan islam itu hanya satu yang selamat masuk surga sedangkan yang lain mendekam di neraka. Rasulullah saw mengisyaratkan hal ini dengan hadits yang berbunyi:

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِى سُفْيَانَ أَنَّهُ قَامَ فِينَا فَقَالَ أَلاَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَامَ فِينَا فَقَالَ أَلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِى النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِى الْجَنَّةِ وَهِىَ الْجَمَاعَةُ

"Rasulullah saw berdiri di antara kami seraya bersabda: ”Ingatlah sesungguhnya golongan Ahli Kitab sebelum kalian semua telah terpecah menjadi tujuh puluh dua ajaran. Dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga ajaran, yang tujuh puluh dua akan masuk ke dalam neraka dan yang satu akan masuk ke surga, mereka (yang masuk surga) adalah kelompok al-Jamaah." (HR. Abu Dawud)

Setidaknya akhir periode pemerintahan khalifah Utsman ibn Affan adalah awal perselisihan itu dimulai, berlanjut pada pemerintahan Sayyidina ‘Ali dan terus memanas pada masa-masa berikutnya. Tercatat berbagai sekte bermunculan pada era tersebut, sebut saja Khawarij, Syi'ah, Mu'tazilah, dan lain-lain.

Seiring bermunculannya sekte-sekte baru, secara otomatis lahir pula istilah Ahlussunnah Wal Jamaah, energi power revolusioner dakwah bagi mereka yang masih memegang teguh ajaran Rasul dan para sahabatnya. Mereka inilah yang tetap teguh berdiri pada jalan kebenaran, tak terseret arus aliran sungai kecil yang memisahkan diri dari sumber utamanya.

Maka tidak heran jika Aswaja seringkali diartikan sebagai istilah yang lahir secara alami, tidak dibuat-buat. Istilah bagi mereka yang tidak goyah diterpa badai perpecahan dan perselisihan.  

Aswaja berdiri di tengah puluhan 'islam pecahan' yang terus berusaha melukai dinding pertahanan. Oleh karena itu, dirasa sangat perlu jika ajaran Aswaja dirumuskan dan diformulasikan dalam kodifikasi (pembukuan) yang sistematis, hal ini tidak lain agar kelak senantiasa menjadi pedoman bagi para pengikutnya, menjadi perisai dari hantaman sekte lain yang siap merobohkan kekokohan Aswaja.

Pelopor pembukuan akidah Aswaja adalah Syaikh Abu al-Hasan al-Asy’ari (260-324 H.) dan Syaikh Abu Mansur al-Maturidi (333 H), dua tokoh kharismatik ulama salaf ini yang kemudian menghasilkan kodifikasi metodologi akidah Aswaja yang selanjutnya dijadikan sebagai referensi utama umat islam karena ajaran yang diproduksi oleh keduanya sesuai dengan al-Qur`an dan as-Sunnah.

Syaikh Abu al-Hasan al-Asy’ari mendokumentasikan akidah Aswaja dalam berbagai kitab beliau, diantaranya; al-Luma' fi ar-Raddi 'Ala Ahli az-Zaighi Wa al-Bida'i, al-Ibanah 'An Ushul ad-Diyanah, dan Maqalat al-Islamiyyin. Sedangkan Syaikh Abu Mansur al-Maturidi mendokumentasikan akidah Aswaja dalam kitab karangannya antara lain; at-Tauhid, Ta`wilat Ahlissunnah, Bayan Wahmi al-Mu'tazilah, dan lain-lain.

Dua tokoh kharismatik ini menjadi pelopor akidah islam yang masih orisinil, maka tidak heran jika era tersebut dianggap sebagai tonggak lahirnya sistematika kredibilitas islam Aswaja. Meski dalam sejarahnya, Aswaja sebenarnya telah lahir jauh sebelum sekte-sekte aneh bermunculan.

Pondasi Ahlussunnah Wal Jamaah

Pokok Ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah selalu berpedoman kepada teladan Rasulullah saw dan para sahabat, dalam aspek keyakinan, amal-amal lahiriah, maupun akhlak hati. Tidak heran jika ketiga dimensi ini kemudian menjadi ajaran pokok agama islam. Sebagaimana isyarat dalam redaksi hadits riwayat Imam Muslim yang mengisahkan datangnya malaikat Jibril kepada Rasulullah saw untuk bertanya mengenai iman, islam dan ihsan.

Iman, islam, dan ihsan merupakan tiga energy super power  yang harus diyakini dan diamalkan seorang muslim secara universal. Ketiganya harus dijalankan secara seimbang dan menyeluruh agar tidak terjadi ketimpangan. Menurut Syaikh 'Izzuddin ibn 'Abdissalam, obyek ajaran iman adalah penataan hati, esensi islam diartikan sebagai penataan aspek lahiriyyah, sedangakan ihsan menata aspek ruhaniyyah.

Menengok historisnya, muncul pula berbagai disiplin ilmu yang serius membahas tiap-tiap aspek ajaran tersebut. Dimensi iman dipelajari dalam ilmu akidah (tauhid), islam diteliti dalam ilmu syari'at (fiqh), sedangkan ihsan dibahas dalam ilmu akhlak (tashawwuf).

Bidang Akidah

Dalam bidang akidah, ajaran aswaja mengikuti rumusan yang dikodifikasi oleh imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi. Dua tokoh ini benar-benar serius meneliti kesesuaian teologi (akidah) terhadap sumber-sumber pokoknya, yakni al-Qur`an, hadits, ijma', dan pendapat-pendapat salaf as-Shalihin. Mengembalikan islam kepada ruhnya, yakni ajaran Rasulullah dan para sahabat.

Prinsip pokok teologi Aswaja sebenarnya terletak pada prioritas terhadap dalil naqli (nash al-Qur`an dan hadits) dibandingkan dalil 'aqli (rasionalisme). Sebab, kebenaran dan kekuatan hujjah teks wahyu dari Allah swt tentu lebih tinggi dibandingkan otak manusia yang memiliki kemampuan intelektual terbatas.

Berbeda dengan berbagai sekte yang berani berspekulatif memposisikan akal melebihi dalil al-Qur`an dan Hadits. Lebih konyol lagi ada pula yang berani menginterpretasi dan menyalahkan teks-teks wahyu jika tidak sesuai dengan otak mereka.

Intisari prinsip-prinsip ajaran aswaja yang telah dirumuskan secara global terangkum dalam lima puluh akidah yang mencakup sifat wajib, muhal, sifat ja`iz bagi Allah swt dan para rasul. Sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab ulama klasik seperti kitab 'Aqidah al-'Awwam, Kifayah al-'Awwam, al-Jawahir al-Kalamiyyah dan lain sebagainya.

Bidang Syariah

Dalam bidang syari'ah (fiqh) doktrin Aswaja mengikuti metodologi pemikiran empat madzhab yakni madzhab Imam Syafi'i, Imam Maliki, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad ibn Hanbal.

Banyak sebenarnya para mujtahid yang membangun madzhab dalam bidang syariah. Namun yang menjadi pedoman komunitas Aswaja hanya empat madzhab di atas. Hal ini disebabkan hanya keempat madzhab inilah yang hasil ijtihadnya terkodifikasi secara sistematis. Proses transfer ilmu dari satu generasi ke generasi berikutnya juga terjaga dan berjalan secara sistematis sehingga tidak memungkinkan adanya penyimpangan dan penggubahan hukum.

Berbeda dengan madzhab-madzhab lain seperti madzhab Sufyan ats-Tsauri, al-Awza'i, dan Dawud adh-Dhahiri. Meski jargon madzhab mereka dipelopori ulama' agung, namun para pengikutnya kurang intensif dalam menjaga kemurnian ajaran madzhab. Lagi pula, proses transfer ilmunya kurang sistematis sehingga sangat dimungkinkan adanya penggubahan dalam rumusan-rumusan madzhab tersebut.  Bertendensi pada historis tersebut, maka tidak heran jika selain empat madzhab yang telah disebutkan tidak boleh diikuti.

Bidang Akhlak/ Tashawwuf

Tashawwuf atau yang biasa dikenal dengan akhlak, merupakan dimensi penting dalam islam, sebab misi diutusnya Rasulullah saw ke muka bumi tak lain guna menyempurnakan moralitas anak adam. Rasulullah saw bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang luhur." (HR. Baihaqi)

Rasulullah saw telah mengajarkan metodologi membentuk moralitas yang mulia, baik secara vertikal maupun horizontal, terkait akhlak manusia kepada Allah swt, kepada diri sendiri maupun kepada sesama makhluk. Beliau tak hanya memerintahkan disfungsi teori belaka namun juga realitas konkrit suri teladan umat. Semua akhlak yang diajarkan Rasulullah saw tak lain adalah moralitas yang bermuara pada al-Qur`an. Maka tidak heran jika saat Sayyidah 'Aisyah ditanya mengenai pribadi dan karakter Rasulullah saw, beliau dengan enteng menjawab bahwa akhlak Rasulullah adalah al-Qur`an. Beliau dimetaforkan (digambarkan) layaknya al-Qur`an berjalan.

Diteropong dari aspek akhlak (tashawwuf), komunitas Aswaja berpedoman pada konsep ajaran dua tokoh ulama klasik yakni Imam al-Junaid dan Imam al-Ghazali yang dengan luar biasa memformulasikan konsep tashawwuf sehingga validitas ajarannya sudah teruji, sama sekali tidak ditemukan dari ajaran mereka konsep yang kontradiksi dengan metodologi al-Qur`an ataupun as-Sunnah.

Banyak ulama mengklaim bahwa madzhab tashawwuf yang dirintis dua tokoh religius ini merupakan madzhab bersih yang dilandasi dalil-dalil kokoh. Kekaguman kepada dua tokoh ini salah satunya pernah diungkapkan oleh Syaikh Ibn as-Subuki dalam kitab Jam'u al-Jawami', Syaikh Jalal ad-Din al-Mahalli dalam kitab Syarh al-Mahalli, dan lain-lain.

Pernyataan kekaguman tersebut cukup variatif sebagai tendensi akurat bahwa ajaran tashawwuf yang diformulasikan  Imam al-Junaid dan Imam al-Ghazali merupakan ajaran yang benar-benar sesuai dengan kandungan implisit dalam al-Qur`an dan as-sunnah. Maka tidak heran jika madzhab tashawwuf yang mereka rintis ini kemudian banyak diikuti dan dijadikan pedoman pokok oleh komunitas Aswaja.

Aswaja, Kelompok Yang Selamat

Muatan implisit yang tersurat dalam redaksi hadits pada saat Rasulullah saw ditanya mengenai salah satu komunitas yang akan selamat, beliau menjawab; mereka adalah al–jamaah.

Dalam redaksi lain Rasulullah saw menegaskan bahwa komunitas  yang selamat adalah mereka yang mengikuti teladan Rasulullah saw dan para sahabat (Khulafa` ar-Rasyidin). Rasulullah bersabda:

وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَسَتـَفْتـَرِقُ أُمَّتِي عَلَي ثَلاَثِ وَسَبـْعِينَ مِلَّةً كُلُّهَا فِي النّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً قَالُوا مَنْ هِيَ ياَ رَسُولَ للهِ قَالَ ماَ أَنَاعَلَيْهِ وَأَصْحَابِي  

"Sesungguhnya Bani Israil telah terpecah menjadi tujuh puluh dua agama, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga agama. Seluruhnya masuk kedalam neraka, kecuali satu. Para sahabat bertanya, Siapa yang satu itu wahai Rasulullah? Rasul menjawab: Mereka adalah orang yang konsisten dengan ajaranku dan para sahabatku." (HR. at-Tirmidzi)

Dari penjelasan tentang pengertian Aswaja dan historis yang melatarbelakanginya, dapat ditarik kesimpulan bahwa golongan tersebut merupakan komunitas yang selamat. Aswaja adalah kelompok yang tetap konsisten (istiqomah) memegang ajaran Rasul dan para sahabat di saat berbagai aliran dan sekte-sekte lain yang destruktif ambivalensi (sesat) bermunculan.

Konklusi tersebut dibuktikan pula dengan metodologi prinsip ajaran Aswaja yang sesuai dengan al-Qur`an, Sunnah, dan  Khulafa` ar-Rasyidin. Maka tidak heran jika dominasi ulama banyak mengikuti ajaran dan prinsip-prinsip yang telah dirumuskan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi. Para ulama tersebut diantaranya adalah: Imam an-Nawawi, Ibn Hajar al-'Asqalani, Imam al-Qurthubi, Ibn Hajar al-Haitami, Zakariya al-Anshari dan sebagainya. Banyak juga dari kalangan ulama tashawwuf yang menjadi pengikut Asy'ariyyah, diantaranya adalah Abu al-Qasim Abdul Karim Ibn Hawazin al-Qusyairi, dan Imam al-Ghazali.

Bukti lain yang lebih menguatkan kesimpulan di atas adalah pernyataan para ulama mengenai keotentikan prinsip-prinsip al-Asy'ari dan al-Maturidi. Salah satunya adalah argumentatif (komentar) ulama sufi yang berjuluk Lisan al-'Alawiyyin (penyambung lidah para habaib), yakni al-Habib Abdullah ibn 'Alawi al-Haddad dalam syairnya berbunyi:

وَكُنْ أَشْعَرِيًّا فِي اعْتِقَادِكَ إِنـَّهُ   #   هُوَ الْمَنْهَلُ الصَّافِي عَنِ الزّيـْغِ وَالنُّكْرِ

"Jadilah kamu golongan Asy'ari dalam akidahmu, karena sesungguhnya madzhab Asy'ari merupakan jalan yang bersih dari segala penyelewengan dan kesesatan."

Sebelum mengungkapkan syair di atas, al-Habib Abdullah al-Haddad lebih dulu telah menjelaskan bahwa firqah an-najiyah (golongan yang selamat) yang dimaksud dalam hadits Rasulullah saw adalah komunitas yang populer dengan jargon Ahlussunnah Wal Jamaah. Mereka merupakan komunitas yang konsisten memegang teguh ajaran Rasulullah dan para sahabatnya.

Beliau menegaskan, jika diteropong lewat analisis hati yang jernih sesuai dengan kontekstualisasi al-Qur`an dan Sunnah Nabi, maka substansinya dapat ditegaskan bahwa golongan yang selamat itu merupakan komunitas yang menamakan dirinya dengan sebutan al-Asy'ariyah (pengikut Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari).

Dalam hemat beliau, akidah Asy'ariyyah merupakan teologi yang dianut oleh semua komunitas ulama shufi dan para habaib keturunan Rasulullah saw yang populer dengan jargon Ali Abi 'Alawy.




October 20, 2017

10 Fakta Menarik Tentang Negara Singapura


Singapura berasal dari bahasa Sansekerta simhapura, yang berarti Kota Singa.

Singapura didirikan pada tahun 1819, tetapi merdeka pada tahun 1965, ketika dipisahkan dari Malaysia.

Meskipun bahasa Inggris adalah bahasa resmi, banyak warga berbicara bahasa seperti bahasa Melayu, Mandarin dan Tamil.

Populasi adalah salah satu yang paling multikultural di dunia. Selain Malaysia, Singapura adalah rumah bagi banyak keturunan Cina, India, Indonesia, Eropa dan Arab.

Singapura memiliki kepadatan penduduk tertinggi di dunia dengan 6107 orang per kilometer persegi.

Pendapatan per kapita Singapura adalah 25 ribu dolar, delapan kali lebih tinggi dari Indonesia. 

Singapura termasuk 10 kota termahal di dunia dan ketiga di Asia - dibelakang Tokyo dan Osaka.

Iklim Singapura adalah khatulistiwa, sehingga panas dan lembab silih berganti hampir selalu ada setiap tahun.

Sebagian besar air yang dikonsumsi di Singapura berasal dari negara tetangganya, Malaysia. Bahkan, semua bahan baku (minyak, pasir dll) dan hampir semua makanan yang dikonsumsi oleh penduduk Singapura kebanyakan diimpor dari Malaysia.

Pornografi adalah hal tabu yang dilarang di Singapura. Wanita yang berpakaian telanjang di jalan-jalan umum hukumannya bisa di penjara oleh pemerintah setempat.

Termasuk larangan di Singapura adalah mengunyah permen karet di depan umum atau bermain karet di tanah, siapa saja yang menjual permen karet harus siap dihukum berat oleh pemerintah setempat.

Jika terlihat ada seorang supir yang mengendarai mobil sambil bermain hp, maka pemerintah setempat akan segera menangkapnya.

Bagi yang suka mencorat-coret tembok atau merusak bangunan umum, siap-siap dihukum 3 tahun penjara. 

Singapura adalah negara pertama yang bisa mengadakan Grand Prix Formula dalam 1 malam.

Singapura merayakan tahun baru dua kali setahun! Pada bulan Januari tanggal 01 merayakan Tahun Baru dengan kalender Gregorian, dan pada tanggal 15 Februari, merayakan dalam kalender Cina.

Ada lebih dari 26 000 perusahaan multinasional di Singapura, sehingga kota ini begitu dinamis, beragam dan sangat kompetitif.

Di samping Norwegia dan Finlandia, negara-kota Singapura memiliki salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia.

Dalam bendera Singapura, terdapat simbol bulan, ini mewakili Islam. Lima bintang mewakili cita-cita negara, kemajuan, perdamaian, keadilan, kesetaraan dan demokrasi.